Perempuan Perkasa Ini Memberikan Pengadilan Bagi Pemerkosa

RR Ukirsari Manggalani

Minggu, 24 Juni 2018 | 20:29 WIB
Perempuan Perkasa Ini Memberikan Pengadilan Bagi Pemerkosa
Ilustrasi [Shutterstock].

Suara.com - Sebut saja polisi perempuan asal Brasil ini bernama Tábata. Ia mengalami pelecehan seksual oleh seseorang yang dikenal baik  keluarganya saat berusia sembilan sampai 11 tahun.

Saat mengadu kepada ayahnya, tiada pembelaan berarti ia terima. Sementara bercerita kepada sang ibu yang menderita bipolar juga tidak mungkin, karena khawatir atas kondisi kesehatannya.

****
Sebagai kanak-kanak, Tábata adalah sosok terbuka dan gemar bercerita. Namun kondisi pelecehan seksual yang dialaminya membuat ia terkungkung rasa takut sampai beranjak dewasa.

“Ada perasaan mendua: setiap kali ingin berhubungan dengan seseorang, selalu teringat akan serangan yang dilakukan orang itu. Saya malu akan tubuh sendiri. Dan ketika para perempuan lain berbagi cerita soal seks dan anak-anak, dunia ini serasa runtuh.”

Awal kejadian adalah pada 2002 saat Tábata berusia sembilan tahun, bertemu dengan sang pelaku. Teman kedua orangtuanya, seorang fotografer berusia 39 tahun, telah menikah, pencinta alam dan sangat ramah. Mudah bergaul dan cepat akrab dengan lingkungan baru. Terutama bila sudah bercakap-cakap soal travelling.

Dua keluarga ini kerap berkemah bersama-sama di musim panas, antara lain di dekat  perbatasan negara bagian Santa Catarina dan Rio Grande do Sul.

Serangan pertama terjadi saat lelaki teman keluarga ini menyentuhnya ketika mereka berenang, lantas mengarang alasan agar bisa mengajaknya bepergian mengambil air untuk kebutuhan kemah dan meraba-raba. Tábata berhasil melarikan diri.

Frekuensi pelecehan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Ia ingin bicara kepada ayahnya, tetapi dasar kanak-kanak, pikirannya dipenuhi perkiraan; jangan-jangan fotografer itu bakal dibunuh sang bapak.

Tetapi fotografer itu juga pantang menyerah untuk tidak melakukan kejahatan. Ia mempelajari kapan gadis itu ada di rumah sendiri, saat tidak ada seorang pun di sana maka memperkosanya, juga mengancam dan menampar.

baca juga

Ia mencoba bertahan, namun kondisi dalam keluarganya sendiri semakin runyam, karena ayah Tábata berkencan dengan istri si fotografer. Orangtuanya bercerai dan untuk pertama kali Tábata menceritakan deritanya kepada seorang sahabat.

Saat ia berusia 16 tahun, pada 2008, sang teman memberitahu ibunda Tábata, bahwa putrinya itu mengalami pelecehan, ia mengenal si fotografer, dan korbannya juga banyak. Serangan seksual yang dialaminya juga dilaporkan kepada kepolisian, namun ia tak kunjung dipanggil menjadi saksi dan kasusnya ditangguhkan.

Saat menghubungi kejaksaan, mereka menyatakan Tábata tak memiliki saksi pun bukti.

Di saat hampir bersamaan, seseorang menyerang si fotografer karena telah berbuat tak senonoh kepada putrinya. Hal itu membuat Tábata tergerak dan mendatangi ibu korban, untuk memintanya bersaksi di kantor jaksa penuntut umum.

Hal ini membawa si fotografer akhirnya disidangkan perdana pada 2013 atas kasus phaedophilia.

Di pengadilan, tentu saja fotografer itu mengelak telah melakukan pelecehan atas Tábata bahkan menuduhnya balik bahwa ia berbuat hal ini untuk membela ayahnya yang mengajak istrinya bermain serong.

Lelaki itu menjalani hukuman, tetapi bukan berdasar bukti kejadian Tábata.

Sementara waktu terus berjalan, ia meneruskan pendidikan di kepolisian. Di usia 24 tahun, Tábata menyelesaikan studinya di Akademi Polisi Sipil Santa Catarina.

"Saya fokus untuk melakukan pekerjaan saya, tidak bergantung pada yang telah terjadi di masa lalu. Saya berusaha mengeluarkan segalanya dari ingatan,” demikian ceritanya saat pertama kali memutuskan untuk berbagi kisah hidupnya dengan seorang jurnalis.

Toh ia mengakui, pilihan masuk akademi kepolisian adalah sebuah putusan besar. Bahwa ia ingin menangkap “semua pemerkosa”. Tidak sebatas mencegah, tetapi membuka kasus-kasus yang berkaitan dengan kejahatan seksual dalam kehidupan sehari-hari.

“Peran saya di kepolisian adalah untuk mempraktekkan profesi saya menurut hukum,” ujarnya.

Dan akhirnya, di laman berikut adalah kisahnya menangkap sang predator dengan kedua tangannya sendiri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ini Mengapa Perempuan Pekerja Harus Mendapat Perlindungan

Ini Mengapa Perempuan Pekerja Harus Mendapat Perlindungan

Lifestyle | Kamis, 14 Juni 2018 | 15:21 WIB

Fakta! Jatuh Cinta Bikin Perempuan Jadi Aneh, Ini Buktinya

Fakta! Jatuh Cinta Bikin Perempuan Jadi Aneh, Ini Buktinya

Lifestyle | Rabu, 13 Juni 2018 | 13:00 WIB

Sidney Jones: Perempuan Jadi Ustazah dan Pencari Dana Teroris

Sidney Jones: Perempuan Jadi Ustazah dan Pencari Dana Teroris

News | Rabu, 23 Mei 2018 | 04:15 WIB

Menteri Yohana Menyayangkan Perempuan dan Anak Terlibat Terorisme

Menteri Yohana Menyayangkan Perempuan dan Anak Terlibat Terorisme

News | Rabu, 16 Mei 2018 | 19:52 WIB

Pelaku Pemerkosaan Mayoritas dari Hubungan Sedarah

Pelaku Pemerkosaan Mayoritas dari Hubungan Sedarah

News | Selasa, 25 April 2017 | 07:22 WIB

Terkini

Promo HUT KAI, Tiket Kereta Api Cuma Bayar 81 Persen Mulai 28 September, Ini Syaratnya

Promo HUT KAI, Tiket Kereta Api Cuma Bayar 81 Persen Mulai 28 September, Ini Syaratnya

Sumut | Minggu, 27 September 2026 | 23:46 WIB

Cicilan KPR Bengkak? Saatnya Pindahkan ke BRI, Bunga Mulai 3,17%

Cicilan KPR Bengkak? Saatnya Pindahkan ke BRI, Bunga Mulai 3,17%

Bri | Minggu, 27 September 2026 | 22:31 WIB

Jokowi: Politik Itu Soal Momentum, Sekarang Momentum untuk Tunjukkan KTA PSI

Jokowi: Politik Itu Soal Momentum, Sekarang Momentum untuk Tunjukkan KTA PSI

Jabar | Minggu, 27 September 2026 | 22:22 WIB

Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024

Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024

Jogja | Minggu, 27 September 2026 | 22:10 WIB

Nonton Pestapora 2026 Bisa Sambil Investasi Bareng BRI, Begini Caranya!

Nonton Pestapora 2026 Bisa Sambil Investasi Bareng BRI, Begini Caranya!

Bri | Minggu, 27 September 2026 | 22:06 WIB

Daftar Keturunan Soekarno yang Masih Hidup Pasca Guruh Soekarnoputra Wafat

Daftar Keturunan Soekarno yang Masih Hidup Pasca Guruh Soekarnoputra Wafat

News | Minggu, 27 September 2026 | 21:40 WIB

3 Night Cream Lokal Terbaik untuk Kulit Kering Agar Bangun Tidur Lembap dan Kenyal

3 Night Cream Lokal Terbaik untuk Kulit Kering Agar Bangun Tidur Lembap dan Kenyal

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 21:34 WIB

3 Produk Air Mawar Murah di Alfamart dan Indomaret, Harga Mulai Rp13 Ribuan

3 Produk Air Mawar Murah di Alfamart dan Indomaret, Harga Mulai Rp13 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 27 September 2026 | 21:34 WIB

Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam

Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 21:05 WIB

Quality Time Keluarga Tak Harus Lama, yang Penting Hadir Sepenuhnya

Quality Time Keluarga Tak Harus Lama, yang Penting Hadir Sepenuhnya

Health | Minggu, 27 September 2026 | 21:00 WIB

×