- Perempuan memegang peran krusial dalam produksi gula semut di Sabu Raijua, terutama pada tahap pascapanen.
- Peran perempuan dalam rantai produksi ini mendorong kemandirian ekonomi namun menimbulkan tantangan beban ganda (triple burden).
- Program pendanaan memprioritaskan kelompok perempuan agar mendapat manfaat setara dan meningkatkan literasi keuangan.
Suara.com - Sinergi gender menjadi roda penggerak dalam rantau produksi gula semut di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Perempuan memegang peranan penting dalam proses pascapanen. Namun, di tengah peran krusial tersebut, para perempuan menghadapi tantangan lain: triple burden.
Di tengah bentang alam semiarid Sabu Raijua, “pohon kehidupan” bernama lontar menyediakan hampir semua kebutuhan dasar masyarakat. Dalam pengolahan nira lontar menjadi gula semut, ada pembagian peran gender yang sangat spesifik dan efisien. Perempuan memegang kendali utama pada tahap pascapanen yang menentukan kualitas produk.
Kemandirian ekonomi masyarakat di sana menemukan momentum baru lewat keterlibatan aktif kaum perempuan dalam rantai produksi gula semut. Di balik butiran manis berwarna coklat ini, tersaji harmoni pembagian kerja berbasis gender. Tidak cuma berjalan alami, tapi juga sangat efisien dalam menjaga ritme industri rumahan tersebut.
Semuel Uly selaku Ketua Kelompok Tani Suka Maju di Desa Eilode menggambarkan proses produksi dimulai dari pekerjaan berisiko tinggi yang dilakukan laki-laki. Para penyadap harus memanjat pohon setinggi 20 hingga 30 meter untuk mengambil nira. Setelah nira terkumpul dan dibawa ke rumah, peran krusial berpindah ke tangan istri dan anak perempuan mereka.

“Laki-laki dan perempuan mengambil peran dalam produksi gula semut. Laki-laki fokus di penyadapan, sedangkan perempuan mayoritas berperan pasca panen: memasak, memproses yang meliputi penjemuran, penghalusan, dan penempelan label sampai produk siap dijual,” jelas Semuel saat ditemui di kediamannya, Kamis (15/1/2026).
Ya, pekerjaan pascapanen memang menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi. Para perempuan harus menyaring nira agar bersih dari kotoran dan serpihan daun demi menjaga mutu. Mereka kemudian memasak nira di atas tungku kayu bakar selama 3 sampai 4 jam sambil terus mengaduknya agar tidak gosong.
Nah, setelah cairan nila mengental, kuali diangkat dari tungku dan didiamkan sekitar 10 menit untuk pendinginan awal. Tahap terakhir ini sangat menentukan. Setelah mengental, butiran gula dibentuk dengan cara diaduk menggunakan batok kelapa, lalu dijemur di bawah sinar matahari dan dikemas ke dalam stoples atau plastik.
Motivasi ekonomi dan kontribusi keluarga
Selaku ketua kelompok, Semuel menegaskan kolaborasi ini bukan tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memperkuat posisi perempuan dalam kegiatan produktif di tingkat tapak. Bagi para perempuan, kata dia, keterlibatan didorong keinginan untuk membantu suami dan mendapatkan pendapatan tambahan demi menopang ekonomi keluarga.
Motivasi ekonomi ini disampaikan oleh anggota kelompok perempuan di Desa Ranyale, Kecamatan Sabu Barat. Di sana, mereka membuat gula sabu dan stik lontar. Mereka ikut andil dalam program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7. Salah satu motivasi utama mereka adalah ingin mendapatkan tambahan pemasukan.
“Untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Di samping membantu suami memasak gula sabu, mereka ingin mendapatkan pemasukan dari usaha lain untuk membantu perekonomian keluarga,” ujar salah seorang anggota kelompok perempuan di Desa Ranyale.
Meskipun memproduksi gula semut dianggap lebih menguntungkan karena nilai jualnya yang lebih tinggi dan daya simpan yang lebih lama, para perempuan ini masih harus menghadapi tantangan psikologis di masyarakat. Banyak warga yang masih enggan beralih dari gula cair tradisional karena persepsi kerumitan prosesnya.
“Masyarakat lebih memilih produksi gula Sabu cair karena dianggap praktis. Proses produksi gula semut dianggap lebih rumit dibandingkan dengan produksi gula cair,” kata Semuel.

Tantangan Beban Ganda dan Inklusivitas
Di balik peran produktifnya, perempuan Sabu Raijua menghadapi tantangan lain. Latipah, Direktur Yayasan Detara sebagai konsultan inklusivitas gender, mengatakan perempuan memikul beban yang sangat berat atau dikenal sebagai triple burden.