Barito Utara Pakai Disinfektan Ramah Lingkungan, Bahan Utamanya Cuka Kayu

Risna Halidi

Selasa, 07 April 2020 | 15:25 WIB
Barito Utara Pakai Disinfektan Ramah Lingkungan, Bahan Utamanya Cuka Kayu
Disinfektan Ramah Lingkungan (Antara)

Suara.com - Kantor Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah membuat bahan disinfektan herbal yang berasal dari pohon bambu untuk mengganti bahan dari cairan kimia guna mengantisipasi penyebaran virus corona Covid-19.

"Disinfektan ramah lingkungan yang diberi nama cairan cuka kayu ini aman bagi manusia dan lainnya, apalagi bahan bakunya banyak tumbuh di daerah ini," kata Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IV Muara Teweh, Andreas Ero, Selasa (7/4/2020) seperti yang Suara.com lansir dari Antara.

Menurut Andreas, dalam pengolahan disinfektan herbal ini pihaknya bekerja sama dengan Kantor Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas selaku pembimbing praktek pembuatan disinfektan cairan cuka kayu berbahan baku bambu.

Proses pembuatan cuka kayu ini, kata dia, tergolong mudah karena bahan baku yang dibutuhkan banyak tumbuh di sekitar Kantor Daops Manggala Agni Muara Teweh.

"Diharapkan nantinya hasil pembuatan cuka kayu ini dapat dipergunakan untuk upaya pencegahan dengan melakukan penyemprotan desinfektan pada sarana prasarana gedung, kantor fasilitas publik dan tempat masyarakat lainnya, serta dengan menerapkan budaya hidup bersih, dan menjaga lingkungan sekitar," kata Andreas.

Ilustrasi penyemprotan disinfektan. (Shutterstock)
Ilustrasi penyemprotan disinfektan. (Shutterstock)

Sementara Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan II Kapuas Aswaludin menjelaskan pembuatan disinfektan berbahan herbal ini berdasarkan dari Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berhasil memproduksi disinfektan dari cuka kayu dan bambu (asap cair) sebagai antisipasi penyebaran Covis-19.

Awalnya, pengolahan disinfektan herbal ini hanya di Daops Kapuas. "Setelah berhasil, kami melakukan pelatihan kepada petugas Manggala Agni Muara Teweh ini untuk membuat cairan cuka kayu ini," kata dia.

Aswaludin mengatakan, dari hasil Penelitian dan Pengembangan Pusat Litbang Hasil Hutan (P3HH) ini juga diproduksi hand sanitizer dengan formula asap cair (cuka kayu)

Hasil pengujian asap cair kayu dan bambu terhadap kuman dari eksperimen yang dilakukan, cukup hanya dengan 1 persen cuka kayu sudah efektif dilakukan Prof Gustan Pari peneliti P3HH BLI, beberapa waktu lalu.

baca juga

Pengujian dilakukan Prof Gustan dilakukan bersama Ratih Damayanti dan tim yakni dengan menguji toksisitas asap cair kayu dan bambu sebagai disinfektan.

Riset ini menggunakan mikroorganisme bakteri yang terdapat pada telapak tangan dan udara di Laboratorium Mikrobiologi Hutan-Pusat Litbang Hutan, Bogor.

Hasilnya, asap cair kayu dan bambu dengan konsentrasi 1 persen memiliki kemampuan lebih baik dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme dibandingkan etanol (alkohol) 70 persen, yang selama ini sering dijadikan bahan dasar disinfektan.

"Kita harapkan melalui disinfektan herbal ini selain membasmi virus bakteri di sekeliling kita maupun penyakit dari tanaman," ujarnya.

Proses pengolahan cairan cuka kayu itu menggunakan tungku yang atasnya diletakan drum sebagai tempat mengolah bambu yang dipotong kecil-kecil yang dibakar selama delapan jam, kemudian proses pembakaran yang apinya selalu dijaga agar tetap menyala ini mengeluarkan asap yang keluar dari potongan bambu ukuran sekitar empat meter lebih.

Setelah proses pembakaran berjalan pada menit ke-47 pertama sudah menghasilkan cairan cuka kayu yang keluar dari selang plastik kecil sekitar 1,5 liter kemudian ditampung ke dalam botol misalnya botol air mineral.

Awalnya cairan itu berwarna kuning kecoklatan dan proses terus berjalan hingga cairan terlihat semakin gelap dan pekat. Namun semua cairan itu tetap bermanfaat.

"Proses pengolahan selama delapan jam itu dapat menghasilkan cairan cuka kayu sebanyak 12 liter. Untuk bahan disinfektan dengan ukuran air sebanyak 10 liter cukup dicampur cairan cuka kayu sekitar 100 mililiter. Jadi kalau kita menggunakan alat penyemprot hama jenis Solo yang berkapasitas 15 liter cukup dicampur dengan cairan cuka air 150 ml," jelas Aswaludin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peneliti UGM Rekomendasikan Beberapa Produk Disinfektan, Apa Saja?

Peneliti UGM Rekomendasikan Beberapa Produk Disinfektan, Apa Saja?

Health | Senin, 06 April 2020 | 20:56 WIB

Disinfektan Tak Boleh Disemprot ke Tubuh Manusia, Bisa Picu Kanker!

Disinfektan Tak Boleh Disemprot ke Tubuh Manusia, Bisa Picu Kanker!

Health | Senin, 06 April 2020 | 19:50 WIB

Atasi Corona, GT Radial dan Speedwork Buat Program Ganti Ban Tanpa Kontak

Atasi Corona, GT Radial dan Speedwork Buat Program Ganti Ban Tanpa Kontak

Otomotif | Senin, 06 April 2020 | 18:00 WIB

Terkini

Belum Dipublikasi, Dony Oskaria Ungkap Kendala Laporan Keuangan Danantara

Belum Dipublikasi, Dony Oskaria Ungkap Kendala Laporan Keuangan Danantara

Bisnis | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 13:03 WIB

Staf KPK Pakai Fitur Chat 'Auto-Delete' ke Ayah Demi Bocorkan Kasus Pemalang

Staf KPK Pakai Fitur Chat 'Auto-Delete' ke Ayah Demi Bocorkan Kasus Pemalang

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 13:03 WIB

Review Welcome to Samdal-ri: Saat Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya

Review Welcome to Samdal-ri: Saat Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 13:00 WIB

7 Dokumen Penting saat Transaksi Jual Beli Mobil Bekas, Wajib Diperiksa sebelum Serahkan Uang

7 Dokumen Penting saat Transaksi Jual Beli Mobil Bekas, Wajib Diperiksa sebelum Serahkan Uang

Otomotif | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah

Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah

Tekno | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:56 WIB

High School Queen Konfirmasi Pemeran Utama, Premis Segar Jadi Daya Tarik?

High School Queen Konfirmasi Pemeran Utama, Premis Segar Jadi Daya Tarik?

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:50 WIB

Cushion OMG Berapa Gram? Ini Isi Bersih, Harga, dan Perbedaan 2 Variannya

Cushion OMG Berapa Gram? Ini Isi Bersih, Harga, dan Perbedaan 2 Variannya

Lifestyle | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:43 WIB

4 Parfum Aroma Floral Woody untuk Wanita Karier, Elegan dan Profesional Sepanjang Hari

4 Parfum Aroma Floral Woody untuk Wanita Karier, Elegan dan Profesional Sepanjang Hari

Lifestyle | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:40 WIB

Hidup di Layar: Mengapa Kita Cepat Lelah di Era yang Serba Mudah?

Hidup di Layar: Mengapa Kita Cepat Lelah di Era yang Serba Mudah?

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Ungkap Penyebab Kematian Sutrimo, Polisi Buka Peluang Lakukan Ekshumasi

Ungkap Penyebab Kematian Sutrimo, Polisi Buka Peluang Lakukan Ekshumasi

Video | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:30 WIB

×