Ayah Aurelie mengaku telah beberapa kali meminta bantuan, namun tidak mendapatkan langkah konkret yang tegas.
Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam dari pihak keluarga karena dianggap tidak mendapatkan respons maksimal.
5. Kasus Lama Kembali Mencuat Usai Rilis Buku Broken Strings
Situasi berubah ketika Aurelie merilis Broken Strings pada awal 2026.
Dalam buku itu, ia mengungkap bahwa dirinya sempat berbohong kepada petugas karena menerima ancaman serius, mulai dari ancaman kekerasan hingga penyebaran foto pribadi.
Pengakuan ini membuat publik memahami mengapa kasus tersebut dulu terlihat buntu.
6. Klarifikasi Kak Seto
Seiring viralnya buku tersebut, media sosial dipenuhi kritik terhadap Kak Seto. Ia dituding tidak cukup proaktif melindungi Aurelie saat laporan pertama kali masuk.
Menanggapi hal itu, Kak Seto memberikan klarifikasi melalui Instagram Story pada 13 Januari 2026. Ia meminta publik menyikapi kasus lama tersebut dengan kepala dingin dan menegaskan bahwa pihaknya telah bekerja sesuai kemampuan dan tanggung jawab saat itu.
Baca Juga: Dituding Lakukan Kekerasan Seksual, Roby Tremonti Tantang Aurelie Moeremans Tunjukkan Bukti
“Mohon kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru,” tulis Kak Seto.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) itu juga menegaskan bahwa pada masa kejadian, pihaknya telah berupaya sesuai kapasitas dan tanggung jawab yang dimiliki. Ia menyadari bahwa setiap peristiwa menyisakan luka dan proses panjang bagi semua pihak yang terlibat.
Selain itu, Kak Seto mengingatkan agar kisah dalam buku Broken Strings tidak dijadikan ruang untuk saling menyerang atau menuduh secara personal. Ia menekankan bahwa pengangkatan kembali kasus lama seharusnya disikapi dengan bijak dan berempati.
Ia pun menutup klarifikasinya dengan harapan agar semua pihak yang pernah terlibat dapat berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik ke depan.
Meski klarifikasi telah disampaikan, sebagian netizen menilai pernyataan Kak Seto kurang menunjukkan empati terhadap korban.
Kasus ini akhirnya berkembang menjadi evaluasi besar terhadap sistem perlindungan anak di Indonesia. Banyak pihak berharap kasus Aurelie menjadi pelajaran agar laporan kekerasan dan grooming terhadap anak dapat ditangani lebih serius dan berpihak pada korban di masa depan.