facebook

Anak Muda Bosan Sistem Kerja 9 to 5, Tren Profesi Pekerja Lepas Jadi Meningkat

Risna Halidi
Anak Muda Bosan Sistem Kerja 9 to 5, Tren Profesi Pekerja Lepas Jadi Meningkat
Ilustrasi (Unsplash/Mateus Campos Felipe)

Sayangnya, tak semua perusahaan dapat memberikan fasilitas dan kebebasan tersebut.

Suara.com - Pandemi Covid-19 membuat banyak hal berubah, termasuk munculnya tren bekerja dari semua tempat kecuali kantor. Sayangnya, tak semua perusahaan dapat memberikan fasilitas dan kebebasan tersebut.

Dari situ muncul tren baru, termasuk tren profesi dan pekerjaan sebagai pekerja lepas paruh waktu atau freelancing.

Dikutip dari siaran pers platform e-commerce yang membantu solopreneur Solos, saat ini terdapat 70 juta freelancers dan solo entrepreneur di kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu nilai pemasukan tahunan freelancers di Asia Tenggara mencapai $93 miliar agau setara Rp1,3 triliun.

Baca Juga: Wajib Cek Dulu sebelum Berangkat, List Barang yang Wajib Dibawa saat Kerja

World Bank mencatat, pertumbuhan pelaku freelancing mencapai 30 persen setiap tahunnya dengan dominasi segmentasi usia 18-44 tahun.

Sementara itu, penelitian School of Business University of Brighton menyatakan bahwa 97 persen pekerja lepas lebih bahagia daripada pekerja kantoran.

Solos mencatat bagaimana tren yang sama tengah terjadi di Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat 33,34 juta orang bekerja sebagai freelancer dan small business owners hingga Agustus 2020.

Angka ini naik 4,32 juta orang atau 26 persen dari tahun sebelumnya.

CEO dari Solos - Ricky Willianto mengatakan, pasokan tenaga kerja yang menginginkan pekerjaan jam 9-5 kini semakin berkurang, terutama untuk kategori pekerjaan yang banyak diminati seperti teknik, desain, UI/UX, penelitian, pembinaan (training), dan strategi.

Baca Juga: 4 Hal yang Harus Diingat dan Dipahami Suami saat Bekerja, Semangat!

Selain faktor fleksibilitas waktu dan tempat bekerja, ada kecenderungan sosial yang mendasari, terutama di kalangan generasi muda, untuk mendapatkan pekerjaan yang memiliki makna bagi hidup mereka.

Hal ini dapat berupa melakukan pekerjaan yang berdampak positif bagi dunia, atau bahkan hanya pekerjaan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi seseorang seperti kreativitas atau kebebasan.

Akibatnya, perusahaan berjuang untuk mengisi jumlah karyawan mereka, dan karena itu mereka mencari cara alternatif untuk bekerja dengan generasi muda.

“Kami percaya bahwa terjadi transisi besar pada angkatan kerja masa kini. Generasi baru lebih menyukai kebebasan, fleksibilitas, dan pekerjaan yang berdampak dan didorong oleh hasrat," kata Ricky, dikutip dari siaran pers, Senin (16/5/2022).

Hasilnya, kata Ricky, orang-orang yang dulu bergantung pada pekerjaan kantoran kini memulai bisnis sendiri yang ditunjang oleh teknologi dan kerja jarak jauh.

"Solos ingin menjadi solusi terdepan bagi orang-orang yang memulai perjalanan ini, dan menjadi mitra yang membantu mereka sukses dalam bisnis mereka,” tambahnya.

Saat ini Solos memberdayakan desainer grafis, penulis, tutor belajar, pelatih pribadi, instruktur yoga, konsultan PR, peneliti profesional, dan pakar strategi.

Solos juga menghadirkan tiga solusi utama yaitu portfolio builder, online shop for service, dan payment solutions for service sellers.

“Solos fokus pada pertumbuhan di Indonesia. Kami saat ini berbasis di Bali karena kami percaya Bali adalah pusat bisnis yang tepat untuk freelancer, solopreneur, dan digital nomads,” jelas Ricky.

Komentar