Maknyus! Menikmati Ransiki 72 Persen, Cokelat Asli Papua yang Super Enak

M. Reza Sulaiman | Vessy Dwirika Frizona
Maknyus! Menikmati Ransiki 72 Persen, Cokelat Asli Papua yang Super Enak
Cokelat Ransiki 72 persen asal Papua punya rasa enak tak kalah dari cokelat impor. (Suara.com/Vessy Frizona)

Tak hanya pemandangan alam, Papua juga memiliki kekayaan kuliner cokelat yang luar biasa.

Suara.com - Maknyus! Menikmati Ransiki 72 Persen, Cokelat Asli Papua yang Super Enak

Tanah Papua tak hanya menyimpan kekayaan alam yang indah dipandang, tetapi juga menghasilkan kuliner yang dapat memanjakan lidah. Dari kawasan di distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat, hadirlah cokelat Ransiki 72 persen dengan kenikmatan rasa yang lumer di lidah.

Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani,SH, M.Si, mengatakan Papua Barat dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya, Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi, dan ini bisa dirasakan dalam cita rasa khas cokelat dari surga (chocolate of paradise) Ransiki 72 persen.

"Cokelat Ransiki adalah cokelat yang biji kokoanya berasal dari perkebunan seluas 1.600 hektar yang dikelola oleh Koperasi Petani Cokran Eiber Suth di Distrik Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat. Saat diolah menjadi cokelat ternyata menghasilkan rasa yang umami. Semua rasa cokelatnya lumer di lidah. Jadi tidak hanya dominan di salah satu area lidah saja, tapi semua. Itulah mengapa dikatakan umami," ungkap Mohamad Lakotani kepada Suara.com dalam peluncuran cokelat Ransiki 72 persen di Grand Indonesia, baru-baru ini.

Cokelat Ransiki 72 persen asal Papua punya rasa enak tak kalah dari cokelat impor. (Suara.com/Vessy Frizona)
Tissa Aunilla dan Gubernur Papua Barat Barat, Mohamad Lakotani bicara tentang Cokelat Ransiki 72 persen. (Suara.com/Vessy Frizona)

Ia menambahkan cokelat Ransiki rasanya sudah creamy tanpa dikasih susu. Rasanya sangat gurih, tidak terasa pahit-pahitnya. Jadi kalau ingin ditambahkan susu. Hanya perlu sedikit saja. Dari tanaman kakao di Ransiki ini berhasil mengciptakan cokelat dengan rasa premium.

"Maka, sesuai dengan rencana pemerintah daerah, Distrik Ransiki akan dikembangkan sebagai pusat pengembangan kakao berkelanjutan," sambungnya.

Di tempat yang sama, Tissa Aunilla, pendiri sekaligus pemilik Pipiltin Cocoa mengatakan, cokelat lokal sebetulnya mampu bersaing di pasar internasional.

Cokelat Ransiki 72 persen asal Papua punya rasa enak tak kalah dari cokelat impor. (Suara.com/Vessy Frizona)
Cokelat Ransiki 72 persen asal Papua punya rasa enak tak kalah dari cokelat impor. (Suara.com/Vessy Frizona)

Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil cokelat terbesar di dunia. Peluncuran cokelat ini merupakan angin segar bagi industri cokelat tanah air dalam upayanya mendukung produk asli Indonesia yang peduli kelestarian alam Indonesia dan kesejahteraan petani.

"Seiak awal Pipiltin Cocoa percaya sebelum melakukan penetrasi pasar dengan cokelat unik dari tiap daerah di Indonesia, Pipiltin Cocoa harus mengawali usahanya dengan nilai inklusif dan berkelanjutan," ujar Tissa.

Penting bagi Tissa sebagai pelaku usaha cokelat untuk bercita-cita memberi yang terbaik dari kakao berkualitas. Yakni rasa khas di tiap daerah, kualitas tinggi, keberlanjutan dan inklusif.

"Inklusif terhadap komunitas penghasil sebagai rantai pasok yang paling penting dibandingkan dengan pemangku kepentingan lain," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS