Suara.com - Kue keranjang hampir tak pernah absen muncul di meja perayaan Imlek dari tahun ke tahun. Kue ini tentu mudah dikenali dengan warna coklat gelapnya dan rasa manis serta aroma yang harum.
Hidangan yang akrab disebut sebagai nian gao oleh para masyarakat Tionghoa ini tak hanya legit dan kenyal digigit, namun punya makna mendalam.
Konon, filosofi masyarakat Tionghoa yang sarat akan ajaran budi luhur dan kebersamaan melekat dalam kue yang lengket ini.
Lantas, apa arti dari kue keranjang yang selalu muncul di perayaan Tahun Baru Imlek?
Rasa hingga tekstur punya arti masing-masing
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kue ini punya nama asli nian gao. Adapun kata nian gao dan aksara Hanzi yang mewakilinya punya arti sama dengan kata "setiap tahun semakin tinggi".
Kata tersebut yang mendasari makna filosofis utamanya, yakni doa agar kehidupan seseorang terus meningkat, baik dalam hal karier, kesehatan, maupun kebahagiaan.
Tiap aspek dari kue ini juga punya nilai filosofis mendalam. Mari bedah satu persatu makna dari kue keranjang dalam tiap aspeknya.
- Persatuan dan kekeluargaan (Tekstur)
Teksturnya yang sangat lengket melambangkan hubungan keluarga yang erat dan tidak terpisahkan.
- Keberuntungan yang manis (Rasa)
Rasa manis yang dominan adalah simbol harapan agar di tahun yang baru, hanya hal-hal manis dan menyenangkan yang dialami.
- Daya tahan dan kesabaran (Proses pembuatan)
Proses pembuatannya yang memakan waktu belasan jam mencerminkan kegigihan dan kesabaran untuk mencapai hasil terbaik dalam hidup.
Membuat kue keranjang sebenarnya menggunakan bahan yang sangat sederhana, namun membutuhkan kesabaran ekstra.
Kunci kekenyalan dan keawetannya bukan terletak pada pengawet kimia, melainkan pada proses pengukusan yang sangat lama.
Proses yang lama ini akan mematangkan tepung secara sempurna dan menyebabkan gula mengalami karamelisasi total.
Hal ini membuat kue berwarna cokelat gelap, mengkilap, bertekstur legit, dan mampu bertahan hingga satu tahun tanpa berjamur.