- Sungai Bodri juga menjadi saksi bisu kebangkitan perempuan. Dulu hanya membantu, kini mereka menjadi penentu
- Purwati, petani asal Wonosobo, kini lebih berani ‘bernyanyi’ dalam banyak diskusi di desa yang membahas soal pengelolaan lahan secara organik.
- Untuk memperkuat gerakan ini, seluruh pemangku kepentingan di wilayah DAS Bodri menandatangani pakta integritas.
Suara.com - Bodri bukan sekadar aliran air yang membelah daratan di Jawa Tengah. Bagi masyarakat sekitarnya, sungai ini adalah urat nadi kehidupan. Sungai ini mengairi sawah, menyediakan air bersih, dan menjaga keseimbangan alam. Bodri juga menjadi saksi bisu kebangkitan perempuan. Dulu hanya membantu, kini mereka menjadi penentu.
Ya, ada satu pemandangan kiwari yang mulai berubah di sepanjang bantaran Sungai Bodri. Dulu, urusan pelestarian alam dan diskusi pembangunan desa di daerah aliran sungai (DAS) Bodri hampir selalu didominasi laki-laki. Kini, stigma tersebut berubah. Suara perempuan mulai terdengar nyaring. Mereka ikut menentukan arah kebijakan di tingkat paling bawah.
Transformasi ini menjadi sorotan utama dalam upaya pemulihan ekosistem DAS Bodri. Perempuan di wilayah ini tidak lagi hanya berdiri di balik layar atau sekadar menjadi tenaga pembantu di sawah tanpa suara. Mereka kini bermetamorfosis menjadi kunci keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan di tingkat tapak.
Lewat inisiatif Lingkar Belajar Perempuan (LBP) DAS Bodri, gerakan sosial mulai tumbuh subur. Program ini disokong penuh Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam (ARuPA) sebagai mitra pelaksana mendampingi perempuan di pedesaan mengenali potensi besar dalam diri mereka.
Dahulu, peran perempuan di wilayah ini sering kali terbatas pada ranah domestik seperti memasak, mengurus rumah tangga, atau membantu di lahan pertanian tanpa memiliki hak untuk berbicara dalam pengambilan keputusan desa.
Secara psikologis, banyak perempuan merasa tidak memiliki cukup kepercayaan diri untuk tampil atau sekadar berpendapat di depan umum. Tapi, kehadiran Lingkar Belajar Perempuan mengubah pola pikir tersebut. Perlahan tapi pasti. Kepercayaan diri mereka mulai tumbuh. Sejalan dengan itu, mereka lebih memahami peran penting perempuan menjaga bumi.
Purwati, petani dari Wonosobo, misalnya. Didampingi Samitra Lingkungan, dia berkisah tentang betapa sulitnya mendobrak rasa ragu itu. Ia mengakui pengetahuan dan keberanian bersuara adalah kunci utama perubahan tersebut. Kini, dia lebih berani ‘bernyanyi’ dalam banyak diskusi di desa yang membahas soal pengelolaan lahan secara organik.
"Dulu saya sering ragu. Merasa tidak tahu apa-apa. Rasanya suara kami tidak akan ada yang mendengar. Tapi sekarang, setelah belajar bersama, saya memberanikan diri terjun dalam diskusi desa soal Saya bicara soal pentingnya mengelola lahan secara organik agar tanah kita tidak rusak oleh kimia," ungkap Purwati dalam acara workshop penutupan program GEF SGP Indonesia Fase 7 di Quest Hotel Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025).

Langkah berani ini juga diikuti perempuan lain. Tri Astuti dari Kendal, contohnya, yang didampingi Arga Lestari. Ia merasakan kekinian posisi perempuan sudah jauh lebih dihargai dalam struktur pembangunan desa. Menurut dia, kini ada ruang bagi perempuan untuk memberikan perspektif yang berbeda soal kebutuhan hidup di desa. Perempuan kini bukan sekadar pelengkap.
Baca Juga: Tuntas! Warga dan Relawan Sukses Hijaukan Ratusan Hektare Lahan di Sekitar Sungai Bodri
"Sekarang suara perempuan bukan lagi sekadar pelengkap atau formalitas. Kami mulai diterima dan dilibatkan secara aktif saat desa merancang program pembangunan. Kami punya perspektif yang berbeda, terutama soal apa yang dibutuhkan keluarga dan lingkungan kami," tutur Tri Astuti menjelaskan perubahan di desanya.
Kesadaran perempuan terhadap alam pun semakin tajam dari waktu ke waktu. Perempuan dari wilayah pegunungan di hulu hingga masyarakat pesisir di hilir kini memahami, alam adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Mereka sadar cara mengelola lahan di pegunungan akan berdampak langsung pada kualitas air dan kehidupan saudara-saudara mereka di wilayah pantai.
Nah, hal inilah yang mendorong gerakan pertanian berkelanjutan semakin masif. Dalam gerakan tersebut, penggunaan pestisida kimia berangsur mulai ditinggalkan. Sebagai penggantinya, para petani menggunakan cara-cara alami yang lebih ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem, terutama di DAS Bodri.
Sebagai langkah nyata untuk memperkuat gerakan ini, seluruh pemangku kepentingan di wilayah DAS Bodri baru-baru ini menandatangani Pakta Integritas Pengarusutamaan Gender, Pencegahan Diskriminasi, serta Pelecehan Seksual. Dokumen ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan sebuah ikrar sosial yang menjamin ruang aman bagi siapa saja.
Poin-poin utama dalam pakta tersebut mencakup jaminan kesetaraan akses, partisipasi, dan kontrol bagi laki-laki maupun perempuan dalam setiap kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Melalui komitmen ini, kepemimpinan perempuan didorong secara aktif agar mereka dapat menempati posisi strategis dan memiliki pengaruh nyata dalam pengambilan keputusan kelompok.
Selain itu, pakta ini menekankan pentingnya menghargai pengetahuan ekologis tradisional yang dimiliki perempuan serta menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual.
