Makan Siang Bergizi di Sekolah Jepang Tak Gratis, Segini Biaya yang Harus Dikeluarkan Orang Tua

Husna Rahmayunita, Dinda Rachmawati

Jum'at, 14 Februari 2025 | 08:01 WIB
Makan Siang Bergizi di Sekolah Jepang Tak Gratis, Segini Biaya yang Harus Dikeluarkan Orang Tua
Menu Makan Siang Bergizi di Sekolah di Jepang (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Suara.com - Penyediaan makan siang bergizi di sekolah menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas pendidikan anak-anak.

Untuk itu, tak hanya Indonesia, program tersebut sebenarnya sudah dilakukan di banyak negara di dunia, salah satunya Jepang. Tak main-main, bahkan program yang dikenal dengan Shokoiku itu sudah berlangsung lebih dari satu abad yang lalu. 

Profesor Naomi Aiba, pakar gizi dari Department of Nutrition and Life Science Kanagawa Institute of Technology, menjelaskan, Jepang telah menjalankan program makan siang sekolah sejak 1889. 

Awalnya, hanya menu sederhana seperti nasi, ikan, dan acar sayuran yang diberikan. Program ini pun terus berkembang, hingga mengalami perubahan besar setelah Perang Dunia II dengan bantuan UNICEF yang menyediakan susu untuk meningkatkan gizi anak-anak.

Pada 1949, Jepang mengesahkan Undang-Undang Makan Siang Sekolah, menjadikan program ini bagian dari sistem pendidikan nasional.

"Sejak UUD pendidikan pangan diberlakukan pada 2005, makan siang di sekolah digunakan sebagai bahan pengajaran, dan banak menu makanan yang direvisi," jelas dia dalam acara di sela Seminar ilmiah Shokoiku: Nutrisi dan Edukasi yang digelar Yakult, di Jakarta, Kamis (13/2/2025).

Namun, tidak seperti di Indonesia, Naomi mengatakan jika program makan siang bergizi di sekolah tidak dijalankan secara gratis. Sebab, masing-masing orang tua siswa dikenakan biaya sebesar 230 yen atau sekitar Rp24.500 per setiap kali makan. 

Dia menambahkan, angka tersebut bisa berubah bergantung pada harga bahan pokok. Dengan uang tersebut, setiap siswa mendapat nasi, daging ataiikan, sup, acar, dan susu. 

Setiap menu pun sudah diperhitungkan untuk kebutuhan siswa di setiap sekolah, namun standar pemenuhan gizi tetap mengikuti panduan dari pemerintah. 

baca juga

"Jadi Indonesia itu hebat, karena gratis untuk semua sekolah," kata Aiba memuji. 

Menurut perempuan yang juga peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) itu, tidak semua wilayah Jepang mengenakan biaya kepada orang tua. Beberapa prefektur ada yang menggratiskan, bergantung pada kebijakan wilayah masing-masing.

Program makan siang sekolah di Jepang berjalan sangat sistematis

Di Jepang, sejak diberlakukannya Undang-Undang Pendidikan Pangan pada tahun 2005, makan siang di sekolah bukan hanya sekadar waktu makan, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang terstruktur. 

Guru ahli gizi bekerja sama dengan para guru lain memberikan pendidikan tentang gizi, keamanan pangan, serta membangun sikap positif terhadap makanan bagi siswa dan keluarga mereka.

Selain itu, makan siang di sekolah Jepang dikelola dengan sistematis, mulai dari penelitian gizi lima tahunan hingga pengawasan kebersihan yang ketat untuk mencegah keracunan makanan. 

Berbeda dengan Indonesia yang penyajian makan bergizi gratis di sekolah melibatkan kepada katering atau pihak ketiga, sekolah-sekolah di Jepang menyajikan makan sendiri. Hampir seluruh sekolah memiliki dapur yang mengolah makanan untuk program ini.

Kontribusi Yakult dalam Program MBG

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Yakult Indonesia, Hiroshi Kawaguchi menjelaskan, bahwa shokuiku merupakan bahasa Jepang yang berarti pendidikan pangan yang menjadi inti dari makanan bergizi seimbang. 

“Kami memahami bahwa stunting pada sebagian anak menjadi masalah serius. Penting bagi masyarakat terutama ibu hamil dan anak-anak untuk dapat edukasi mengenai makanan bergizi dan mengonsumsi makanan tersebut. Kami ingin berkontribusi pada edukasi makanan bergizi dan seimbang,” ungkapnya. 

Dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), Yakult Indonesia sendiri ikut berkontribusi dalam membagikan produk kepada murid di sekolah dasar di daerah Jawa Barat dan membagikan edukasi mengenai makanan bergizi dan fungsi usus. 

“Kami berusaha untuk ikut berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia. Semoga ini bermanfaat dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045,” kata Hiroshi. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemprov Jakarta Buka Sekolah Lansia: Metode Pendidikannya Berbasis Digital

Pemprov Jakarta Buka Sekolah Lansia: Metode Pendidikannya Berbasis Digital

News | Kamis, 13 Februari 2025 | 19:15 WIB

Jadwal Cuti Lebaran dan Libur Sekolah 2025, Ini Tanggal Resminya

Jadwal Cuti Lebaran dan Libur Sekolah 2025, Ini Tanggal Resminya

News | Selasa, 11 Februari 2025 | 22:05 WIB

Anak Alyssa Soebandono Sekolah di Mana? Dapat Pendidikan Tasmi Alquran sejak Dini

Anak Alyssa Soebandono Sekolah di Mana? Dapat Pendidikan Tasmi Alquran sejak Dini

Lifestyle | Selasa, 11 Februari 2025 | 18:25 WIB

Terkini

HUT ke-81 RI, BRI Perluas Dampak Ekonomi Lewat 8 Kontribusi bagi Negeri

HUT ke-81 RI, BRI Perluas Dampak Ekonomi Lewat 8 Kontribusi bagi Negeri

Bogor | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:50 WIB

Wajah Berubah Jadi Kusam? Ini 6 Cara Memilih Shade Skin Tint yang Tidak Gampang Oksidasi

Wajah Berubah Jadi Kusam? Ini 6 Cara Memilih Shade Skin Tint yang Tidak Gampang Oksidasi

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:50 WIB

Pertanian RI Paling Produktif, Nomor Dua di Dunia

Pertanian RI Paling Produktif, Nomor Dua di Dunia

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:48 WIB

Dari UMKM hingga Pekerja Migran, Ini 8 Kontribusi BRI untuk Indonesia

Dari UMKM hingga Pekerja Migran, Ini 8 Kontribusi BRI untuk Indonesia

Surakarta | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:44 WIB

Senin 17 Agustus, Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah 68 Orang, 213 Terluka

Senin 17 Agustus, Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah 68 Orang, 213 Terluka

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:41 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Ini 8 Kontribusi BRI dalam Mendorong Kemajuan Negeri

Semarak HUT ke-81 RI, Ini 8 Kontribusi BRI dalam Mendorong Kemajuan Negeri

Sulsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:40 WIB

SBY Minta Maaf Absen Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ungkap Alasan Jalani Check-Up di Mayo Clinic AS

SBY Minta Maaf Absen Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ungkap Alasan Jalani Check-Up di Mayo Clinic AS

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:38 WIB

81 Tahun Indonesia Merdeka, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan Lewat 8 Kontribusi Utama

81 Tahun Indonesia Merdeka, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan Lewat 8 Kontribusi Utama

Sumut | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:37 WIB

Rupiah Lagi Berotot di HUT RI, Bergerak di Level Rp17.798

Rupiah Lagi Berotot di HUT RI, Bergerak di Level Rp17.798

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:35 WIB

Rayakan 81 Tahun Kemerdekaan, BRI Hadirkan 8 Kontribusi untuk Ekonomi Indonesia

Rayakan 81 Tahun Kemerdekaan, BRI Hadirkan 8 Kontribusi untuk Ekonomi Indonesia

Kalbar | Senin, 17 Agustus 2026 | 16:34 WIB

×