facebook

Imbas Pandemi Covid-19, Ini Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal

Vania Rossa
Imbas Pandemi Covid-19, Ini Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal
Ilustrasi harga tiket pesawat mahal. (Pixabay.com)

Tak hanya rute dalam negeri, harga tiket pesawat juga melambung untuk rute internasional.

Suara.com - Harga tiket pesawat yang mahal belakangan tengah menjadi perbincangan. Tak hanya rute dalam negeri, harga tiket pesawat juga melambung untuk rute internasional.

Menurut VP Commercial and Marketing Pegipegi, Ryan Kartawidjaja, memang terjadi kenaikan harga tiket saat ini jika dibandingkan dengan tahun 2019 ataupun awal tahun 2022.

"Misalnya, pada bulan Mei dan Juni, ada kenaikan nilai tiket pesawat rata-rata sekitar 1,5 kali di beberapa maskapai. Tren kenaikan ini sudah dimulai semenjak bulan April 2022 dan terlihat berkorelasi dengan naiknya demand perjalanan, dan juga faktor-faktor lain yang berpengaruh sehingga masih sulit untuk memprediksi penurunan tiket pesawat saat ini,” katanya.

Dalam siaran pers yang diterima Suara.com, setidaknya ada enam faktor yang diperkirakan membuat harga tiket pesawat di seluruh dunia menjadi lebih mahal. Ini dia:

Baca Juga: Mulai 13 Juni 2022, Harga Tiket Pesawat Rute Pulau Bawean Naik Rp 100 Ribu

  1. Kenaikan harga bahan bakar avtur yang kemudian dimasukkan dalam hitungan harga tiket di setiap jasa penerbangan. Perhitungan tersebut tidak hanya mempertimbangkan harga avtur, melainkan biaya ground handling, navigasi, dan lalu lintas udara.
  2. Sejumlah maskapai penerbangan menurunkan kapasitasnya, baik dari jumlah pesawat dan jumlah kursi yang terbatas akibat pandemi Covid-19. Di sisi lain, adanya peningkatan pada kebutuhan jasa penerbangan menjadi tidak seimbang dengan penawaran. Hal ini karena situasi dimana jumlah permintaan lebih besar daripada penawaran, maka menyebabkan kekurangan suatu produk/jasa yang berakibat pada kenaikan harga produk/jasa tersebut.
  3. Tren kenaikan harga tiket pesawat terjadi setelah pandemi melonggar. Sebagai contoh, melansir dari data studi Mastercard Economics Institute terdapat fakta bahwa biaya penerbangan dari Singapura rata-rata 27 persen lebih tinggi pada April 2022 dibandingkan tahun 2019. Sedangkan, dari Australia 20 persen lebih tinggi.
  4. Sejumlah maskapai yang sempat menganggur karena keterbatasan penerbangan selama pandemi butuh waktu untuk bangkit kembali. Hal ini mengingat banyaknya perbaikan dan penyesuaian yang harus dimatangkan lebih jauh. Ditambah, selama pandemi Covid-19, ratusan ribu pilot, pramugari, ground handler, dan staf penerbangan lainnya kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut belum memungkinkan bagi maskapai untuk memaksimalkan penerbangan sesuai permintaan pasar saat ini.
  5. Dengan minimnya jumlah pesawat yang terbang menyebabkan pemesanan kursi penumpang lebih sedikit. Jika dibiarkan penjualan kursi dengan harga normal, maka tidak cukup untuk memenuhi biaya pemulihan dan lainnya.
  6. Khusus penerbangan domestik di Indonesia, Kementerian Perhubungan telah memberi izin maskapai penerbangan untuk menetapkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar kepada konsumen terhitung sejak 18 April 2022, yang membuat harga tiket lebih mahal.

Komentar