Mengenal Ekosistem Karst, Rumah Gagak Banggai dan 13 Spesies Terancam Punah

Ade Indra Kusuma

Rabu, 18 Desember 2019 | 11:42 WIB
Mengenal Ekosistem Karst, Rumah Gagak Banggai dan 13 Spesies Terancam Punah
Burung Gagak Banggai (Corvus unicolor) yang sempat dianggap telah punah, namun ditemukan kembali di habitatnya di pulau Peling, Banggai Kepulauan Sulteng - VOAIndonesia (Foto: Riza Marlon/Burung Indonesia)
Lanskap desa Balayon di kecamatan Liang, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Indonesia dengan latar hutan pegunungan di ekosistem karst - VOAIndonesia (Foto: Ichonk/ Perkumpulan Salanggar)
Lanskap desa Balayon di kecamatan Liang, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Indonesia dengan latar hutan pegunungan di ekosistem karst - VOAIndonesia (Foto: Ichonk/ Perkumpulan Salanggar)

Gagak Banggai berukuran sedang dengan panjang 39 cm dan benar-benar hitam dengan iris mata yang gelap dan ekor pendek. Jejak keberadaan gagak banggai sebelumnya hanya diketahui melalui spesimen jenis burung itu yang tersimpan di museum alam Amerika di New York. Badan Konservasi Dunia (IUCN) merubah status burung gagak banggai dari mungkin telah punah menjadi kritis pada tahun 2007.

“Satwa endemik Banggai Kepulauan yaitu gagak banggai yang ada di pulau Peling ini yang dinyatakan telah punah, ternyata masih ada keberadaannya,” kata Ferdy Salamat seperti mengutip VOAIndonesia beberapa waktu lalu.

Ke-13 spesies endemik yang terancam punah meliputi empat spesies burung, empat species mamalia, satu species herbatofauna, satu spesies kupu kupu dan tiga species tumbuhan. Selain Gagak banggai, juga terdapat Tarsius pelingenses dan Celepuk peleng yang terancam karena habitat aslinya kian menyusut dan populasinya berkurang karena maraknya tindakan perburuan.

Terdiri atas 229 pulau, kabupaten Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah merupakan kawasan yang 97 persennya (232.843 hektare) adalah ekosistem karst.

Dalam banyak literatur, karst diartikan sebagai bentang alam khas dengan bentuk hamparan atau bukit batuan gamping yang dicirikan oleh drainase permukaan yang langka. Pada bagian atas yang sebagian besar telah mengalami pelapukan (solum) terdapat tanah yang tipis dan hanya setempat-setempat.

Melalui perda itu, pemerintah setempat berupaya mencegah berlanjutnya kerusakan hutan akibat pembukaan lahan. Rata-rata setiap tahun lima ribu hektar hutan rusak akibat pembukaan lahan. Selain mengancam habitat satwa endemik, kerusakan hutan dalam enam tahun terakhir menyebabkan keberadaan mata-mata air debit-nya semakin mengecil.

“Itu tutupan lahannya agak mengkhawatirkan, itu kurang lebih sekitar lima ribu hektar setiap tahun yang hilang”ungkap Ferdy Salamat.

Ferdy menambahkan peraturan daerah itu juga bertujuan untuk menyiapkankelembagaan di 141 desa untuk mengelola ekowisata dan ketahanan pangan.

Model pengelolaan ditingkat tapak mengadopsi pendekatan program kemitraan wallacea di desa Balayon dan Boyomoute, di mana melalui program konservasi keragaman hayati yang diinisiasi oleh Burung Indonesia dengan mitra lokalnya Perkumpulan Salanggar yang berhasil menyusun tata guna lahan desa bersama masyarakat.

baca juga

Andi Faisal Alwi, Sulawesi Program Officer dari Burung Indonesia mengatakan tata guna lahan di kedua desa disusun berdasarkan fungsi dan peruntukan lahan melibatkan masyarakat dan pemerintah desa. Pewilayahan bentang alam di desa-desa tersebut dibagi dalam tiga zona, yaitu zona lindung desa yang merupakan daerah tangkapan air dan habitat spesies penting. Sedangkan area pertanian/perkebunan ditetapkan sebagai zona produksi dan area pemukiman sebagai zona non-produksi.

Masyarakat di kedua desa itu juga bersepakat mengubah pola pertanian monoculture yang sebelumnya membutuhkan pembukaan lahan, menjadi model agroforestri dan permaculture.

“Sehingga ketika pendekatan pemodelan permaculture ini berhasil petani kemudian mulai berkurang tergantung pada upaya-upaya memperluas lahan karena melihat wilayah pekarangan mereka sudah cukup memadai untuk dikelolah,” jelas Andi.

Andi mengatakan keberadaan tanah di ekosistem karst yang memiliki ketebalan yang tipis, membuat kegiatan pertanian model monokultur untuk tanaman palawija, tidak dapat dilakukan dalam waktu yang lama, akibatnya petani akan membuka lahan baru di kawasan hutan. Pembukaan lahan dalam waktu yang lama berdampak pada berkurangnya sumber mata air tawar yang mengering atau debitnya berkurang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Punya Cita Rasa Lezat, Ternyata 4 Kuliner Indonesia Ini Nyaris Punah

Punya Cita Rasa Lezat, Ternyata 4 Kuliner Indonesia Ini Nyaris Punah

Lifestyle | Senin, 30 September 2019 | 14:57 WIB

Badak Sumatra Jantan Terakhir di Malaysia Mati, Tersisa di Indonesia

Badak Sumatra Jantan Terakhir di Malaysia Mati, Tersisa di Indonesia

Tekno | Selasa, 28 Mei 2019 | 01:05 WIB

Gawat, Australia Nyatakan Koala Sedang Menuju Kepunahan

Gawat, Australia Nyatakan Koala Sedang Menuju Kepunahan

Lifestyle | Jum'at, 17 Mei 2019 | 15:36 WIB

Terkini

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:57 WIB

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:45 WIB

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

News | Rabu, 30 September 2026 | 22:15 WIB

×