- Buku perdana Mira Sumanti, *Swipe Therapy*, merefleksikan realitas generasi yang akrab dengan aplikasi kencan pasca batalnya rencana pernikahan.
- Penulis menggunakan aplikasi kencan sebagai ruang refleksi diri untuk menelusuri pola relasi, luka lama, dan ekspektasi dalam hubungan.
- Peluncuran global *Swipe Therapy* dijadwalkan pada 3 Maret 2026, setelah pengumuman presale 23 Januari 2026 di Jakarta.
Suara.com - Di zaman ketika hubungan bisa dimulai dari satu gerakan jempol, kisah cinta pun ikut berevolusi. Swipe Therapy, buku perdana Mira Sumanti, menangkap realitas itu dengan jujur, rapuh, dan sangat relevan bagi generasi yang tumbuh bersama dating apps.
Sering dijuluki sebagai Eat Pray Love versi generasi Tinder, buku ini bukan tentang liburan spiritual atau pelarian romantis. Justru sebaliknya, Swipe Therapy berangkat dari titik paling kosong dalam hidup Mira: rencana pernikahan yang batal dan perasaan hampa yang datang setelahnya.
“Ketika semuanya runtuh, aku tidak langsung merasa sedih. Aku merasa kosong. Dan itu justru yang paling menakutkan,” tulis Mira.
Alih-alih menjadikan dating apps sebagai “penjahat” atau “penyelamat”, Mira memosisikannya sebagai ruang refleksi. Tempat ia menelusuri ulang pola relasi, luka lama, ekspektasi, dan keyakinan yang tanpa sadar selalu ia bawa ke dalam hubungan. Istilah Swipe Therapy sendiri awalnya terdengar seperti candaan, tapi perlahan berubah menjadi proses memahami diri sendiri—swipe demi swipe.
Dalam perjalanannya, Mira bertemu beragam sosok yang masing-masing meninggalkan jejak berbeda. Ada neuroscientist yang memberinya sudut pandang ilmiah tentang patah hati, sutradara film dengan ambisi besar namun ketidakselarasan mendasar, hingga figur tak terduga yang membawanya pada pengalaman paling intens dan membebaskan dalam hidupnya. Namun, tak satu pun ditulis sebagai “kisah cinta utama”. Semua hadir sebagai potongan pengalaman yang membentuk pemahaman baru tentang batasan dan kebutuhan diri.
“Beberapa orang adalah cermin. Yang lain adalah pelajaran. Dan sebagian hanya hadir untuk menunjukkan apa yang tidak aku inginkan.”
Latar cerita yang bergerak dari Jakarta, Bali, San Francisco, hingga kehidupan malam Tokyo memberi warna kosmopolitan yang kuat. Tapi di balik gemerlap kota-kota itu, emosi yang ditampilkan tetap terasa intim. Buku ini dekat dengan realitas perempuan urban yang mandiri dan rasional, namun tetap rapuh ketika berbicara soal hati.
Yang menarik, Swipe Therapy tidak mengglorifikasi proses healing. Mira justru menyorot ketidakteraturan: hari-hari ketika tidak menangis bukan berarti sudah baik-baik saja, atau keinginan untuk terlihat kuat padahal masih belajar bernapas dengan normal. Dari situ, buku ini terasa lebih manusiawi daripada motivasional.
Lebih dari sekadar memoar tentang dunia dating, Swipe Therapy adalah refleksi tentang membangun ulang identitas setelah hidup tak berjalan sesuai rencana. Tentang keberanian memulai lagi, meski tanpa sorotan, tanpa kepastian, dan sering kali dalam kesunyian.
Baca Juga: Kitchen Karya Banana Yoshimoto: Menemukan Harapan di Tengah Kehampaan
Mira berbicara langsung pada perempuan-perempuan ambisius yang hidup di antara tradisi dan perubahan—mereka yang sibuk membangun karier dan masa depan, sambil diam-diam menyembuhkan bagian diri yang pernah merasa hidupnya sudah “selesai”.
“Tidak semua yang berakhir berarti gagal. Kadang, sesuatu berakhir karena memang tugasnya sudah selesai.”
Swipe Therapy diumumkan presale-nya pada 23 Januari 2026 di Zodiac Baresto, dengan peluncuran global dijadwalkan pada 3 Maret 2026. Buku ini akan tersedia di Amazon, Barnes & Noble, berbagai toko buku online internasional, serta Tokopedia untuk pembaca di Indonesia.
Sebagai buku debut, karya Mira Sumanti menawarkan sesuatu yang sederhana tapi jarang: kejujuran emosional tentang cinta, kehilangan, dan proses menemukan diri sendiri di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.