Pujian yang umumnya dibacakan saat Sradha, mulai berganti dengan membaca ayat suci Al-Qur’an, dzikir, tahlil maupun doa.
Sehingga menjadi populer dengan istilh nyadran yang dilakukan saat hari ke-10 bulan Rajab atau masuk bulan Syaban.
Walaupun pelaksanaan antar daerah bisa berbeda-beda. Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) yang bertujuan menyambut datangnya bulan Ramadan penuh berkah.
Tata Cara Nyadran
Melansir dari informasi yang sama pada paragraf sebelumnya, tradisi nyadran terdiri berbagai kegiatan. Pelaksanaannya tergantung wilayah maupun adat masyarakat setempat.
Namun, tata cara maupun prosesi secara umum sebagai berikut:
- Bersik
Kegiatan yang dilakukan berupa membersihkan makam leluhur dari rerumputan maupun kotoran secara gotong royong.
- Kirab
Umumnya berupa arak-arakan peserta nyadran menuju ke lokasi upacara adat yang telah ditentukan.
- Ikrar
Aktivitas berisikan penyampaian maksud dari terlaksananya upacara Nyadran yang dilakukan Pemangku Adat.
- Doa
Acaranya lebih mengarah pada pembacaan doa bersama yang dipimpin Pemangku Adat.
- Tasyakuran
Kegiatan ini berupa pelaksanaan prosesi makan bersama yang bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebagai wujud rasa syukur dan menjalin keakraban antar warga.
Pelestarian Budaya Sekaligus Nilai Sosial Masyarakat
Waktu semakin berlalu, nyadran bukan sekedar proses ritual keagamaan. Namun, terselip nilai-nilai budaya serta sosial dalam masyarakat.
Dengan adanya tradisi tersebut semakin mempererat tali persaudaraan dengan gotong royong dan kebersamaan.
Sebagai warisan turun-temurun, tradisi nyadran sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang tetap lestari dan mengakar, meskipun berada di era modern seperti sekarang.
Kontributor : Damayanti Kahyangan