Suara.com - Kata Asian Value yang dilontarkan oleh host podcast Total Politik, Arie Putra jadi gunjingan netizen dan menjadi trending di platform media sosial X.
Asian value dilontarkan oleh Arie saat ditanya oleh Pandji Pragiwaksono terkait dinasti politik. Awalnya Arie Putra sebagai host mempertanyakan soal Pandji yang tegas menolak praktik dinasti politik.
“Kenapa lu agak sensi kayaknya, gua lihat ada sensitivitas soal politik dinasti, kan itu hak warga negara, mau lu dinasti atau nggak,” ungkap Arie seperti dikutip, Kamis (6/6/2024).
Lebih lanjut, secara personal ia tak mempersalahkan soal dinasti politik. Arie kemudian menyebut kata Human Right dan Asian Value.
“Gua sebagai warga negara konstitusional, dong. Gua berbicara hak warga negara. Gua punya opini (dinasti politik), gua Asian value.” ungkap Arie.
Pandji yang mendengar opini dari Arie itu kemudian geram dan muak. Ia lantas menyecar Arie Putra untuk tidak berbelit-belit.
“Hentikan omong kosong itu, omong aja apa yang lu maksud,” tegas Pandji dalam bahasa Inggris.
“Ini human rights.” jawab Arie secara singkat.
Lantas apa itu sebenarnya Asian Value itu? Berikut ulasannya untuk sobat Suara
Lahir akhir Abad ke-20
Konsep Asian Value seperti dikutip dari britannica.com lahir di akhir abad ke-20. Nilai-nilai politik ini dikembangkan sejumlah politikus dari Asia.
Konsep politik Asian Value berawal dari kesadaran dan nilai alternatif para orang di Asia terhadap nilai-nilai politik Barat seperti Hak Asasi Manusia, demokrasi dan kapitalisme.
Di awal lahirnya, konsep Asian Value sebagai bentuk perlawanan alternatif dari tatanan politik negara Barat yang kala itu bertindak sebagai penjajah.
Warisan Konfusianisme
Asian Values menurut pendapat sejumlah ahli menjadi sangat kuat di kawasan Asia Timur pasca Perang Dunia II. Hal ini disebabkan adanya kesamaan budaya masyarakat, utamanya perihal warisan konfusianisme.
Penghamba konsep ini menganggap bahwa nilai-nilai politik barat, apapun itu sangat tidak cocok diterapkan di negara kawasan Asia Timur, khususnya di pola pemerintah yang mayoritas kala itu berbentuk kerajaan dan kekaisaran.
Bagi pendukung konsep ini, tatanan sosial dan politik Barat hanya fokus pada kepentingan individu dan merusak tatanan lama serta dinamisme ekonomi.
Konsep Utama Asian Values
Asian Values setidaknya memiliki sejumlah konsep utama yang kerap digaungkan para penghambanya yakni displin, kerja keras dan penghormatan terhadap otoritas.
Konsep ini sebenarnya mendapat perhatian khusus publik saat dilontarkan oleh PM Singapura, Lee Kuan Yew. Konsep ini kemudian bertambah gaungnya di periode 1980 hingga 1990-an.
Selain Lee Kuan Yew, Mahatir Muhamaad dari Malaysia juga dianggap sebagai sosok yang terus mempopulerkan konsep Asian Values.
Namun konsep ini kemudian mendapatkan kritik tajam lantaran dianggap sebagai 'tameng' untuk melindungi kepentingan elit otoriter.
JK dan Asian Values
Fakta berikutnya yang menarik soal Asian Values ialah bahwa pada 2006, Jusuf Kalla (JK) mengaitkan nilai-nilai Asia dengan usulan Perjanjian Perdagangan Bebas Asia Timur dan Komunitas Asia Timur yang muncul dari KTT Asia Timur.
Dia sebagian membela nilai-nilai Asia dengan menempatkan penekanan pada kerja sama di atas kompetisi.
Asian Values Konsep Ganda
Kritik terhadap Asian Values kerap disuarakan oleh sejumlah tokoh seperti Kim Dae-jung, eks presiden Korsel dan Amartya Kumar Sen, filsuf dan ekonom asal India.
Menurut keduanya, bahwa Asian Values ialah konsep ganda yang sebenarnya bertujuan untuk menekan nilai-nilai barat seperti kebebasan berbicara serta hak asasi manusia.
Amartya Sen berpendapat bahwa apa yang disebut nilai-nilai Asia ini tidak dapat berjalan karena keragaman budaya utama yang ditemukan di Asia.