Suara.com - Polemik mengenai besarnya biaya operasional Sidang Isbat kembali mencuat setiap menjelang penetapan awal Ramadan. Publik kerap mempertanyakan berapa sebenarnya dana yang dikeluarkan negara hanya untuk menentukan satu tanggal penting dalam kalender hijriah.
Tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar Sidang Isbat pada Selasa (17/2/2026) di Hotel Borobudur, Jakarta. Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, sebelumnya menjelaskan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk sidang tersebut berkisar antara Rp140 juta hingga Rp160 juta.
Dana ratusan juta rupiah itu digunakan untuk membiayai transportasi dan konsumsi ratusan undangan. Mereka terdiri dari perwakilan organisasi masyarakat (ormas) Islam, pakar astronomi, duta besar negara sahabat, hingga petugas rukyatul hilal di berbagai daerah di Indonesia.
Pemerintah beralasan bahwa anggaran tersebut merupakan bentuk kehadiran negara dalam memberikan kepastian hukum dan kepastian ibadah bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Dampak keputusan Sidang Isbat tidak hanya berkaitan dengan ibadah puasa, tetapi juga memengaruhi operasional perbankan, dunia usaha, hingga penetapan hari libur nasional.
Meski teknologi astronomi modern sudah sangat presisi dalam menghitung posisi bulan, tradisi Sidang Isbat tetap dipertahankan. Selain sebagai sarana edukasi publik, forum ini juga menjadi simbol musyawarah dan persatuan umat. Dengan demikian, proses yang tampak sederhana seperti “melihat bulan” sejatinya melibatkan mekanisme birokrasi, koordinasi nasional, dan tentu saja biaya operasional.
Lalu, seperti apa sebenarnya Hotel Borobudur yang menjadi lokasi penyelenggaraan Sidang Isbat tersebut? Berikut tujuh faktanya.
1. Hotel Bintang Lima Legendaris di Pusat Jakarta
Hotel Borobudur Jakarta dikenal sebagai salah satu hotel bintang lima legendaris di ibu kota. Berdiri di atas lahan hijau seluas 9,5 hektare, hotel ini menawarkan suasana asri di tengah padatnya kawasan pusat pemerintahan dan bisnis Jakarta.
Lokasinya sangat strategis karena berada tepat di jantung kota. Hanya sekitar lima menit berkendara dari Istana Kepresidenan, hotel ini juga berdekatan dengan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.
2. Dekat dengan Pusat Pemerintahan dan Ikon Nasional
Posisi Hotel Borobudur sangat mendukung penyelenggaraan acara kenegaraan maupun forum resmi seperti Sidang Isbat. Selain dekat dengan Istana Negara, hotel ini juga berada tidak jauh dari berbagai kantor pemerintahan, pusat bisnis, serta perbankan.
Sejumlah objek wisata ikonik Jakarta juga berada di sekitarnya, seperti Monumen Nasional (Monas), Museum Nasional, Museum Sumpah Pemuda, hingga Museum Fatahilah di kawasan Kota Tua. Akses menuju Stasiun Gambir hanya sekitar tiga menit berkendara, sementara perjalanan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta memakan waktu sekitar 35 menit.
3. Memiliki 695 Kamar dengan Fasilitas Lengkap
Hotel Borobudur menawarkan 695 kamar dengan berbagai tipe. Setiap kamar dilengkapi dengan brankas, sandal, ruang duduk terpisah, meja tulis, dan telepon. Tamu juga mendapatkan akses WiFi gratis dengan kecepatan internet 50+ Mbps.
Kamar mandi tersedia dalam pilihan bathtub atau shower. Layanan penggantian handuk dan seprai bisa dilakukan atas permintaan, sementara pembenahan kamar disediakan setiap hari. Fasilitas ini menjadikan hotel ini cocok untuk tamu bisnis maupun delegasi resmi.