Hari Kopi Internasional, Ini 5 Cara Agar Kopi Tak Musnah dari Muka Bumi

Vania Rossa

Jum'at, 01 Oktober 2021 | 17:18 WIB
Hari Kopi Internasional, Ini 5 Cara Agar Kopi Tak Musnah dari Muka Bumi
Ilustrasi kopi. (Pexels)

Suara.com - Beberapa tahun lalu terdengar kabar bahwa kopi akan punah akibat perubahan iklim. Tentu saja berita ini mengejutkan para penggemar kopi sejati. Banyak yang tak percaya, lantaran budaya ngopi sudah sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, apakah benar bahwa kopi akan punah?

Renata Puji Sumedi Hanggarawati, Agroecosystem Program Manager dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), menjelaskan, perubahan iklim tentu akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya pada ekosistem dan bentang alam, dan pada makhluk hidup.

Ia mencontohkan, dampak perubahan iklim sudah dirasakan. Hanya saja, kita tidak aware. Misalkan, perubahan siklus musim hujan dan kemarau.

Tanaman kopi juga tentu ikut terdampak perubahan iklim. Musim makin sulit diprediksi, musim panen berubah, hama penyakit meningkat. Gejala itu sudah dikeluhkan oleh petani kopi di Sumatra dan Flores Manggarai, yang selama ini menjadi lokasi program Yayasan KEHATI. Degradasi lahan dan kondisi ekosistem yang tidak mendukung akan berdampak pada penurunan produksi kopi.

Tapi, Puji meyakini, kopi tidak akan punah, selama kita dapat turut mengurangi dampak perubahan iklim, baik dalam hal adaptasi maupun mitigasi.

Namun, sebenarnya banyak faktor yang bisa menyebabkan menurunnya produksi kopi, misalnya sisi produktivitis, aspek lahan, serta aspek konsumsi.

“Memang ada estimasi bahwa sejumlah wilayah di kawasan Nusa Tenggara Timur, termasuk Flores, misalnya, akan jadi lebih kering. Hal ini tidak saja berdampak pada tanaman kopi, melainkan juga pada flora dan fauna yang hidup di daerah tersebut. Keanekaragaman hayati memang berpotensi terancam oleh perubahan iklim, kalau kita tidak mampu melakukan intervensi dalam bentuk adaptasi dan mitigasi dengan baik,” kata Puji.

Sementara itu, barista sekaligus pemilik kedai kopi, Viki Rahardja, melihat alasan lain kenapa kopi disebut-sebut akan langka. Ia menilai, dengan pertumbuhan kedai kopi yang begitu menjamur, suplai dan permintaan jadi tidak seimbang. Produksi kopi di Indonesia tidak sebanding dengan pertumbuhan coffee shop yang begitu cepat.

Jelang Hari Kopi Internasional yang jatuh setiap 1 Oktober, dan menjaga agar kopi tidak benar-benar punah, ini saatnya #mudamudibergerak! Lima cara berikut bisa sama-sama kita lakukan:

baca juga

1. Jalin kolaborasi dengan petani kopi
Puji mengamati, petani kopi di kawasan Flores Manggarai didominasi oleh orang tua. Masih jarang ada anak muda yang tertarik untuk menjadi petani. Di sinilah diperlukan berbagai dukungan dari para pencinta kopi.

“Anda bisa mengadakan pelatihan yang membuat anak muda tertarik untuk jadi petani kopi. Misalnya, workshop untuk jadi barista. Kalau ada yang punya pengetahuan untuk mengolah limbah kopi, Anda bisa bantu mereka agar bisa memanfaatkan limbah. Misalnya, dibuat menjadi bahan sabun atau lulur. Atau, ketika ada yang mengalami kesulitan pemasaran, maka Anda yang ahli dalam bidang tersebut bisa membantu membukakan digital platform,” kata Puji.

Di sisi lain, para pengusaha kopi yang kini semakin banyak juga perlu menerapkan fair trade. Sering kali pengusaha tidak mementingkan kualitas, melainkan mengutamakan harga murah. Puji menegaskan, sebetulnya tidak harus membeli dengan harga sangat tinggi, tapi diupayakan agar harganya fair bagi produsen.

Viki bercerita, ia sendiri sering mencari kopi dengan langsung mendatangi perkebunan kopi. “Dulu kopi dijual mentah saja, sehingga harganya cenderung murah. Namun, sekarang biji kopi dijual pascapanen, yang sudah melalui beberapa proses. Proses alamiah yang lama dan rumit ini akan mendongkrak harga biji kopi. Saat membeli kopi dengan harga mahal itu, kami mendapatkan karakter kopi yang diinginkan. Biasanya kami membeli dalam jumlah besar, katakanlah satu ton, lalu kami tawarkan kepada teman-teman sesama pengusaha kopi,” kata Viki, yang sebelum pandemi kerap melakukan edukasi langsung kepada petani.

2. Terlibat dalam kegiatan konservasi
Kopi bukan tanaman yang soliter. Artinya, ia tidak bisa tumbuh sendirian saja. Tanaman kopi memerlukan tanaman penaung yang fungsinya antara lain untuk menahan angin, juga menjaga tanaman kopi dari sinar matahari dan curah hujan yang tinggi. Tanaman-tanaman penaung ini perlu ditanam ulang.

Kalau tidak punya kesempatan untuk menanam bibit secara langsung, Anda bisa ikut berdonasi dengan cara mengadopsi bibit pohon atau adopsi hutan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nepa Mountain, Book & Coffee: Ngopi dengan Suasana Nepal di Jogja

Nepa Mountain, Book & Coffee: Ngopi dengan Suasana Nepal di Jogja

Your Say | Jum'at, 01 Oktober 2021 | 11:32 WIB

Daftar Hari Penting di Oktober 2021, Hari Kopi hingga Hari Pangan

Daftar Hari Penting di Oktober 2021, Hari Kopi hingga Hari Pangan

Sumsel | Jum'at, 01 Oktober 2021 | 08:46 WIB

Mau Coffee Shop Ramai Dikunjungi Anak Muda? Pastikan Ada 5 Hal Ini!

Mau Coffee Shop Ramai Dikunjungi Anak Muda? Pastikan Ada 5 Hal Ini!

Lifestyle | Jum'at, 01 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Terkini

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Jabar | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:18 WIB

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Sport | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:54 WIB

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:28 WIB

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

Riau | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:17 WIB

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×