Kunjungi Angkasa Pura II, Menpar Dorong Tingkatkan Layanan

Madinah Suara.Com
Kamis, 08 September 2016 | 15:03 WIB
Kunjungi Angkasa Pura II, Menpar Dorong Tingkatkan Layanan
Menteri Pariwisata, Arief Yahya saat menghadiri peluncuran 'Geo Culture Trek' bersama alumni ITB angkatan'81 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/8/2016). (Foto: Dok. Kemenpar)

Kedua, harus ada implementasi dengan teknologi informasi (IT) di semua layanan publik. Dengan memanfaatkan digital, pasti tidak akan ada kebocoran di sana sini.

“Dulu, PT KAI di era Pak (Ignasius) Jonan juga menggunakan digital dan IT. Hasilnya langsung dobel, memudahkan semua pihak. Saya jamin, jika semua lini menggunakan IT, pengelolaan bandara juga akan double value,” jelasnya.

Ketiga, memperbaiki semua regulasi yang menghambat. Hal-hal yang membuat regulasi terhambat harus  segera dibedah, direvisi, dan diperbaiki. Tentu, dengan tetap memperhitungkan standar keamanan masyarakat.

“AP II jauh lebih beruntung dari industri transportasinya, airlines. Mereka lebih sulit mengejar revenue, karena harus menghitung dengan benar. AP II bisa mengkombinasikan service dan property, dan Anda semua tahu, bisnis property jauh lebih menghasilkan daripada jasa penerbangan,” tambah menpar.

Bisnis Transportasi dan Industri Bisa ‘Dikawinkan’

Dengan reputasi dan performance saat ini, Arief menilai, AP II akan dengan mudah menggabungkan dua bidang tersebut. Ia mencontohkan Hong Kong, yang mengawinkan industri transportasi dengan properti, sehingga menjadi kuat dan sustain (berkesinambungan).

“Karena itu, jangan takut untuk investasi di green field. Saran saya, AP II harus berpikir long term, hitung saja sebelum dan sesudah dibangun, nanti pertumbuhan value pasti akan mengagetkan. Padahal di bisnis tidak boleh kaget-kaget, semua bisa dihitung,” kata dia.

Kedua, kalau membuat perencanaan, jangan berpikir jangka pendek, tetapi harus jangka panjang. Arief melihat kapasitas dan traffic terminal penumpang bandara di AP II, yang 7 diantaranya dinilai sudah over capacity.

Bandara Soetta (CGK) 246 persen dari kapasitas. Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (PLM) 112,8 persen, Bandara Minangkabau (PDG) 105,6 persen, Bandara Husein Sastranegara (BDO) 131 persen, Bandara Supadio (PNK) sudah 113 persen, Bandara Depati Amir (PGK) malah 331 persen, dan Halim Perdanakusumah 161 persen.

Bandara Kualanamu (KNO) Medan pun sudah lampu kuning, yaitu 88,9 persen full capacity.

“Jumlah penumpang lebih banyak dari yang diperkirakan. Ini tidak boleh lagi. Misalnya, mau membangun (Bandara) Silangit, dengan terminal 100.000 orang per tahun. Pembangunan ini belum selesai, tapi jumlah penumpangnya sudah 180.000 orang per tahun. Artinya akan kerja dua kali dan mengganggu kenyamanan orang yang menggunakan jasa transportasi udara,” ujarnya.

Ketiga, jangan takut dengan perencanaan besar, karena proyeksi negara terhadap kunjungan wisman dan wisnus juga besar. Pengadaan keuangan bisa dilakukan dengan banyak cara.

“Bisa dengan obligasi, financing, partnership, dan lainnya,” lanjut menpar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI