-
Tokoh MUI menilai Ponpes Al Khoziny layak mendapat dana APBN.
-
KH Cholil Nafis dan Gus Miftah menegaskan pesantren berperan besar dalam sejarah dan pembangunan bangsa.
-
Pro-kontra muncul terkait penggunaan APBN untuk ponpes swasta dan tanggung jawab atas insiden runtuhnya bangunan.
Suara.com - Polemik pembangunan kembali Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, menuai perhatian banyak pihak.
Beberapa pemuka agama baru-baru ini viral usai mengungkap bila Al Khoziny pantas dibangun memakai APBN karena banyak tokoh besar NU adalah lulusan ponpes tersebut.
Salah satu tokoh yang dibicarakan adalah KH Muhammad Hasyim Asy'ari. Ia merupakan ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama, sekaligus pahlawan nasional.
Dua tokoh yang bersuara keras mengenai siapa saja lulusan Al Khoziny yaitu Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah (2020-2025) KH Cholil Nafis dan mantan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama Gus Miftah.
"Al Khoziny, itu alumninya ada Mbah Hasyim Asyari (pendiri NU), Mbah Kholil, Mbah Wahab. Kok sekarang dengan entengnya anggota DPR mengatakan apa izin Ponpes tersebut bisa dicabut. Heh anggota DPR, mungkin kamu sekolah. Pondok Buduran itu sudah memberikan sumbangsih yang besar untuk bangsa ini, alumninya Mbah Hasyim Asyari. Mbah Wahab yang buat Ya Lal Wathon. Anda anggota DPR yang mengatakan demikian, sumbangsihmu apa selain ngrepoti negara ini. Nuwun sewu, itu sumbangsih pondok sama sumbangsih oknum anggota DPR kira-kira besar mana?" cibir Gus Miftah ketika mengisi pengajian pada Sabtu (11/10/2025).
KH Cholil Nafis sendiri menjelaskan bila Al Khoziny pantas dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Ia menilai, banyak ponpes, terutama Al Khoziny mempunyai peranan besar untuk negara.
"Adanya UU Pesantren dan pengakuannya denga Hari Santri Nasional adalah bukti eksistensi pesantren. Maka membangun pesantren melalui dana APBN dan oprasionalnya adalah sama halnya dengan sekolah negeri. Bahkan alumni pesantren terbukti memberi kontribusi kepada bangsa sebelum kemerdekaan RI," ungkap KH Cholil Nafis (@cholilnafis) melalui akun X pada 12 Oktober 2025.
Ia turut menyinggung bahwa KH Muhammad Hasyim Asy'ari berhubungan dengan Al Khoziny sehingga APBN dinilai sangat pantas untuk ponpes.
Baca Juga: Kekayaan Atalia Praratya Disorot, Ini Pemicu Kemarahan Santri Se-Bandung
Pernyataan kedua tokoh itu ramai menuai pro dan kontra.
Pihak pro sepakat dengan kedua tokoh, tetapi pihak kontra mengkritik bila ponpes termasuk swasta sehingga pembangunan tak perlu memakai APBN.
Selain itu, sebagian netizen menuntut pengurus Ponpes Al Khoziny bertanggung jawab di depan hukum setelah tragedi runtuhnya bangunan yang menewaskan puluhan santri.

Mengutip laman resmi NU, naskah jurnal berjudul 'Peranan KH. Abdul Mujib Abbas dalam Mengembangkan Pesantren Al Khoziny Buduran Sidoarjo 1964–2010', halaman 45, menjelaskan sejumlah tokoh besar yang berhubungan dengan Al Khoziny.
Perlu diketahui, Pondok Pesantren Al Khoziny diambil dari nama pendirinya, yaitu KH. Raden Khozin Khoiruddin.
Kiai Khozin Sepuh, demikian masyarakat menyebutnya, merupakan menantu KH. Ya’qub dan pernah menjadi pengasuh Pesantren Siwalanpanji pada periode ketiga.
Sejumlah ulama besar diketahui pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Siwalanpanji. Berikut profil singkat tokoh besar NU yang berhubungan dengan Al Khoziny:
1. KH Muhammad Hasyim Asy'ari (Pendiri NU)
KH Hasyim Asy'ari (14 Februari 1871 – 25 Juli 1947) merupakan salah satu ulama besar yang dianugerahi pahlawan nasional. Ia dikenal sebagai pimpinan tinggi pertama dan pendiri organisasi massa Islam, Nahdlatul Ulama (NU).
Hasyim Asy'ari juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren TebuIreng di Jombang, Jawa Timur, salah satu ponpes tertua di Indonesia.
Beliau berasal dari keluarga yang sangat religius dan merupakan putra dari Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah. Salah satu putranya adalah K.H. A. Wahid Hasyim (juga pahlawan nasional perumus Piagam Jakarta), dan cucunya adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4.
2. KH Nawawi (Pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung, Kediri)
Sebagai pendiri Pesantren Ma'had Arriyadl Ringin Agung, Kediri, KH Nawawi dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Ia mengajar santri dengan mendalam menggunakan kitab-kitab kuning dan menjadi bagian dari tradisi keilmuan NU.
Mengutip laman NU, Kiai Nawawi pernah menjadi santri Hadratussyiakh KH Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Selain itu, pernah menjadi santri KH Qosim Siwalan Panji Buduran Sidoarjo, serta KH Sholeh Mojosari dan KH Kholil Kademangan Bangkalan.
3. KH. Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang)
K.H. Abdul Wahab Chasbullah (31 Maret 1888 – 29 Desember 1971) adalah salah satu pendiri gerakan Nahdlatul Ulama.
Beliau menginisiasi penggunaan surat kabar untuk dakwah, dengan didirikannya surat kabar Nahdlatul Ulama, Soeara Nahdlatul Oelama. Ia juga menciptakan lirik lagu Nahdlatul Ulama, Ya Lal Wathon, pada tahun 1934.
Sosok yang dikenal sebagai Mbah Wahab ini pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang.
Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.