facebook

Kisah Perempuan Penenun Bertahan di Tengah Pandemi

Bimo Aria Fundrika
Kisah Perempuan Penenun Bertahan di Tengah Pandemi
Kisah perempuan penenun Indonesia. (Dok: Istimewa)

Salah satu yang terdampak keras ialah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sejak pandemi Covid-19, mobilitas dibatasi untuk mencegah penularan virus corona.

Suara.com - Pandemi Covid-19 berdampak bukan hanya pada sektor kesehatan. Tapi juga nyaris ke semua sektor kehidupan.

Salah satu yang terdampak keras ialah sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sejak pandemi Covid-19, mobilitas dibatasi untuk menccegah penularan virus corona.

Hal itu praktis membuat industri pariwisata rontok dan ekonomi kreatif lesu pembeli. Adapun salah satu merasakan dampak itu ialah para pengrajin ulos di sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam keterangan yang diterima Suara.com, Rabu, (24/3/2021), Sartika Martilova Sihombing, seorang perempuan penenun ulos dan pemilik Soit Tenun Ulos dari Tapanuli Utara, Toba, mengatakan bahwa pandemi Covid-19 menjadi tantangan yang sulit baginya.

Baca Juga: Wagub Sulsel Andi Sudirman Belajar Tenun Rongkong dari Nenek 62 Tahun

“Sebagai penenun ulos, pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berat. Awal pandemi saya sempat pesimis bisa bertahan sebagai penenun ulos, karena pesanan tenun ulos turun drastis," kata Sartika.

Kisah perempuan penenun Indonesia. (Dok: Istimewa)
Kisah perempuan penenun Indonesia. (Dok: Istimewa)

Setelah beberapa bulan masa pandemi, Ia mulai bangkit dan semangat lagi. Salah satu yang membuat semangat bertenunnya kembali adalah pendampingan program Kita Muda Kreatif dari UNESCO-CITI Indonesia.

"Ketika mengikuti berbagai pelatihan daring, saya melihat ternyata bukan hanya saya yang terdampak COVID-19, teman-teman para wirausaha muda lain juga ikut terdampak. Dari situ kami saling berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang cara untuk tetap bertahan," ujar dia.

Sementara itu di lain tempat, Sri Hartini, Ketua Kelompok Nina Penenun dari Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, juga memiliki kisah serupa.

“Kami berharap UNESCO bisa membantu kami meregenerasi penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan. Dengan berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas anak muda di bidang tenun, kami yakin kami akan bisa mempertahankan budaya menenun di sini," ujar Sri Hartini.

Baca Juga: Meneruskan Tradisi Tenun Ikat yang Berinovasi di Desa Ensaid

Kelompok Nina Penenun berkomitmen untuk melestarikan tenun yang ada di Pringgasela. Tindak nyatanya yang dilakukan ialah mengajari anak-anak di Pringgasela Selatan untuk menenun melalui sekolah tenun.

Komentar