Suara.com - Di balik nama unik “Menlu”, tersimpan kisah inspiratif seorang pengusaha yang pernah jatuh bangun di dunia bisnis. Setelah bangkrut di usaha semen, ia menemukan jalan baru yang membawanya sukses: mendirikan Rabanton, perusahaan beton pracetak yang kini dikenal luas di berbagai daerah.
Lahir di Situbondo dan besar di Banyuwangi, Menlu tumbuh dari keluarga sederhana. Orang tuanya adalah nelayan, dan sejak muda ia terbiasa ikut membantu keluarga. Meski sempat terjun di bisnis ikan keluarga, ia merasa panggilan hati lain menunggu.
Kesempatan datang ketika Menlu menjadi distributor semen dari paman yang memiliki pabrik. Namun, bisnis itu justru menjadi masa tergelap dalam hidupnya. Persaingan harga, tempo pembayaran panjang, dan risiko besar tanpa jaminan membuatnya bangkrut.
“Bukan hanya tanpa tabungan, saya justru terjerat utang miliaran,” kenangnya.
Titik Balik: Lima Cetakan Beton
Di tengah keterpurukan, Menlu memilih bangkit. Dengan sisa dana seadanya, ia membeli lima cetakan beton. Dari situlah lahir produk perdana: yudit, box culvert, dan pagar beton.
“Kalau ini gagal, saya benar-benar tidak tahu harus apa lagi,” ujarnya.
Berbekal doa, semangat, dan dukungan keluarga, ia memproduksi sendiri. Perlahan, usahanya mendapat perhatian. Proyek pemerintah daerah memberi peluang baru, dan dari situlah Rabanton mulai dikenal.
Rabanton: Rajanya Beton Banyuwangi
Baca Juga: Di Tengah Demo DPR, Kisah Denny dari Cakung Ini Bikin Hati Adem!
Nama Rabanton adalah singkatan dari “Rajanya Banyuwangi Beton”, yang kemudian diplesetkan menjadi “Rajanya Barang Beton”.
Meski terdengar sederhana, kiprah Rabanton semakin luas. Produk-produk Rabanton meliputi saluran drainase, pagar, hingga inovasi dermaga apung beton yang bisa terapung tanpa pondasi, mudah dipindahkan, tapi tetap kokoh. Biayanya pun jauh lebih murah dibanding dermaga konvensional.
“Kita ini negara maritim. Dengan dermaga apung, akses laut bisa lebih murah dan efisien,” kata Menlu penuh semangat.
Filosofi: Semut, Bukan Gajah
Menlu percaya kesuksesan bukan soal menjadi terbesar, tapi paling bermanfaat.
“Saya ingin jadi semut yang ada di mana-mana, bukan gajah besar yang hanya berdiri di satu tempat,” ujarnya.
Itulah sebabnya Rabanton menerapkan model franchise tanpa royalti, memberi peluang pengusaha lokal memproduksi beton pracetak dengan standar yang sama. Ia menekankan prinsip berbagi hanya ketika ada hasil: “Kalau untung, baru kita berbagi. Kalau belum ada hasil, tidak perlu dibagi.”
Komitmen pada Karyawan dan Masyarakat
Bagi Menlu, keberhasilan bisnis diukur bukan hanya dari laba, tapi juga kesejahteraan karyawan. Gaji minimal selalu sesuai UMR, dibayarkan tepat waktu, dan selalu ada setiap Sabtu.
“Kalau saya tidak bisa menggaji sesuai UMR, artinya saya menyuruh orang hidup di bawah standar. Itu bisa mendorong mereka ke jalan yang salah. Saya tidak mau itu terjadi,” tegasnya.
Filosofi inilah yang membuat Rabanton tetap bertahan meski badai bisnis melanda.
Kini Rabanton bukan hanya pemain lokal; permintaan datang dari berbagai daerah hingga Bali dan Nganjuk. Menlu percaya infrastruktur beton adalah kunci kemajuan bangsa. Dari drainase, saluran air, hingga dermaga, semua membutuhkan beton yang terukur dan tahan lama.
“Kalau Indonesia mau maju, infrastruktur harus kuat. Dan jawabannya ya, beton,” katanya.
Kisah Menlu adalah bukti nyata kegigihan. Dari kegagalan besar, ia bangkit, belajar, dan memimpin Rabanton dengan prinsip sederhana: membangun dengan hati, untuk masyarakat.
“Uang yang hilang itu uang sekolah saya,” ujarnya sambil tersenyum.
“Kalau tidak pernah rugi, saya tidak akan pernah sampai di sini,” pungkasnya.