alexametrics

Pandemi Bikin Sekolah Tutup, Guru di India Pilih Mengajar di Jalanan

M. Reza Sulaiman
Pandemi Bikin Sekolah Tutup, Guru di India Pilih Mengajar di Jalanan
Sekolah di masa pandemi. (Shutterstock)

Tutupnya sekolah karena pandemi COVID-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara-negara lain di dunia, termasuk India.

Suara.com - Tutupnya sekolah karena pandemi COVID-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara-negara lain di dunia, termasuk India.

Tidak dapat dipungkiri, penutupan sekolah berdampak langsung terhadap terhalangnya akses belajar sebagian besar siswa.

Tak ingin anak didiknya mengalami dampak buruk hilangnya pendidikan, seorang guru di India memilih untuk mengajar di jalan menggunakan tembok sebagai papan tulis.

Melansir ANTARA, Deep Narayan Nayak (34), guru di Desa Suku Joba Attpara di Distrik Bardhaman negara bagian Timur Bengal Barat telah melukis papan tulis di dinding rumah-rumah dan mengajar anak-anak di jalanan selama satu tahun terakhir.

Baca Juga: DisparBeri Pendampingan Desa Wisata di Sleman untuk Persiapan Beroperasi di Masa Pandemi

Ilustrasi sekolah di tengah pandemi. (Pixabay/Alexandra Kochi)
Ilustrasi sekolah di tengah pandemi. (Pixabay/Alexandra Kochi)

Sekolah setempat ditutup setelah pembatasan ketat COVID-19 yang diberlakukan di seluruh India pada Maret 2020.

Pada pagi baru-baru ini, anak-anak menulis di papan tulis tersebut dengan kapur dan mengintip ke miskroskop seiring Nayak mengawasi mereka.

"Pendidikan anak-anak kita terhenti sejak penguncian diberlakukan. Anak-anak biasanya hanya berkeliaran, kemudian guru datang dan mulai mengajar mereka," ujar Kiran Turi, yang anaknya diajar oleh Nayak.

Nayak mengajar apa saja dari lagu anak-anak populer hingga pentingnya masker dan mencuci tangan kepada sekitar 60 siswa dan terkenal dengan julukan “Guru Jalanan” di antara warga desa yang bersyukur akan kehadirannya.

Sekolah-sekolah di penjuru India mulai kembali dibuka secara bertahap bulan lalu. Beberapa epidemiologi dan ahli ilmu sosial meminta agar sekolah-sekolah tersebut dibuka sepenuhnya guna mencegah hilangnya pembelajaran lebih lanjut pada anak.

Baca Juga: Persiapan Sekolah PTM, Pemkot Medan Percepat Vaksinasi Pelajar

Survei yang dilakukan oleh kelompok cendekiawan kepada hampir 1.400 anak-anak sekolah Agustus lalu menemukan bahwa di wilayah perdesaan, hanya delapan persen yang mengikuti sekolah daring secara teratur, 37 persen tidak belajar sama sekali, dan sekitar setengah dari mereka tidak bisa membaca lebih dari beberapa kata.

Sebagian besar orang tua menginginkan sekolah dibuka kembali sesegera mungkin, menurut survei tersebut.

Nayak mengaku khawatir akan murid-muridnya, yang kebanyakan pemelajar generasi pertama dan orang tuanya buruh harian, akan tersingkir dari sistem pendidikan apabila mereka tidak melanjutkan sekolah.

“Saya ingin melihat anak-anak yang berkeliaran di desa, menggembala ternak, dan saya ingin memastikan pemelajaran mereka tidak terhenti,” katanya. [ANTARA]

Komentar