Begini Caranya Teknologi 'Merusak' Anak

Esti Utami

Jum'at, 24 Oktober 2014 | 17:07 WIB
Begini Caranya Teknologi 'Merusak' Anak
Ilustrasi anak dan gadget (shutterstock)

Kita mungkin adalah orang tua yang membesarkan anak yang dapat dengan mudah memahami bagaimana menggunakan komputer dan tablet, sementara kita tergagap menguasainya. Apakah kondisi ini patut dibanggakan? Apakah memang perlu seorang anak dikenalkan pada gadget sejak usia dini?

Ini juga tidak berarti memberikan akses ke teknologi selalu berdampak buruk bagi anak-anak.  Sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa anak-anak sekarang tidak hidup dengan masa kecil yang normal. Kemajuan teknologi telah merampas masa kecil anak-anak.  

Teknologi dan anak-anak menjadi tak terpisahkan dan ini memicu berbagai komplikasi dalam kehidupan mereka. Sudah saatnya kita mengambil alih kehidupan generasi masa depan kita sebelum teknologi mengambil kendali dari mereka.  Dan berikut sejumlah hal yang mungkin terjadi ketika anak dibiarkan terlalu lekat dengan teknologi.  

Asosial.
Apakah si kecil menolak saat diajak pergi ke  pertemuan keluarga? Apakah dia lebih suka bermain dengan tablet atau komputer daripada berbaur dengan teman-teman dan keluarga? Jika demikian, si kecil bergerak menjauh dari masyarakat dan melingkar di kepompong sendiri. Perilaku ini terbukti berdampak buruk bagi masa depannya ketika dia harus berinteraksi dengan orang-orang. Untuk bertahan hidup, seseorang harus berinterkasi dengan orang lain, dan hal ini dapat dilakukan hanya ketika anak-anak terbiasa sejak kecil.

Tidak aktif.
Apa anak Anda suka permainan 'Clash of Clans' atau bermain basket? Apakah dia menghabiskan malam dengan menonton TV atau bermain dengan teman-temannya? Ketidakaktifan kini menjadi bagian kehidupan anak-anak. Kemajuan teknologi anak-anak kini lebih banyak menjadi kentang sofa. Hal ini dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, gangguan jantung.

Lebih sensitif.
Selalu tenggelam dalam permainan, atau tayangan televisi adalah fakta lain yang diakibatkan kemajuan teknologi. Ini akan membuat anak-anak egois dan kurang berempati. Sedikit perubahan situasi bisa menyebabkan 'guncangan besar'. Teknologi secara tak langsung membuat anak-anak mudah marah.

Kehidupan palsu.
Tayangan televisi lebih banyak menawarkan  dunia yang sangat berbeda dari kehidupan yang sebenarnya. Sayangnya, anak-anak telah mengidentifikasi kehidupan dari dunia maya ini. Ini adalah kehidupan palsu yang menguasai pikiran mereka dan ketika harus menghadapi realitas, akan timbul masalah.

Gangguan penglihatan.
Terus-menerus menatap sesuatu dalam jangkuan tangan, kadang kurang dari itu, menimbulkan tekanan besar pada mata. Ini adalah salah satu alasan mengapa makin banyak anak-anak memakai kacamata saat ini.
(boldsky.com)


Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 23:37 WIB

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 23:31 WIB

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 23:11 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Jawa Tengah | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

×