Hari ini, Minggu (1/10/2023) tepat satu tahun Tragedi Kanjuruhan. Peristiwa kelam sepak bola Indonesia yang menewaskan 135 orang.
Mereka meregang nyawa usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya.
Salah satu korban meninggal dunia adalah Mitha Maulidia. Gadis berusia 26 tahun itu menghembuskan nafas terakhir di markas tim Singo Edan usai terjadinya kericuhan.
Siti Mardiyah (55), sang ibu hingga kini masih menyimpan duka mendalam kepergian putri tercinta. Pamit nonton Arema FC, Mitha Maulidia pulang tinggal nama.
Melansir ANTARA, Minggu (1/10/2023), sejumlah foto Mitha Maulidia, tergantung di rumah sederhana yang berada di Jalan Ternate, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, itu. Mitha dimakamkan pada Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kasin, yang tidak jauh dari kediaman itu.
"Anak saya berada di Tribun 13. Saya tidak bisa bicara kalau di Kanjuruhan. Perasaan sakit, mencoba membayangkan apa yang terjadi terhadap anak saya," kata Kholifah.
Rasa rindu seorang ibu pada anak perempuan satu-satunya itu, seringkali tidak terbendung. Derai air mata kini menghiasi hari-hari Kholifah, sapaan aktab Siti Ardiyah terlebih saat ia teringat sosok putri yang sehari-hari sering menghabiskan waktu bersama dirinya.
Dengan perasaan rindu yang membuncah, setiap hari, satu tahun terakhir, Kholifah menguatkan hati untuk berziarah ke makam anaknya yang kurang lebih berada 300 meter dari kediamannya. Dua kali dalam sehari, pagi dan sore, Kholifah mengobati rindu itu dengan menyisihkan waktu ke makam buah hatinya.
Hanya doa yang bisa ia panjatkan pada buah hati yang nyawanya terenggut pada peristiwa memilukan dalam sejarah sepak bola Indonesia. Sejarah yang akan selalu ia kenang, yang mengakibatkan hilangnya sosok berharga di dalam keluarga.
Baca Juga: Asus Zenfone 10, Spesifikasi dan Harga Resmi di Indonesia
Dalam wawancara dengan sejumlah media di kediamannya, seringkali tatapan mata Kholifah masih kosong. Air mata juga tidak henti keluar dari mata perempuan berusia 55 tahun itu. Berusaha untuk ikhlas atas kehilangan yang sangat mendadak dan tidak terduga.
Satu tahun sejak ia harus menerima kenyataan bahwa buah hatinya telah berpulang, banyak hal yang berubah dalam kehidupannya. Nafsu makan menghilang, seiring rasa rindu yang terus mengingatkan ia pada sosok gadis yang terakhir berusia 26 tahun itu.
Tidak jarang juga ia tiba-tiba berlari ke pusara anaknya, saat kerinduan itu tidak tertahankan. Ia hanya bisa menangis di samping batu nisan yang menjadi penanda terakhir di mana anak kesayangannya itu dimakamkan.
Sosok Mitha Maulidia, bukan hanya sebagai anak yang dekat dengan orang tuanya. Bagi Kholifah, Mitha merupakan sahabat, teman sekaligus tempat ia bercerita dan berkeluh kesah atas apa yang ia rasakan di dalam hidup.
Sosok itu kini hanya tinggal nama yang abadi dalam kenangan. Kepergian Mitha yang mendadak, menorehkan luka dalam dan membekas di hati Kholifah. Ia mencoba ikhlas, meskipun dengan berat hati.
Hidupnya tak lagi sama. Tidak ada lagi senyum dari anak gadis kesayangannya itu. Hanya lantunan doa yang sama setiap hari, yang ia panjatkan kepada Pencipta untuk mengampuni dosa anaknya dan menempatkan ia di surga.