Jalan-Jalannya Libur Dulu, Ya... Saatnya Kamu Traveling dengan Hati

Vania Rossa
Jalan-Jalannya Libur Dulu, Ya... Saatnya Kamu Traveling dengan Hati
Ilustrasi traveling. (Pixabay/Rawpixel)

Jangankan jalan-jalan liburan, sekadar berjumpa teman atau kerabat saja kini sebaiknya tak kita lakukan.

Suara.com - Masih ingatkah jalan-jalan terakhirmu di Nusantara? Kemana kamu melangkah? Bali, Yogyakarta, Labuan Bajo, Papua, Ambon, Aceh, atau kemana? Indah pastinya. Itulah Indonesia!

Rasanya sudah lama, ya. Sekarang kondisinya berbeda. Jangankan jalan-jalan menjelajah Nusantara, sekadar berjumpa teman atau kerabat saja kini rasanya menjadi sesuatu yang mewah.

Dan kini saatnya kita mengenang kembali, bagian Indonesia mana saja yang sudah pernah kita singgahi dan pernah kita datangi? Apa saja oleh-oleh yang pernah kita beli untuk teman dan untuk orang-orang tersayang? Apa saja suvenir yang masih terpajang di rumah, menghias dinding kamar, atau dipajang di atas meja kerja?

Apakah semua itu masih ada? Apakah kenangan itu masih lekat?

Sahabat, yakinlah kita akan kembali ke sana, menyusuri kenangan bersama orang-orang terdekat, teman, sahabat, dan saudara. Tapi sekarang, saatnya kita traveling bersama hati, mempertajam solidaritas dan mengasah kepekaan kemanusiaan.

Sahabat, di sudut Nusantara sana, masih ada kenangan kita, masih ada jejak kaki kita, masih tertinggal separuh hati di tempat yang kita datangi, entah di Kuta, di Mangunan Negri di Atas Awan, di Mandalika, di Labuan Bajo nan memesona, di Lodge Maribaya, atau di Tomohon.

Masih terasa lezatnya kuliner nusantara, gudeg, mi ongklok, ikan Mak Beng, ayam Betutu, ikan di seputaran Pantai Losari, dan bebek Sanjay di Madura. Masih terbayang kita menyesal saat itu tidak beli kain-kain batik indah di Trusmi, songket di Padang, kerajinan perak Kotagede, atau sekedar gantungan kunci bertuliskan Laskar Pelangi.

Mbok Tumirah, Pembatik dari Madura. (Pigijo)
Mbok Tumirah, Pembatik dari Madura. (Pigijo)

Masih adakah mereka disana? Masih adakah para penjaja makanan dan para penjual oleh-oleh yang berteriak menawarkan jualannya ke para wisatawan? Masih bertahankah para pengrajin cendera mata itu?

Gusti mboten sare. Tuhan tidak tidur. Rezeki tidak pernah salah. Rezeki tidak pernah tertukar. Tuhan Yang Maha Baik mengirimkan banyak ‘malaikatnya’. Tuhan mengirimkan kita!

Saatnya kita ‘membayar utang’ pada kenyamanan yang diberikan perjalanan. Kepada para pembuat makanan enak, kepada para pembuat cendera mata, kepada para pengrajin yang menghias dinding rumah kita.

Banyak yang bisa kita perbuat. Mulai dari hal kecil, mulai dari diri kita, dan mulai dari sekarang. Kalaupun itu hanya sekali, bisa jadi itu adalah hari ini!

Dalam pandemic Covid-19, Pigijo berkomitmen untuk tetap membantu pariwisata Indonesia. Kami mengumpulkan para pengrajin lokal, untuk membantu menjualkan hasil karya mereka, berupa suvenir, kerajinan, dan oleh-oleh. Saatnya kita melakukan perjalanan menjemput kenangan, untuk suatu saat kita kembali datang.

Beberapa pengrajin dan pemilik usaha lokal telah memberikan beberapa produk pada kami. Dari Aceh ada kain tenun, kopi, dan kerajinan tangan. Ada kain tenun dari Lombok, wedang uwuh dari Jogja, dan keripik pisang dari Lampung. Masih menanti banyak pengrajin dan pengusaha lokal untuk memberikan list produknya.

Komitmen kami, tidak mengambil untung dari setiap produk yang dijual. Komitmen kami, menyisihkan setiap Rp 1000 dari setiap produk yang dibeli, untuk mereka yang berada di garda depan, dokter dan tenaga kesehatan. Serta untuk mereka yang membutuhkan, para pekerja harian, dan mereka yang hidup dalam kondisi marginal.

Sahabat, mari ulurkan tangan untuk garda depan pariwisata. Ijinkan mereka tersenyum saat menyambut kita datang, saat wabah sudah sirna. Bila saat ini belum ada kepastian, minimal kita genggam sebuah keyakinan.

Time to travel with heart. Saatnya melakukan perjalanan mengajak hati kita.

If we can’t go outside, go inside!

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS