-
Budaya patriarki disebut memicu ketimpangan kuasa yang memudahkan praktik child grooming.
-
Anak sering dididik menjadi penurut sehingga kehilangan kesadaran akan batasan diri.
-
Pola pikir sosial cenderung menyalahkan korban dan memaklumi perilaku predator laki-laki.
Akibatnya, mereka tidak terlatih untuk memiliki boundary awareness atau kesadaran akan batasan diri.
3. Kebiasaan Menyalahkan Korban atau Victim Blaming
Pola pikir patriarki sering kali mengalihkan tanggung jawab dari pelaku ke korban.
Misalnya, anak yang menjadi korban sering kali justru mendapat pertanyaan mengapa tak menolak atau disalahkan caranya berpakaian.
Hal tersebut aalah bentuk distorsi cara berpikir untuk menjaga rasa aman palsu di masyarakat.
Dampaknya, pelaku tetap melenggang tanpa sanksi yang memberikan efek jera. Sedangkan, korban justru dipojokkan dan dikucilkan.
4. Pendidikan Seks Dianggap Tabu, Tapi Naluri Laki-Laki Dimaklumi
Budaya ini menciptakan kondisi yang disebut Perfect Storm, di mana pendidikan seks dianggap tabu sehingga anak tidak punya bahasa untuk melapor jika tubuhnya disentuh.
Di sisi lain, perilaku seksual laki-laki dewasa sering dimaklumi sebagai insting atau bawaan.
Hal ini menjadi ruang aman bagi predator, karena mereka tahu korban tidak akan dipercaya saat bicara.
5. Label Anak Sudah Dewasa Sebelum Waktunya Sebagai Jebakan
Predator sering kali melabeli anak yang menjadi korban sudah matang atau dewasa dibandingkan anak seumurannya.
Pelaku juga bisa saja melontarkan pujian bahwa hanya korban yang bisa memahaminya.
Secara ilmiah, perilaku itu disebut adultification bias.
Label ini digunakan untuk menghapus fakta bahwa relasi tersebut sangat tidak setara.
Padahal, kematangan kognitif anak tidak sama dengan kapasitas orang dewasa untuk memberikan persetujuan secara emosional dan seksual.
6. Anak Perempuan Dilatih Jadi People Pleaser
Sejak kecil, banyak anak perempuan dididik untuk selalu menyenangkan orang lain, tidak boleh kasar, dan jangan mengecewakan orang lain.
Dalam psikologi relasi, hal ini meningkatkan risiko freeze response, kondisi di mana anak hanya bisa diam dan menurut saat terancam.
"Grooming tidak butuh perlawanan fisik, cukup anak yang dilatih untuk tidak bisa menolak," tegas Anastasia.
Menurut Anas Satriyo, child grooming berhasil bukan karena anak itu lemah, melainkan karena lingkungan sosial dan budaya patriarki membungkam sinyal bahaya yang seharusnya melindungi mereka.
Membongkar pola pikir patriarki adalah langkah penting untuk memutus rantai eksploitasi pada anak.