- Mark, badut utama Cirque du Soleil Kooza, semula bercita-cita menjadi pembuat film sebelum ke dunia sirkus.
- Peran Mark adalah mencairkan suasana tegang akrobat ekstrem, menjadi jembatan emosi antara panggung dan penonton.
- Kooza beradaptasi dengan budaya lokal karena naskah fleksibel, disesuaikan dengan reaksi penonton di setiap negara.
Suara.com - Di balik gemerlap lampu, kostum warna-warni, dan aksi akrobat yang bikin jantung deg-degan di Cirque du Soleil Kooza, ada satu sosok yang diam-diam jadi “jiwa” pertunjukan: sang badut utama, Mark.
Bagi banyak penonton, dialah karakter yang paling mudah diingat—kocak, kikuk, tapi juga hangat. Sosok yang seolah mengacaukan segalanya di atas panggung, namun justru membuat seluruh pertunjukan terasa hidup dan dekat dengan penonton, termasuk keluarga dan anak-anak.
Dari Mimpi Jadi Filmmaker, Berakhir Jadi Badut Dunia
Siapa sangka, perjalanan Mark ke dunia sirkus justru berawal dari kegagalan.
Ia awalnya kuliah film dan bercita-cita menjadi pembuat film, terinspirasi oleh komedi fisik ala Charlie Chaplin, Buster Keaton, hingga Jackie Chan.
Namun di tengah perjalanan, ia memutuskan rehat sejenak dari sekolah dan mencoba hal yang terdengar tak biasa: masuk ke Ringling Brothers & Barnum & Bailey Clown College—sekolah khusus untuk menjadi badut profesional.
Niatnya sederhana: belajar sebentar, lalu kembali kuliah.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Ketika saya masuk Clown College, saya langsung merasa, wow, ini yang seharusnya saya lakukan seumur hidup,” ungkapnya.
Baca Juga: Sirkus Kelas Dunia Hadir di Singapura, Ajak Keluarga Indonesia Liburan Penuh Keajaiban
Sejak 1997, Mark tak pernah benar-benar meninggalkan dunia badut. Bahkan dengan santai ia menyebut bahwa menjadi clown adalah satu-satunya pekerjaan yang pernah ia jalani selama hampir tiga dekade.

Raja yang Mengacaukan Segalanya (Tapi Justru Disukai Penonton)
Di Kooza, Mark memerankan karakter seperti “raja panggung” yang merasa dirinya mengatur seluruh pertunjukan.
Lucunya, sebagai clown, ia justru membuat segalanya tampak berantakan—jatuh, salah, dan penuh kejutan. Tapi di situlah letak magisnya.
Alih-alih hanya menyisipkan humor, Mark menjadi jembatan emosi antara aksi akrobat ekstrem dan penonton. Saat adegan menegangkan seperti Wheel of Death atau high wire membuat penonton menahan napas, kehadiran sang badut mencairkan suasana dan menghadirkan tawa yang hangat.
“Tugas saya adalah memastikan semua orang bersenang-senang,” katanya.
Dan untuk keluarga yang datang bersama anak-anak, peran ini terasa sangat penting. Kooza jadi bukan sekadar pertunjukan akrobat spektakuler, tapi juga pengalaman hiburan yang ramah semua usia.
Komedi yang Berisiko: Lebih Menegangkan dari Stunt
Menariknya, Mark justru tidak melakukan stunt berbahaya seperti para akrobat lain.
Namun menurutnya, menjadi badut punya risiko yang tak kalah besar. Bukan risiko jatuh dari ketinggian, melainkan… tidak membuat penonton tertawa.
“Kalau kami tampil dan tidak ada yang tertawa, itu lebih buruk dari kematian,” ujarnya setengah bercanda, setengah serius.
Di situlah seni clowning terasa sangat manusiawi. Mereka mempertaruhkan hati, spontanitas, dan koneksi langsung dengan penonton di setiap pertunjukan yang selalu terasa “baru”, meski sudah dimainkan ratusan kali di berbagai negara.
Pertunjukan yang Selalu Berubah di Setiap Negara
Salah satu hal unik dari Kooza adalah kemampuannya beradaptasi dengan budaya lokal, dan Mark ikut terlibat dalam proses kreatif itu sejak awal.
Sekitar 18 tahun lalu, ia menjadi bagian dari tim clown yang membantu sutradara legendaris David Shiner menyusun naskah pertunjukan. Karena ditulis oleh para clown, skrip Kooza punya karakter khas: lucu, berbahaya, dan sangat fleksibel.
Dialog, interaksi, bahkan gaya humor bisa disesuaikan dengan negara tempat mereka tampil—mulai dari Korea hingga berbagai kota dunia.
Mark menggambarkan pendekatannya sederhana tapi dalam: ia memperlakukan pertunjukan seperti sedang datang ke sebuah pesta.
Ia “mendengarkan” reaksi penonton, merasakan energi ruangan, lalu menyesuaikan komedinya agar terasa relevan dan dekat.
Itulah sebabnya setiap show Kooza terasa segar, meski konsep ceritanya sama.
Ritual Rahasia Sebelum Naik Panggung
Di balik kelucuan yang terlihat spontan, ada persiapan emosional yang serius.
Sebelum tampil, Marc punya ritual pribadi untuk “membuka hati” agar bisa benar-benar terhubung dengan penonton.
Tapi, ritual ini sengaja ia rahasiakan, karena menurutnya setiap performer punya cara unik untuk menghadirkan emosi yang autentik di panggung.
Baginya, pertunjukan bukan sekadar hiburan. Ini adalah bisnis yang serius—tentang kejujuran emosi dan kehadiran penuh di setiap momen.
Hidup di Balik Tenda: Rindu Rumah dan Bahagia di Panggung
Di balik gemerlap tur dunia Cirque du Soleil, ada sisi lain yang jarang terlihat.
Mark mengakui tantangan terbesar dalam hidupnya adalah jauh dari keluarga. Ia kerap melewatkan ulang tahun, pernikahan, dan momen penting karena harus tur keliling dunia bersama Kooza.
Namun ada satu hal yang selalu menguatkannya: penonton.
“Setiap kali saya merasa sedih, saya keluar ke panggung dan melihat penonton senang melihat saya,” katanya.
Bagi Mark, tawa penonton adalah energi sekaligus kebahagiaan terbesar.
Alasan Kooza Cocok Jadi Hiburan Liburan Keluarga
Kehadiran karakter badut seperti Mark membuat Kooza berbeda dari pertunjukan akrobat biasa.
Di satu sisi, orang tua akan terpukau oleh aksi ekstrem, kostum fantastis, dan produksi kelas dunia. Di sisi lain, anak-anak akan langsung jatuh cinta pada humor fisik, interaksi langsung, dan karakter badut yang jenaka.
Dipadukan dengan cerita (badut) Innocent yang menjelajah dunia imajinasi, Kooza terasa seperti dongeng modern yang hidup di atas panggung—penuh warna, emosi, dan keajaiban nyata tanpa efek digital.
Apalagi dengan lokasi di Singapura yang dekat dari Indonesia dan jadwal yang berlangsung hingga 29 Maret 2026, pertunjukan ini bisa jadi alternatif liburan keluarga yang berbeda dari sekadar mall hopping atau wisata kuliner.
Karena pada akhirnya, di tengah aksi akrobat menegangkan dan visual spektakuler, sosok badut seperti Mark-lah yang mengingatkan satu hal sederhana: bahwa keajaiban terbesar dalam sirkus bukan hanya aksi mustahil, tetapi kemampuan membuat orang tertawa, merasa terhubung, dan kembali merasakan rasa takjub seperti anak kecil.