Belakangan ini, fenomena banting setir ke pendidikan kepolisian yang dilakukan oleh para pesepak bola Indonesia tengah ramai diperbincangkan masyarakat. Salah satu pemain andalan Persija, Muhammad Ferrari, juga merupakan bagian dari fonomena tersebut.
Menanggapi persoalan tersebut, juru taktik Persija Jakarta, Thomas Dollan gkat bicara. Menurutnya, hal itu menjadi fenomena baru baginya. Sebab, pelatih asal Jerman itu mengaku tak pernah menemui fenomena semacam itu pada pesepak bola Eropa.
"Saya tidak pernah dalam situasi seperti ini, dan berbicara dengan seseorang yang pergi ke suatu tempat, dan ada pertandingan di akhir pekan. Anda bermain sepak bola, tidak pergi ke suatu tempat," ujar pelatih Macan Kemayoran itu dalam dikutip dari unggahan @liga1hub.
Pelatih 56 tahun itu mengaku sedih dengan keputusan Muhammad Ferrari meninggalkan klub yang dilatihnya tersebut.
"Tapi saya sebagai pelatih Persija, dan sungguh, tidak senang dengan situasi seperti ini," imbuhnya.
Meski begitu, Thomas Doll menghargai setiap keputusan anak didiknya, begitu pula Ferrari. Menurutnya, mereka yang lebih memahami kondisi dan situasi mereka dengan terjun sebagai pesepak bola sekaligus abdi negara, baik Polisi maupun TNI.
"Mungkin kalian lebih tahu daripada saya, betapa pentingnya seorang pemain masuk polisi atau tidak setelah kariernya," ujar Thomas Doll.
Unggahan tersebut pun sontak saja menuai berbagai komentar warganet. Tak sedikit yang memberikan pendapatnya mengenai komitmen seorang atlet sepak bola.
"Kita menginginkan pemain yang 100 persen fokus pada sepak bola. Kita punya impian Timnas selalu mentas di piala Asia dan suatu saat nanti main di Piala Dunia," ujar @kakuya1000.
Baca Juga: Persilakan Santri Nyaleg, Mardiono: PPP Hampir 60 Persen Keterwakilan Santri
“Dari sini kita tau kalo jadi atlet di negeri ini sudah tua nanti apa yang akan diharapkan,” tulis @adafauzi.
"Itu Namanya maruk coach," timpal @eldude,
"Inilah realita kehidupan di negara Indonesia coach," ungkap @pganwari.