Dengan alunan gamelan tersebut, suasana menjadi khidmat. Musik bukan sekadar hiburan, melainkan simbol bahwa Sultan hadir sebagai pemimpin yang dihormati rakyatnya.
Selain Raja Manggala, Keraton Yogyakarta memiliki tiga gendhing lain yang juga digunakan sebagai musik kehormatan, yaitu:
- Gendhing Prabu Mataram
- Gendhing Tedhak Saking
- Gendhing Sri Kondur
Gendhing Prabu Mataram dan Sri Kondur digubah oleh K.R.T Wiroguno, maestro karawitan Jawa pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII dan VIII.
Sedangkan pencipta Gendhing Raja Manggala dan Tedhak Saking tidak diketahui secara pasti, karena diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Keempat gending tersebut sama-sama masuk dalam kategori Gendhing Kurmat Dalem, yang dilantunkan khusus untuk mengiringi Sultan saat Miyos Dalem, artinya keluar menghadiri acara adat atau menerima tamu maupun Jengkar Dalem artinya bangkit dari dhampar untuk kembali ke kediaman.
Dari Keraton ke Diplomasi Modern
Gendhing Raja Manggala bukan hanya sakral di dalam tembok keraton, tapi juga pernah diperdengarkan dalam berbagai peristiwa diplomatik modern.
Pada tahun 2008, ketika Pangeran Charles yang kini menjadi Raja Charles III berkunjung ke Yogyakarta, kedatangannya diiringi Raja Manggala Pelog Patet 5.
Prosesi penyambutan berlangsung khidmat, dengan Sultan HB X menyambut langsung di Gapura Brojonolo, disertai barisan prajurit Mantrijero.
Setelah itu, perbincangan resmi dilakukan di Gedhong Jene dengan tema pluralitas dan keberagaman.
Baca Juga: Live TikTok Rekam Aksi Beringas Puluhan Polisi Keroyok Pendemo Tanpa Ampun: Woi Mati Tuh Anak Orang!
Tak hanya itu, Gendhing Raja Manggala juga pernah mengiringi acara kenegaraan tingkat nasional. Pada pembukaan Sidang Istimewa Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI 2023, Presiden Joko Widodo memasuki Assembly Hall Convention Center, Senayan, Jakarta, dengan iringan gamelan Ladran Raja Manggala.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa musik keraton Yogyakarta tidak hanya berfungsi dalam lingkup tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya di tingkat nasional maupun internasional.
Simbol Kepemimpinan dan Kehormatan
Dalam budaya Jawa, kata "Raja Manggala" bermakna pemimpin utama atau pengayom yang memberi arah bagi rakyatnya.
Oleh sebab itu, musik ini menjadi simbol legitimasi kekuasaan sekaligus penghormatan terhadap raja yang sedang bertakhta.
Kehadirannya dalam peristiwa kontemporer seperti Sultan HB X menemui massa aksi di Mapolda DIY mengingatkan bahwa nilai-nilai tradisi masih tetap hidup.
Di tengah situasi penuh ketegangan, alunan gamelan mampu menciptakan ruang damai dan menghadirkan kewibawaan tanpa perlu kata-kata berlebih.