alexametrics

Perempuan Terpaksa Berhenti Bekerja Untuk Asuh Anak?

RR Ukirsari Manggalani | Dinda Rachmawati
Perempuan Terpaksa Berhenti Bekerja Untuk Asuh Anak?
Ilustrasi ibu mengasuh anak [Shutterstock].

Pilihan tetap bekerja atau membesarkan anak menjadi dilema beberapa perempuan. Mereka undur diri dari kantor dengan pemahaman pribadi.

Suara.com - Setelah menjadi seorang ibu, banyak perempuan merasakan dilema: terus berkarir atau mengurus keluarga.  Sayangnya, di antara dua pilihan ini, banyak  yang mengambil pilihan kedua karena merasa terpaksa dan mendapatkan tekanan dari orang-orang di sekitar.

Padahal, menurut survei terhadap hampir 1.500 perempuan untuk buku Work PAUSE Thrive, hanya 11 persen perempuan yang berencana untuk mundur dari pekerjaan ketika mereka menjadi ibu.

Namun, justru yang benar-benar melakukannya berjumlah lebih banyak, hingga mencapai 72 persen. Penulis Lisen Sromberg menyimpulkan, ada sesuatu yang memaksa para perempuan ini keluar dari pekerjaan mereka.

Kenyataan ini juga dialami oleh Amy Mason, seorang ibu dari Washington D.C., Amerika Serikat (AS), yang bekerja di bidang ketenagakerjaan dan masalah upah selama lebih dari satu dekade.

Baca Juga: Dituduh Menipu, Istri Calon Wakil Wali Kota Bekasi Dipolisikan

“Saya adalah orang pertama di organisasi saya yang mengambil banyak cuti bersalin, dan orang pertama yang meminta jadwal kerja fleksibel,” kata Mason.

"Mereka memberikannya kepada saya, tetapi saya merasa seperti saya meminta kelonggaran. Saya tetap berada di tim kepemimpinan senior, tetapi tidak lagi berada di lingkaran dalam," ujar dia.

Merasa tak enak, Mason baru-baru ini melangkah keluar dari pekerjaannya. Dia berkata, "Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa pekerjaan itu harus dijalani dengan penuh waktu, Anda harus menjadi bagian dari semuanya. Dan saya tidak bisa melakukan itu."

Statistik menunjukkan dia tak sendirian, ada begitu banyak perempuan yang meninggalkan pekerjaan yang mereka sukai untuk pekerjaan yang kurang mereka inginkan, namun bisa menawarkan lebih banyak fleksibilitas. Lainnya, pada akhirnya menghentikan karir mereka sepenuhnya.

Menurut Departemen Tenaga Kerja AS, 43 persen perempuan dengan anak yang masih kecil memilih untuk tidak bekerja di luar rumah. Seiring dengan bertambahnya usia anak-anak mereka, banyak perempuan mulai mencari pekerjaan dan kembali ke dalam angkatan kerja, di mana 75 persen ibu yang memiliki anak-anak yang lebih besar kembali bekerja di luar rumah lagi.

Baca Juga: Cincin Rp 350 Juta Hilang, Inul Daratista Minta Tak Dibahas

Bagi banyak perempuan ini, kemampuan untuk tinggal di rumah ketika anak-anak masih kecil adalah pilihan dan hak istimewa. Tetapi, bagi beberapa orang seperti Mason, mungkin mereka merasa bahwa pilihan itu ada di tangan mereka.

Apa yang hilang saat perempuan memilih keluar kerja? Di laman berikut adalah jawabannya.

Perempuan-perempuan yang berbakat, mereka bekerja keras untuk mengembangkan ketrampilan mereka hingga berkontribusi secara profesional dengan signifikan. Mereka memiliki banyak hal yang ditawarkan ke tempat kerja, ekonomi dan bahkan dunia.

Tetapi karena tuntutan yang tak kenal lelah dari hari kerja, para ibu seperti Mason harus membuat keputusan sulit antara kehidupan profesional mereka atau keluarga mereka. Meninggalkan karir sepenuhnya atau mengambil pekerjaan yang tidak selaras dengan ketrampilan mereka adalah satu-satunya cara untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan prioritas lain mereka.

Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)

Foto: Ilustrasi, ibu dan bayi [Shutterstock].

Ibu-ibu lain memilih untuk tetap bekerja sesuai dengan ketrampilan profesional mereka, tetapi pada akhirnya mereka merasakan tarikan prioritas pribadi, ketika harus bekerja sesuai hari kerja dari pagi hingga malam hari dan akhir pekan, juga bentrokan dengan kebutuhan anak-anak mereka.

Di situlah, seorang ibu mesti memilih dan melakukan prioritas.