Sang Jenderal Menghapus Dendam Lama, Kisah Anak Pahlawan Revolusi Memaafkan Peristiwa Kelam 65

Wakos Reza Gautama

Minggu, 29 September 2024 | 09:20 WIB
Sang Jenderal Menghapus Dendam Lama, Kisah Anak Pahlawan Revolusi Memaafkan Peristiwa Kelam 65
Kolase Mayjen Sutoyo dan anaknya, Letjen (Purn) Agus Widjojo. [Wikipedia]

Suara.com - Ayahnya, adalah satu satu jenderal yang jasadnya ditemukan di sumur tua di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Walau begitu, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, sudah bisa berdamai dengan masa lalu kelam itu. 

Prok, prok, prok. Suara sepatu lars memecah keheningan 1 Oktober 1965, dini hari. Derap langkah itu membuat para penghuni rumah di daerah Menteng, terjaga.

Mereka adalah Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo, Suparmi, sang istri dan tiga anaknya, Agus Widjojo, Nani Nurachman, Ari Wisaksono dan tante Lili.

Mengetahui ada pasukan liar tak diundang, Sutoyo meminta istri dan anak-anaknya mengunci pintu dan tetap berada di kamar.

Saat Nani mengunci kamar, tiba-tiba ada ujung bayonet menembus pintu. Beruntung Nani reflek memundurkan tubuhnya. Selamatlah ia dari tusukan bayonet.

Nani ketakutan. Ia masuk ke kolong tempat tidur. Sutoyo memilih menemui pasukan bersenjata api itu seorang diri.

“Kalian siapa?” tanya Sutoyo dikutip dari buku "Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo: Tentara Kok Mikir?".

“Kami utusan Presiden untuk menahan bapak,”ujar pasukan tersebut.

Mana surat perintahnya?” tanya Sutoyo.

baca juga

Tak ada jawaban. Pasukan itu malah menghancurkan barang-barang di rumah. Di dalam kamar, Agus Widjojo mendengar suara pecahan barang-barang.

“Seluruh tubuh saya gemetar,” kata Agus menggambarkan ketakutannya saat itu.

Brigadir Jenderal Sutoyo dibawa oleh pasukan tak dikenal itu. Sejak kejadian itu, Agus sempat trauma setiap mendengar suara lars sepatu.

Sutoyo bersama lima jenderal dan satu perwira pertama lainnya dibunuh di Lubang Buaya. Mereka adalah Pahlawan Revolusi yang menjadi korban peristiwa Gerakan 30 September 1965 (Gestapu). 

Peristiwa ini mengubah semua jalan hidup Agus. Dia sempat mengalami disorientasi dalam hidupnya. Ia bingung menatap masa depan di tengah situasi yang berubah seketika.

Masa remaja yang mestinya indah hilang begitu saja ketika sang ayah direnggut dari hidupnya. Agus memutuskan untuk mengubur cita-citanya menjadi diplomat atau intelektual. Ia memilih menjadi tentara. Agus punya alasan tersendiri memilih terjun ke dunia militer.

“Ibu tidak bekerja. Adik masih ada dua orang. Satu-satunya kuliah yang ga bayar kan jadi tentara,” ujar Agus Widjojo di buku "Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo: Tentara Kok Mikir?".

Dengan menjadi tentara, Agus merasa masa depannya jadi lebih jelas. Tentara juga bagi Agus bagus untuk membentuk karakternya. Keinginan Agus menjadi tentara mendapat dukungan penuh dari ibu sambungnya Suparmi.

Suparmi menemui Jenderal Surono yang masih kerabat mereka. Suparmi meminta bantuan Jenderal Surono untuk memasukkan Agus ke Akademi Militer. Berkat bantuan Jenderal Surono, Agus masuk ke Akmil tahun 1966.

Menghapus Dendam Lama

Kehilangan sang ayah secara tragis adalah pengalaman pahit bagi Agus Widjojo. Secara personal, Agus ingin tahu siapa yang membunuh ayahnya dan bagaimana cara pelaku membunuhnya.

Namun ia berpikir untuk apa dan sampai kapan memendam dendam di hatinya. Agus memosisikan dirinya sebagai pribadi yang mementingkan kepentingan nasional.

Tragedi 65 ini adalah bagian dari kepentingan nasional karena yang menjadi korban adalah para jenderal TNI AD.

“Memiliki rasa dendam juga tidak akan mengembalikan ayah saya yang sudah terbunuh,” ujar Agus.

Pemikiran rasional Agus ini muncul secara bertahap setelah ia mengambil jarak dari peristiwa itu. Ia merasa harus move on. Tidak ingin terjebak pada dendam masa lalu yang berlarut-larut.

Agus juga memilih tidak menceritakan peristiwa kelam itu ke dua anaknya. Bagi Agus, cukup anak-anaknya tahu mengenai peristiwa 65 dari sekolahnya saja.

Agus tak ingin menceritakan detil peristiwa itu karena tak mau dianggap sebagai bentuk glorifikasi. Agus Widjojo memilh berdamai dengan masa lalu yang pahit.

Tidak hanya ingin sendiri, Agus ingin di tingkat negara juga harus berdamai. Baginya sebuah negara bisa maju jika mampu berdamai dengan masa lalunya.

Sebagai bentuk realisasinya, Agus menyatakan perlu adanya rekonsiliasi. Salah satu syarat rekonsiliasi suatu negara adalah memaafkan dengan ikhlas tetapi tanpa melupakan.

Menurutnya bangsa ini harus belajar dari masa lalu agar tidak terulang kembali. Agus terus mengampanyekan rekonsiliasi ini di berbagai forum dalam dan luar negeri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rocky Gerung Samakan Kasus Fufufafa Seperti G30S PKI: 20 Tahun Lagi Baru Terungkap

Rocky Gerung Samakan Kasus Fufufafa Seperti G30S PKI: 20 Tahun Lagi Baru Terungkap

Tekno | Sabtu, 28 September 2024 | 10:16 WIB

Berdurasi 4 Jam Lebih, Ini Link Nonton Film G30S PKI

Berdurasi 4 Jam Lebih, Ini Link Nonton Film G30S PKI

Lifestyle | Senin, 23 September 2024 | 13:09 WIB

G30S (tanpa) PKI

G30S (tanpa) PKI

Lifestyle | Jum'at, 20 September 2024 | 10:30 WIB

Apa Jabatan Soeharto saat G30S PKI Meletus? Ini Perannya di Malam Mencekam

Apa Jabatan Soeharto saat G30S PKI Meletus? Ini Perannya di Malam Mencekam

Lifestyle | Jum'at, 20 September 2024 | 09:25 WIB

Dokumen CIA Terbongkar: Benarkah AS Dalang G30S PKI?

Dokumen CIA Terbongkar: Benarkah AS Dalang G30S PKI?

News | Kamis, 19 September 2024 | 18:39 WIB

Terkini

Pasar Saham AS Rontok! Wall Street Berdarah Akibat Rekor Terburuk Sejak 2007

Pasar Saham AS Rontok! Wall Street Berdarah Akibat Rekor Terburuk Sejak 2007

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 06:04 WIB

Jelajah IDW 2026 Sambil Bikin Konten, Pengunjung Berpeluang Bawa Pulang Hadiah

Jelajah IDW 2026 Sambil Bikin Konten, Pengunjung Berpeluang Bawa Pulang Hadiah

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 23:52 WIB

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Jatim | Rabu, 23 September 2026 | 23:46 WIB

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 23:41 WIB

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:35 WIB

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:21 WIB

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Jawa Tengah | Rabu, 23 September 2026 | 23:05 WIB

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:47 WIB

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Otomotif | Rabu, 23 September 2026 | 22:44 WIB

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:27 WIB

×