Mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu menodong sejumlah indikator pada Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan soal klaim perekonomian Indonesia di jalur yang benar.
Di sela Jakarta Geopolitical Forum ke-7 di Jakarta, Rabu (14/6/2023), Luhut mengatakan bahwa Indonesia telah menemukan pola untuk menjadi negara high income country.
"Sekarang kita sudah ketemu pattern (pola) untuk menjadi negara high income country, itu saya kira bisa kita lakukan, karena juga dari segi demografi bonus, kekayaan alam, downstream industry, digitalisasi, kemudian dana desa, itu ingredients daripada untuk membuat Indonesia hebat," kata Luhut.
Oleh karena itu, Luhut berharap siapa pun presidennya tak perlu mengusung tema perubahan melainkan cukup menyempurnakan dan mempercepat proses yang ada.
"Saya berharap siapapun presiden ke depan harus melakukan ini, tidak usah bicara perubahan lah, bagaimana menyempurnakan, mempercepat proses ini, supaya generasi kalian juga bisa nanti melihat itu, karena kalau tidak kita fokus pada pekerjaan ini, belok-belok, nanti tidak jalan," katanya.
Menanggapi hal tersebut, Said Didu merincin sepuluh indikator yang perlu dicek apakah sudah berada di jalur yang benar atau belum.
“Nih indikator sudah di jalur yg benar ?” tanya Said Didu, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @msaid-didu pada Jumat (16/6/2023).
“Utang meroket; rakyat terpecah belah; Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; oligarki; infrastruktur mangkrak; kemiskinan; ketidakadilan; penyerahan SDA ke Asing; rusaknya lembaga negara; lapangan makin sulit,” sambungnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membeberkan tiga negara berkembang yang memiliki potensi menjadi negara maju yaitu Indonesia, Tiongkok, dan India.
"Tiga ekonomi emerging country dan dunia, Indonesia, Tiongkok, dan India memiliki kinerja pertumbuhan ekonomi yang sangat baik," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Banggar DPR RI, Selasa (30/5).