Elegi Gula Semut, Asa Baru Ekonomi Hijau di Jantung Sabu Raijua

Rendy Adrikni Sadikin | Suara.com

Minggu, 08 Februari 2026 | 19:26 WIB
Elegi Gula Semut, Asa Baru Ekonomi Hijau di Jantung Sabu Raijua
Gula semut.(Dokumentasi pribadi)
  • Kelompok Tani Suka Maju di Sabu Raijua mengembangkan gula semut sebagai alternatif bernilai jual tinggi dibandingkan gula cair tradisional.
  • Kelompok yang dipimpin Semuel Uly ini terkendala kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi permintaan pasar ekspor dan hotel.
  • Tantangan utama adalah kebiasaan masyarakat yang lebih menyukai produksi gula cair karena dianggap lebih praktis dan mudah.

Suara.com - Gula semut menjadi saksi bisu transformasi ekonomi di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Berawal dari sebuah dapur sederhana, Kelompok Tani Suka Maju membuat gula semut sebagai alternatif ekonomi yang lebih menjanjikan ketimbang gula cair tradisional.

Kelompok Tani Suka Maju, yang dipimpin Semuel Uly, kini tengah berfokus mengembangkan gula semut. Ya, gula semut ini memang memiliki keunggulan dibandingkan gula cair tradisional. Menurut Semuel, gula semut memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Nggak cuma itu, gula semut juga daya simpan yang lebih lama ketimbang gula biasa.

Gula semut memang dikembangkan untuk menyasar pasar perhotelan dan ekspor dibandingkan gula Sabu cair tradisional yang umumnya dijual seharga Rp 130 ribu hingga Rp 150 ribu per jeriken berisi 5 liter. Meski daya simpan lebih lama, proses pembuatan gula semut oleh sebagian masyarakat dinilai lebih ribet ketimbang gula cair.

Potensi pasar untuk emas cokelat dari Eilode ini pun ternyata sangat besar cum menjanjikan. Semuel mengungkapkan bahwa permintaan dari kalangan pegawai dan pemerintah terus mengalir. Sayangnya, kapasitas produksi gula semut saat ini belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar tersebut.

Melansir laman Trubus pada 2024, kapasitas produksi Semuel dan kelompok Tani Suka Maju bisa mencapai 10 kilogram gula semut lontar per hari. Kendati begitu, jumlah itupun belum mampu memenuhi permintaan yang datang. Bahkan, ketika dia bisa menghasilkan 30 kilogram per hari gula semut, itu pasti ludes terjual.

Semuel Uly, Ketua Kelompok Tani Suka Maju di Desa Oilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, NTT.(Dokumentasi Pribadi)
Semuel Uly, Ketua Kelompok Tani Suka Maju di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, NTT.(Dokumentasi Pribadi)

Kekinian, kelompok Tani Suka Maju juga telah terkoneksi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan (DPMPTSP & Perindag). Tak hanya itu, kelompok tersebut juga memiliki akses ke NTT Market sebagai platform pemasaran untuk produksi gula semut yang mereka kembangkan.

Beranggotakan 10 orang, kelompok Tani Suka Maju memang memiliki kekuatan yang menjadi modal dasar pengembangan gula semut. Bukan cuma itu, mereka juga memiliki pengalaman serta kepiawaian dalam membuat gula semut.

Tak hanya itu saja, melalui pemerintah dan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, kelompok juga mendapatkan dukungan dalam bentuk peralatan. Sebut saja, oven, kuali hingga wadah penyimpanan. Peralatan tersebut tak pelak sangat penting dalam rantai produksi gula semut.

“Kami sudah memiliki peralatan yang cukup lengkap untuk produksi gula semut. Bantuan dari pemerintah dan yayasan (GEF SGP Indonesia–RED) sangat membantu kami dalam meningkatkan kualitas produksi,” ungkap Semuel saat ditemui di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Kamis (15/1/2026).

Selain itu, kelompok Tani Suka Maju juga memiliki akses terhadap lahan suku. Lahan ini bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan kelompok. Selain sebagai aset strategis untuk pengembangan, lahan ini bisa digunakan untuk membangun fasilitas produksi dan lokasi penjemuran bersama.

Sejatinya, dengan fasilitas produksi dan area penjemuran bersama, kualitas produk yang dihasilkan pun bisa diseragamkan. Hal ini bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, standarisasi kualitas menjadi penting dalam meningkatkan daya saing produk gula semut di pasar yang lebih luas.

Selain itu, kelompok ini juga memiliki potensi menjadi instruktur pelatihan gula semut bagi kelompok-kelompok lain di wilayah Sabu Raijua. Pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki dapat ditransfer kepada masyarakat luas. Alhasil, dampak ekonomi yang dihasilkan dari rantai gula semut ini bisa lebih besar.

Ilustrasi proses produksi gula semut.(Dibuat oleh Google NotebookLM)
Ilustrasi proses produksi gula semut.(Dibuat oleh Google NotebookLM)

Adapun pembuatan gula semut diawali dengan proses penyadapan nira dari mayang pohon lontar. Biasanya, proses ini dilakoni laki-laki. Mereka memanjat pohon setinggi 20 hingga 30 meter. Setelah nira terkumpul, tahap pertama yakni adalah penyaringan untuk memastikan nira bersih dari kotoran atau serpihan daun guna menjaga kualitas mutu produk.

Nira yang telah bersih lalu dimasak di kuali besar di atas tungku kayu bakar. Prosesnya kurang lebih 3 hingga 4 jam. Selama proses ini, nira harus diaduk secara berkala. Suhu api pun perlu dijaga agar tidak terlalu besar. Jadi, cairan gula di dasar kuali tidak gosong. Setelah cairan nira mengental, kuali diangkat dari tungku dan didiamkan sekitar 10 menit untuk pendinginan awal.

Tahap akhir paling menentukan yakni pengadukan cepat menggunakan batok kelapa saat gula mulai mendingin hingga cairan kental itu berubah menjadi butiran-butiran halus atau granul. Butiran gula semut ini selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering sebelum akhirnya dikemas ke stoples atau plastik bening untuk dipasarkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon

Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon

Lifestyle | Jum'at, 06 Februari 2026 | 18:50 WIB

Menjaga Warisan Leluhur, Rahasia Ketangguhan Masyarakat Adat Jingitiu di Tanah Sabu

Menjaga Warisan Leluhur, Rahasia Ketangguhan Masyarakat Adat Jingitiu di Tanah Sabu

Lifestyle | Jum'at, 30 Januari 2026 | 10:58 WIB

Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim

Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim

Lifestyle | Kamis, 29 Januari 2026 | 10:18 WIB

Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif

Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif

Lifestyle | Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:00 WIB

Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global

Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global

Lifestyle | Jum'at, 16 Januari 2026 | 10:55 WIB

Terkini

Koleksi Terbaru Musim Panas 2026, Pedro Tawarkan Gaya Pesisir yang Ringan, Elegan, dan Timeless

Koleksi Terbaru Musim Panas 2026, Pedro Tawarkan Gaya Pesisir yang Ringan, Elegan, dan Timeless

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 21:05 WIB

Pembagian Daging Kurban Berapa Kg untuk Tiap Penerima? Ini Ketentuan Sesuai Syariat

Pembagian Daging Kurban Berapa Kg untuk Tiap Penerima? Ini Ketentuan Sesuai Syariat

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:48 WIB

Lagi Butuh Healing? 7 Destinasi Spa Mewah di Western Australia Ini Bikin Pikiran Reset Total

Lagi Butuh Healing? 7 Destinasi Spa Mewah di Western Australia Ini Bikin Pikiran Reset Total

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:45 WIB

Harga Plastik Melonjak! Ini 5 Alternatif Wadah Daging Kurban yang Ramah Lingkungan

Harga Plastik Melonjak! Ini 5 Alternatif Wadah Daging Kurban yang Ramah Lingkungan

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 20:35 WIB

Shio yang Ciong pada 10 Mei 2026, Ada yang Rentan Konflik dan Keuangan Bocor

Shio yang Ciong pada 10 Mei 2026, Ada yang Rentan Konflik dan Keuangan Bocor

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 19:45 WIB

Berapa Gaji di Kapal Pesiar? Ini Daftar Lengkap Beserta Posisi dan Tunjangannya 2026

Berapa Gaji di Kapal Pesiar? Ini Daftar Lengkap Beserta Posisi dan Tunjangannya 2026

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 19:35 WIB

Selain Adidas dan Nike, Ini 14 Merek Sepatu Olahraga yang Nyaman dan Lagi Populer

Selain Adidas dan Nike, Ini 14 Merek Sepatu Olahraga yang Nyaman dan Lagi Populer

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 19:22 WIB

Sensasi Lari di Tengah Kota Pahlawan, JETE RUN 2026 Sajikan Rute Penuh Sejarah

Sensasi Lari di Tengah Kota Pahlawan, JETE RUN 2026 Sajikan Rute Penuh Sejarah

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 18:38 WIB

Naik Kapal Pesiar Bayar Berapa? Segini Harga Cruise 2026 dan Cara Belinya

Naik Kapal Pesiar Bayar Berapa? Segini Harga Cruise 2026 dan Cara Belinya

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 17:51 WIB

Waspada Skincare Ilegal! Ini 3 Cara Mudah Cek BPOM Kosmetik Asli atau Palsu

Waspada Skincare Ilegal! Ini 3 Cara Mudah Cek BPOM Kosmetik Asli atau Palsu

Lifestyle | Sabtu, 09 Mei 2026 | 15:40 WIB