Pegiat media sosial Jhon Sitorus menyoroti 'imbas' usai Sekretaris Jenderal Partai NasDem Johnny G Plate yang ditangkap atas dugaan kasus korupsi terhadap gaya kampanye atau safari politik bacapres Anies Baswedan.
Hal tersebut ditanggapi Jhon Sitorus melalui akun Twitter pribadinya. Dalam cuitannya, Jhon Sitorus menegaskan bahwa usai Johnny G Plate selaku Menkominfo ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyediaan menara base transceiver station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung 1, 2, 3, 4, dan 5 Bakti Kementerian Kominfo tahun 2020-2022, berimbas safari politik Anies ikut berhenti.
"Sejak Johnny G Plate ditangkap karena megakorupsi BTS 8 T, aktivitas safari politik kubu Perlubahan juga berhenti," ungkap Jhon Sitorus dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @Miduk17, Senin (12/6).
Lanjut, Jhon Sitorus menilai bahwa gaya kampanye politik Anies seketika berubah usai Johnny G Plate ditangkap. Awalnya Anies diketahui safari politik memakai jet pribadi. Tapi hal itu dinilai Jhon Sitorus kini tidak ada.
"Tidak ada jet pribadi, tidak ada undian, tidak ada pengerahan massa, tidak ada jalan-jalan ke rumah-rumah ibadah," ujarnya.
Selain itu, Jhon Sitorus juga menilai bahwa kegiatan dalam safari politik Anies itu pun yang awalnya mewah, kini justru hanya duduk-duduk dengan dalih adu gagasan.
"Semua berubah. Kegiatannya hanya sekadar pidato-pidato, itupun blunder. Dari Hidup mewah hingga akhirnya cuma sekadar duduk dengan dalih adu gagasan," pungkasnya.
Sementara itu, diketahui bahwa Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan Plate sebagai tersangka usai pemeriksaan yang ketiga di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta, pada Rabu (17/5/2023).
Para tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
Terlepas dari itu, dalam tayangan YouTube IDN Times Selasa (16/5/2023) lalu, Anies mengungkap bahwa mayoritas dana safari itu dari Partai NasDem dan juga para relawan.
"Tergantung, mayoritas dari NasDem. Ketika trip itu dilakukan ke berbagai kota. Sebagian adalah kita sendiri. Yang kelilingnya itu darat, itu kita sendiri. Dan acara-acara yang dilakukan itu, itu adalah acara yang hampir semua sifatnya desentralistik," kata Anies.
"Jadi ketika saya menyebut nama NasDem itu bukan berarti NasDem Jakarta atau pusat saja. Tapi di daerah-daerah dan relawan-relawan daerah," tandasnya.