Wacana Wisata Pulau Kucing ala Jepang di Jakarta: Jadi Solusi atau Risiko Masalah Ekologi?

M. Reza Sulaiman

Selasa, 27 Mei 2025 | 16:15 WIB
Wacana Wisata Pulau Kucing ala Jepang di Jakarta: Jadi Solusi atau Risiko Masalah Ekologi?
Ilustrasi kucing liar - pulau kucing. (Photo by Yevhen Sukhenko/Pexels)

Suara.com - Gagasan menciptakan “pulau kucing” sebagai destinasi wisata tematik terdengar menarik bagi sebagian orang. Di era media sosial, citra pulau yang penuh dengan kucing jinak dan fotogenik seolah menjadi daya tarik pariwisata baru.

Pada Maret lalu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mewacanakan pengembangan pulau tematik kucing di Pulau Tidung Kecil, Kepulauan Seribu.

Wacana ini sempat disebut-sebut dapat mendatangkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata, sekaligus menjadi bentuk alternatif penanganan populasi kucing jalanan di Jakarta.

"Kalau memang nanti bisa kita wujudkan, maka itu juga bisa jadi revenue bagi Pulau Seribu, untuk orang datang kemudian menikmati wisata kucing," kata Pramono.

Namun, rencana ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, salah satunya datang dari Francine Widjojo, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI. Dalam pandangan umumnya terhadap Raperda RPJMD DKI Jakarta 2025–2029, ia menekankan bahwa pemindahan massal kucing ke pulau berisiko tinggi terhadap ekosistem lokal, terutama burung kutilang.

“Padahal pada 2019 Dinas KPKP Jakarta pernah melepasliarkan burung-burung kutilang di Pulau Tidung Kecil untuk konservasi spesies tersebut,” ungkap Francine dalam keterangannya, Selasa (27/5/2025).

Ia juga menambahkan, memindahkan kucing hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Selain beban pemeliharaan jangka panjang, ekosistem pulau yang terbatas tidak dirancang untuk mendukung populasi predator dalam jumlah besar.

“Di sisi lain, pemindahan kucing-kucing ke pulau tersebut dapat mengganggu ekosistem dan akan menimbulkan beban pemeliharaan jangka panjang karena mereka perlu dirawat seumur hidup,” tuturnya.

Pariwisata di Tengah Krisis Ekologi

baca juga

Di balik romantisasi pulau Kucing, ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari pengalaman Jepang, khususnya dari Pulau Aoshima. Pulau Aoshima, terletak di Laut Seto, Jepang, dikenal dunia sebagai “Pulau Kucing”. Kucing-kucing di sana awalnya diperkenalkan sebagai solusi alami untuk mengatasi hama tikus yang merusak jaring ikan milik nelayan.

Meskipun tidak memiliki penginapan atau toko, pulau ini tetap menarik perhatian wisatawan. Feri yang menghubungkan pulau dengan daratan beroperasi tiga kali sehari—pagi, siang, dan sore—membawa gelombang turis yang ingin berinteraksi dengan kucing-kucing ini.

Para pengunjung biasanya diberikan waktu satu jam untuk bermain, berfoto, atau memberi makan kucing di Aoshima. Fenomena ini menciptakan paradoks: di satu sisi, pariwisata memberikan perhatian dan bantuan finansial untuk perawatan kucing; di sisi lain, ia juga menganggu keseimbangan ekologi pulau yang sudah rapuh.

Tanpa predator alami dan pengelolaan populasi, jumlah kucing berkembang pesat hingga melampaui populasi manusia di pulau tersebut. Dalam satu dekade, Aoshima mencatat rasio yang mencengangkan: satu manusia untuk setiap 50 kucing.

Melansir Guardian, Selasa (27/5/2025), Aoshima kini menghadapi situasi yang jauh dari ideal. Penduduknya hanya tersisa empat orang, dan populasi kucing mulai menurun drastis. Banyak dari kucing tersebut sudah tua dan mengalami berbagai masalah kesehatan, dari kebutaan hingga gangguan pernapasan. Selain harus menangani populasi yang menua, mereka juga menghadapi dilema keseimbangan ekologi yang kian rapuh.

"Hampir seluruh penduduk sudah pindah dan menetap di daratan," jelas Naoko Kamimoto, satu dari empat penduduk yang tinggal di Aoshima. "Saya tahu ketika ada kucing yang menghilang. Ketika mereka tidak muncul setelah satu minggu, tandanya mereka sudah meninggal dan kami akan berusaha mencarinya untuk dikubur."

Pemerintah daerah setempat dan organisasi konservasi seperti Aoshima Cat Protection Society akhirnya meluncurkan program sterilisasi massal sejak 2018. Tujuannya bukan hanya untuk mengendalikan populasi, tetapi juga untuk mengantisipasi kondisi ketika tidak ada lagi manusia yang mampu merawat mereka.

Sebab, kucing-kucing yang berkembang biak tanpa kendali di lingkungan terbatas tanpa pasokan makanan memadai berisiko mengalami kelaparan massal, sekaligus mengganggu ekosistem asli pulau.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kucing Narkoba: Aksi Penyelundupan Gagal di Penjara Kosta Rika!

Kucing Narkoba: Aksi Penyelundupan Gagal di Penjara Kosta Rika!

Video | Rabu, 21 Mei 2025 | 19:29 WIB

Pro Kontra Emak-emak Tendang Makanan Kucing di Depan Rumahnya, Kalian Dukung Siapa?

Pro Kontra Emak-emak Tendang Makanan Kucing di Depan Rumahnya, Kalian Dukung Siapa?

News | Senin, 28 April 2025 | 19:45 WIB

Dear Pawrents, Kapan Kucing Bisa Vaksin Setelah Melahirkan? Jangan sampai Anabul Sakit

Dear Pawrents, Kapan Kucing Bisa Vaksin Setelah Melahirkan? Jangan sampai Anabul Sakit

Lifestyle | Rabu, 09 April 2025 | 18:23 WIB

Terkini

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan

Sumsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:40 WIB

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:16 WIB

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 23:06 WIB

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:57 WIB

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?

Bogor | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:37 WIB

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:28 WIB

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:27 WIB

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:23 WIB

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 22:22 WIB

×