alexametrics

Musisi Gede Robi Ungkap Cara Masyarakat Bali Atasi Masalah Sampah Plastik

Risna Halidi | Lilis Varwati
Musisi Gede Robi Ungkap Cara Masyarakat Bali Atasi Masalah Sampah Plastik
Robi Navicula. (Foto: Instagram @ayyiex)

Sebagai orang keturunan Bali, musisi sekaligus anggota band Navicula, Gede Robi mengaku bangga dengan Bali. Apa alasannya ya?

Suara.com - Sebagai orang keturunan Bali, musisi sekaligus anggota band Navicula, Gede Robi mengaku bangga lantaran pulau Dewata menjadi provinsi pertama di Indoensia yang berlakukan regulasi pengurangan sampah plastik sekali pakai.

Meski permasalahan sampah plastik belum benar-benar selesai, menurut Robi, adanya regulasi tersebut cukup menunjukkan peran pemerintah daerah dalam penanganan isu lingkungan

Meski demikian, Robi meyakini bahwa penanganan masalah sampah bukan hanya tanggungjawab pemerintah, tapi juga masyarakat hingga korporat. Sinergi itu pula yang terjadi di Bali agar alamnya tetap terjaga. 

"Saya pikir di Bali, syukur ya iklimnya ada, mungkin karena adanya mapping dan kita juga punya kekuatan adat," kata Robi dalam konferensi pers daring kampanye #KerenTanpaNyampah bersama Body Shop Indonesia, Selasa (14/9/2021).

Baca Juga: Mengolah Sampah Plastik Jadi Aspal, Solusi Infrastruktur yang Ramah Lingkungan

Kekuatan hukum adat itu juga menjadi penguat di Bali dalam menyeimbangkan hukum formal dari pemerintah dalam menyelaraskan perilaku masyarakatnya.

"Jadi bisa diimplementasikan untuk menjaga Bali tetap sunyi dalam artian secara physical tetap bersih. Ekosistemnya tetap terjaga," ucap vokalis Navicula tersebut.

Menurut Robi, setiap orang memang sudah seharusnya bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya sendiri. Perilaku mampu mengelolanya sampah dengan tidak membuang sembarangan, memilahnya, hingga daur ulang, secara etika juga menjadi tindakan baik bagi manusia lain dan lingkungan.

Bijak dalam mengelola sampah, menurut Robi, juga akan sangat berdampak dalam mengurangi sampah yang terus menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). 

Ia mengungkapkan, di Bali sendiri tak ada lagi desa yang mau wilayahnya dibuka TPA baru untuk menampung sampah. Oleh sebab itu, perilaku masyarakat yang harus bijak dalam mengurangi jumlah sampahnya.

Baca Juga: Ke Mana Mayoritas Sampah Orang Indonesia Berakhir?

"Jangan karena merasa kita sudah membuang sampah, lenyap dari hadapan kita, ternyata itu hanya memindahkan masalah saja. Ternyata itu tidak dikelola dengan baik dan pada akhirnya balik ke kita. Efeknya personal secara kesehatan. Itu bahaya," ujarnya.

Komentar