Pernyataan akan cawe-cawe yang dilontarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menuai reaksi kontra dari kubu oposisi.
Untuk diketahui, terjadi pertemuan antara Presiden Jokowi dengan enam ketua umum partai politik koalisi pendukung pemerintah pada Selasa (2/5/2023) malam di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Usai pertemuan tersebut, Presiden Jokowi mengatakan dirinya akan cawe-cawe terkait pemilihan presiden dalam makna positif.
Salah satu pengamat politik yaitu Rocky Gerung menyoroti alasan Presiden Jokowi cawe-cawe yaitu agar tidak ada perpecahan bangsa.
Padahal menurutnya perpecahan bangsa itu terjadi justru di era Presiden Jokowi dengan adanya ketegangan rasial serta etnis dan politik ideologi.
“Sampai sekarang justru Jokowi bilang mau cawe-cawe karena dia takut ada perpecahan bangsa. Loh perpecahan bangsa itu terjadi justru di era Jokowi,” ujar Rocky, dikutip Suara Liberter dari kanal YouTube pribadi pada Rabu (7/6/2023).
Ahli ilmu filsafat ini kemudian menyoroti ‘prestasi’ Presiden Jokowi yang akan diteruskan oleh Ganjar Pranowo yaitu turunnya indeks demokrasi dan rasio utang yang berbahaya.
“Sebetulnya dari segi indeks demokrasi, kita drop. Dari segi rasio utang kita berbahaya. Nah semua itu yang mau diteruskan oleh Ganjar,” tutur Rocky.
Oleh karena itu, Rocky juga merasa heran ketika Sekjen PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengklaim bahwa Ganjar akan mengembalikan reputasi Indonesia di kancah internasional menggunakan power Soekarno.
Masalahnya, ia sendiri tidak pernah mendengar bagaimana Ganjar menjelaskan tentang pikiran-pikiran Bung Karno sementara yang dilakukan hanya mengutip pernyataannya.
“Saya juga heran Hasto bilang bahwa Ganjar akan mampu untuk mengembalikan reputasi Indonesia di skala internasional. Yaitu dengan menyebut dia akan memanfaatkan power dari Bung Karno. Nggak pernah kita tau bahwa Ganjar itu ngerti pikiran-pikiran Bung Karno,” jelas Rocky.