Perempuan Penjaga Arus, Jalan Kebangkitan dari Tepian Sungai Bodri

Rendy Adrikni Sadikin

Rabu, 17 Desember 2025 | 12:30 WIB
Perempuan Penjaga Arus, Jalan Kebangkitan dari Tepian Sungai Bodri
Aksi perempuan di Desa Sigedang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025), melakukan ‘Meditasi Mata Air’ yang diprakarsai Samitra Lingkungan. Wonosobo merupakan salah satu wilayah yang dilalui Sungai Bodri. (Dokumentasi pribadi)
baca 10 detik
  • Sungai Bodri juga menjadi saksi bisu kebangkitan perempuan. Dulu hanya membantu, kini mereka menjadi penentu
  • Purwati, petani asal Wonosobo, kini lebih berani ‘bernyanyi’ dalam banyak diskusi di desa yang membahas soal pengelolaan lahan secara organik.
  • Untuk memperkuat gerakan ini, seluruh pemangku kepentingan di wilayah DAS Bodri menandatangani pakta integritas.

Suara.com - Bodri bukan sekadar aliran air yang membelah daratan di Jawa Tengah. Bagi masyarakat sekitarnya, sungai ini adalah urat nadi kehidupan. Sungai ini mengairi sawah, menyediakan air bersih, dan menjaga keseimbangan alam. Bodri juga menjadi saksi bisu kebangkitan perempuan. Dulu hanya membantu, kini mereka menjadi penentu.

Ya, ada satu pemandangan kiwari yang mulai berubah di sepanjang bantaran Sungai Bodri. Dulu, urusan pelestarian alam dan diskusi pembangunan desa di daerah aliran sungai (DAS) Bodri hampir selalu didominasi laki-laki. Kini, stigma tersebut berubah. Suara perempuan mulai terdengar nyaring. Mereka ikut menentukan arah kebijakan di tingkat paling bawah.

Transformasi ini menjadi sorotan utama dalam upaya pemulihan ekosistem DAS Bodri. Perempuan di wilayah ini tidak lagi hanya berdiri di balik layar atau sekadar menjadi tenaga pembantu di sawah tanpa suara. Mereka kini bermetamorfosis menjadi kunci keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan di tingkat tapak.

Lewat inisiatif Lingkar Belajar Perempuan (LBP) DAS Bodri, gerakan sosial mulai tumbuh subur. Program ini disokong penuh Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia dan Aliansi Relawan untuk Penyelamat Alam (ARuPA) sebagai mitra pelaksana mendampingi perempuan di pedesaan mengenali potensi besar dalam diri mereka.

Dahulu, peran perempuan di wilayah ini sering kali terbatas pada ranah domestik seperti memasak, mengurus rumah tangga, atau membantu di lahan pertanian tanpa memiliki hak untuk berbicara dalam pengambilan keputusan desa.

Secara psikologis, banyak perempuan merasa tidak memiliki cukup kepercayaan diri untuk tampil atau sekadar berpendapat di depan umum. Tapi, kehadiran Lingkar Belajar Perempuan mengubah pola pikir tersebut. Perlahan tapi pasti. Kepercayaan diri mereka mulai tumbuh. Sejalan dengan itu, mereka lebih memahami peran penting perempuan menjaga bumi.

Purwati, petani dari Wonosobo, misalnya. Didampingi Samitra Lingkungan, dia berkisah tentang betapa sulitnya mendobrak rasa ragu itu. Ia mengakui pengetahuan dan keberanian bersuara adalah kunci utama perubahan tersebut. Kini, dia lebih berani ‘bernyanyi’ dalam banyak diskusi di desa yang membahas soal pengelolaan lahan secara organik.

"Dulu saya sering ragu. Merasa tidak tahu apa-apa. Rasanya suara kami tidak akan ada yang mendengar. Tapi sekarang, setelah belajar bersama, saya memberanikan diri terjun dalam diskusi desa soal  Saya bicara soal pentingnya mengelola lahan secara organik agar tanah kita tidak rusak oleh kimia," ungkap Purwati dalam acara workshop penutupan program GEF SGP Indonesia Fase 7 di Quest Hotel Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025).

Sejumlah produk organik yang dihasilkan warga di sekitar DAS Bodri.(Dokumentasi pribadi)
Sejumlah produk organik yang dihasilkan warga di sekitar DAS Bodri.(Dokumentasi pribadi)

Langkah berani ini juga diikuti perempuan lain. Tri Astuti dari Kendal, contohnya, yang didampingi Arga Lestari. Ia merasakan kekinian posisi perempuan sudah jauh lebih dihargai dalam struktur pembangunan desa. Menurut dia, kini ada ruang bagi perempuan untuk memberikan perspektif yang berbeda soal kebutuhan hidup di desa. Perempuan kini bukan sekadar pelengkap.

baca juga

"Sekarang suara perempuan bukan lagi sekadar pelengkap atau formalitas. Kami mulai diterima dan dilibatkan secara aktif saat desa merancang program pembangunan. Kami punya perspektif yang berbeda, terutama soal apa yang dibutuhkan keluarga dan lingkungan kami," tutur Tri Astuti menjelaskan perubahan di desanya.

Kesadaran perempuan terhadap alam pun semakin tajam dari waktu ke waktu. Perempuan dari wilayah pegunungan di hulu hingga masyarakat pesisir di hilir kini memahami, alam adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Mereka sadar cara mengelola lahan di pegunungan akan berdampak langsung pada kualitas air dan kehidupan saudara-saudara mereka di wilayah pantai.

Nah, hal inilah yang mendorong gerakan pertanian berkelanjutan semakin masif. Dalam gerakan tersebut, penggunaan pestisida kimia berangsur mulai ditinggalkan. Sebagai penggantinya, para petani menggunakan cara-cara alami yang lebih ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem, terutama di DAS Bodri.

Sebagai langkah nyata untuk memperkuat gerakan ini, seluruh pemangku kepentingan di wilayah DAS Bodri baru-baru ini menandatangani Pakta Integritas Pengarusutamaan Gender, Pencegahan Diskriminasi, serta Pelecehan Seksual. Dokumen ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan sebuah ikrar sosial yang menjamin ruang aman bagi siapa saja.

Poin-poin utama dalam pakta tersebut mencakup jaminan kesetaraan akses, partisipasi, dan kontrol bagi laki-laki maupun perempuan dalam setiap kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Melalui komitmen ini, kepemimpinan perempuan didorong secara aktif agar mereka dapat menempati posisi strategis dan memiliki pengaruh nyata dalam pengambilan keputusan kelompok. 

Selain itu, pakta ini menekankan pentingnya menghargai pengetahuan ekologis tradisional yang dimiliki perempuan serta menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual. 

Dengan mencakup perlindungan bagi kelompok disabilitas dan pemuda, penandatanganan ini menandai transisi menuju pola pembangunan yang lebih adil dan manusiawi di DAS Bodri, memastikan bahwa estafet penjagaan alam terus berlanjut tanpa ada seorang pun yang tertinggal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tuntas! Warga dan Relawan Sukses Hijaukan Ratusan Hektare Lahan di Sekitar Sungai Bodri

Tuntas! Warga dan Relawan Sukses Hijaukan Ratusan Hektare Lahan di Sekitar Sungai Bodri

Lifestyle | Rabu, 17 Desember 2025 | 10:00 WIB

Gotong Royong Benahi DAS Bodri, Mengubah Tantangan Lingkungan Menjadi Peluang Keberlanjutan

Gotong Royong Benahi DAS Bodri, Mengubah Tantangan Lingkungan Menjadi Peluang Keberlanjutan

Lifestyle | Selasa, 16 Desember 2025 | 10:55 WIB

'Meditasi Mata Air', Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Kelestarian DAS Bodri

'Meditasi Mata Air', Perempuan Wonosobo Tanam 1.000 Kopi untuk Kelestarian DAS Bodri

Lifestyle | Kamis, 20 November 2025 | 08:28 WIB

Terkini

Ratusan Rider Cilik Adu Cepat di JMTB Pushbike Competition 2026: Semua Bawa Pulang Trofi!

Ratusan Rider Cilik Adu Cepat di JMTB Pushbike Competition 2026: Semua Bawa Pulang Trofi!

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 08:37 WIB

Ulasan Novel Pulau Pendidaktis: Selukis Pendidikan Indonesia

Ulasan Novel Pulau Pendidaktis: Selukis Pendidikan Indonesia

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 08:30 WIB

4 Zodiak Diprediksi Paling Beruntung Sepanjang November 2026, Hoki Terus!

4 Zodiak Diprediksi Paling Beruntung Sepanjang November 2026, Hoki Terus!

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 08:10 WIB

Udara Jakarta Masuk Kategori Tak Sehat Pagi Ini, Terburuk Keempat di Indonesia

Udara Jakarta Masuk Kategori Tak Sehat Pagi Ini, Terburuk Keempat di Indonesia

News | Minggu, 01 November 2026 | 08:04 WIB

Pajak Bukan Uang Cuma-cuma: Rakyat Berhak Menuntut Pertanggungjawaban

Pajak Bukan Uang Cuma-cuma: Rakyat Berhak Menuntut Pertanggungjawaban

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 08:00 WIB

Cara Membersihkan Mesin Cuci 1 Tabung Tanpa Dibongkar, Praktis dan Mudah

Cara Membersihkan Mesin Cuci 1 Tabung Tanpa Dibongkar, Praktis dan Mudah

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 07:58 WIB

Pemerintah Kucurkan Rp1,235 Triliun, Pemprov Riau Kebagian Rp30 M untuk Karhutla

Pemerintah Kucurkan Rp1,235 Triliun, Pemprov Riau Kebagian Rp30 M untuk Karhutla

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 07:43 WIB

Dengar Taklimat Prabowo di Hambalang, Kadin Ungkap Investasi Dalam Negeri Hampir Rp2.000 Triliun

Dengar Taklimat Prabowo di Hambalang, Kadin Ungkap Investasi Dalam Negeri Hampir Rp2.000 Triliun

News | Minggu, 01 November 2026 | 07:37 WIB

Review The Longest Wait: Skuad Lokal dan Diaspora dalam Satu Impian Bersama

Review The Longest Wait: Skuad Lokal dan Diaspora dalam Satu Impian Bersama

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 07:30 WIB

Kapolda Kepri Ancam Sanksi Berat 4 Polisi Terlibat Penyalahgunaan Narkoba

Kapolda Kepri Ancam Sanksi Berat 4 Polisi Terlibat Penyalahgunaan Narkoba

Batam | Minggu, 01 November 2026 | 07:07 WIB

×