Dinyinyir Punya Aura Maghrib, Fuji hingga Naura Ayu Jadi Korban Colorisme, Apa Itu?

Galih Priatmojo Suara.Com
Rabu, 10 Juli 2024 | 13:11 WIB
Dinyinyir Punya Aura Maghrib, Fuji hingga Naura Ayu Jadi Korban Colorisme, Apa Itu?
Fuji dan Naura Ayu [Instagram]

Suara.com - Beberapa waktu lalu penyanyi Naura Ayu geram saat dilabeli memiliki aura magrib oleh netizen di akun TikTok miliknya.

Naura tercatat menjadi korban kesekian yang dinyinyiri oleh netizen memiliki aura maghrib.

Sebelumnya, sosok Fujianti Utami Putri atau yang lebih akrab disapa Fuji juga sempat mendapat cap serupa.

Istilah aura maghrib memang tengah jadi tren di media sosial yang dipakai untuk mengejek fisik seseorang.

Sebutan aura maghrib itu mengacu pada warna kulit seseorang yang cenderung gelap atau kerap diumpamakan serupa warna kulit sawo matang.

Bila ditarik dalam istilah yang lebih ilmiah, kedua public figure baik Naura Ayu maupun Fuji telah jadi korban colorisme.

Apa itu colorisme?

Colorisme bisa disebut sebagai bentuk kekerasan budaya.

Bila merujuk dari kamus Merriam Webster, colorisme didefinisikan sebagai prasangka atau diskriminasi terutama dalam kelompok ras atau etnis yang menyukai orang dengan kulit lebih terang ketimbang kulit yang gelap.

Baca Juga: Menaksir Omzet Bisnis Kuliner Frans Faisal, Nggak Heran Bisa Beli Rumah Mewah

Dalam buku A. Bagalini bertajuk What is Colourism and How can Skin Tone Bias Affect Your Career? Colorisme bisa terjadi tanpa memandang ras, ia bisa terjadi dalam satu ras yang sama atau bahkan yang berbeda.

Dalam colorisme ada kecenderungan orang yang berkulit lebih cerah akan terpilih atau mendapat keistimewaan meski rasnya sama.

Pada perkembangannya, gender pun terkadang turut berkait dengan colorisme karena terkait dengan penampilan fisik mengenai konstruksi sosial terhadap siapa yang lebih menarik, cantik berdasar dari warna kulit. Oleh karenanya perempuan kerap kali jadi yang terdampak dalam fenomena colorisme ini dibanding pria.

Dikutip dari Jurnal Dinamika Global Volume 7 No. 1, Juni 2022, munculnya pandangan terkait colorisme banyak dipengaruhi oleh kemunculan produk promosi iklan baik melalui baliho ataupun televisi, dimana banyak diantaranya yang memandang bahwa orang yang berkulit gelap harus berkulit putih untuk menjadi baik hingga mendapatkan perhatian orang lain.

Lewat kemunculan produk visual itu secara tidak sadar masyarakat didorong untuk memilih orang berkulit putih sebagai representasi posisi yang lebih tinggi di tengah lingkungannya.

Di kemudian hari, kecenderungan yang menganggap kulit putih lebih baik ketimbang kulit gelap ini memunculkan hegemoni kulit putih atau white hegemony.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI