- Wakil Presiden Argentina memicu kontroversi politik terkait sengketa Kepulauan Malvinas menjelang semifinal Piala Dunia melawan Inggris di Georgia.
- Pernyataan tersebut menyinggung rivalitas historis kedua negara yang pernah terlibat dalam perang mematikan pada tahun 1982 silam.
- Pelatih Lionel Scaloni menegaskan bahwa pertandingan sepak bola harus dipisahkan dari konflik sejarah serta tragedi perang masa lalu.
Suara.com - Laga semifinal Piala Dunia antara Argentina dan Inggris di Georgia, Kamis (16/7/2026) dini hari diwarnai pernyataan bernuansa politik dari Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel yang kembali menyinggung Konflik Falkland atau Malvinas.
Melalui unggahan di media sosial X, Villarruel menyebut Inggris sebagai "bajak laut yang merebut kekuasaan" dan menilai duel melawan Inggris memiliki makna lebih dari sekadar pertandingan sepak bola.
"Besok kita bermain melawan bajak laut yang merebut kekuasaan. Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Melawan Inggris selalu ada sesuatu yang lebih. Ini Malvinas, ini Diego, ini pertandingan terakhir Leo (Messi). Maju Argentina, karena sampai napas terakhir kita akan merebut apa yang menjadi milik kita," tulis Villarruel melansir Mirror, Rabu (15/7/2026).
Pernyataan tersebut merujuk pada sengketa Kepulauan Falkland (Malvinas) yang memicu perang antara Argentina dan Inggris pada 1982.
Konflik tersebut menewaskan lebih dari 900 orang dan hingga kini masih menjadi isu sensitif dalam hubungan kedua negara.

Komentar Villarruel muncul di tengah sorotan terhadap rivalitas historis Argentina dan Inggris menjelang pertandingan semifinal yang akan menentukan satu tempat di final menghadapi Spanyol.
Sementara itu, pelatih tim nasional Argentina Lionel Scaloni menegaskan bahwa pertandingan seharusnya tidak dikaitkan dengan konflik politik maupun sejarah perang.
Menurutnya, sepak bola dan tragedi kemanusiaan merupakan dua hal yang harus dipisahkan.
"Ini adalah pertandingan sepak bola. Saya tidak bisa mencampuradukkan hal-hal tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap apa yang terjadi bertahun-tahun lalu," ujar Scaloni.
Pelatih berusia 48 tahun itu menyebut Perang Falkland merupakan bagian yang menyedihkan dalam sejarah Argentina, namun tidak semestinya dijadikan bagian dari pertandingan yang dimainkan generasi pemain saat ini.
"Itu adalah masa yang sangat menyedihkan dalam sejarah kami dan kami tentu mengenangnya. Namun mencampuradukkan perang dengan pertandingan sepak bola adalah hal yang keliru," katanya.
Scaloni juga mempertanyakan keterkaitan para pemain saat ini dengan peristiwa yang terjadi lebih dari empat dekade lalu.
"Apa hubungannya para pemain sekarang dengan kejadian bertahun-tahun yang lalu? Kami menghormati mereka yang gugur dalam perang, tetapi sepak bola harus dipisahkan dari konflik tersebut," ujar Scaloni.
Argentina akan menghadapi Inggris untuk memperebutkan tiket ke final Piala Dunia, sementara Spanyol telah lebih dulu memastikan tempat di partai puncak setelah mengalahkan Prancis pada semifinal lainnya.
