Pakar: Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan, Saatnya Diversifikasi Pangan

Rabu, 21 Oktober 2020 | 15:43 WIB
Pakar: Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan, Saatnya Diversifikasi Pangan
Makanan sumber karbohidrat. (Shutterstock)

Suara.com - Di masa pandemi Covid-19, ketahanan pangan jadi hal penting yang perlu diperhatikan untuk memastikan masyarakat mendapat kecukupan nutrisi. Khususnya di 1000 hari pertama kehidupan, pemberian pangan bukan saja asal kenyang, tapi harus mengandung gizi kompleks karena berpengaruh pada perkembangan otak dan fisik anak.

Kegagalan pemberian nutrisi 1000 hari pertama kehidupan, bisa berdampak pada anak mengalami stunting atau gagal tumbuh, baik secara fisik maupun kemampuan berpikir.

"Pangan yang rawan adalah di 1000 hari pertama kehidupan, ini teori solid. Karena berhubungan dengan pembentukan otak manusia, gizi jangan sampai buruk, jangan asal kenyang. Jangan main-main dengan 1000 hari pertama, karena anak Anda konsekuensinya," ujar Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, MS., Guru Besar Universitas Lampung & Tim Pakar IRN dalam acara Webinar Indofood, Rabu (21/10/2020).

Nah, dalam hal pemberian nutrisi ini, diversifikasi atau keanekaragaman sumber pangan juga diperlukan. Sumber karbohidrat misalnya, tidak melulu harus dari nasi, sehingga masyarakat disarankan jangan terlalu bergantung pada beras.

"Karbohidrat jangan yang terlalu banyak beras, cari yang kompleks, rendah indeks glikemik, seperti ubi jalar, ubi kayu, kentang sedang tren, kalau bisa dari tanah lokal," jelasnya.

Hal ini juga sejalan program diversifikasi Kementerian Pertanian yang berusaha membuat sumber makanan utama jadi bervariasi, di mana sumber karbohidrat bisa berasal dari sumber daya lokal yang dihasilkan di daerah tersebut.

Sebut saja Aceh sebagai penghasil singkong, ini bisa untuk sumber karbohidrat, Riau penghasil sagu, Lampung mengandalkan singkong, Jawa Tengah dengan Jagung, dan seterusnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan prediksi, di saat Indonesia mampu memproduksi 31 juta ton beras di 2020, jumlah konsumsi beras masih sangat tinggi. Ini artinya, masih banyak masyarakat yang mengandalkan beras sebagai sumber makanan pokok atau utama.

"Yang lebih menarik itu, konsumsi naik lebih banyak dibanding produksi, kita masih banyak makan beras. Justru tantangan di sini," tutup Prof. Bustanul.

Baca Juga: 5 Mitos Asupan Nutrisi, Salah Satunya tentang Makanan Manis Bikin Diabetes

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI