Suara.com - Di bulan suci Ramadan, umat muslim di seluruh dunia berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah terbaik, termasuk salat tarawih.
Salat tarawih merupakan ibadah sunah yang dilakukan setiap malam di bulan Ramadan, biasanya setelah Isya sebelum salat Witir. Ibadah Sunnah Muakad ini sebagai bentuk kedekatan kepada Allah SWT dan banyak keutamannya.
Salat Tarawih sangat dianjurkan dilakukan selama bulan puasa, bahkan Nabi Muhammad SAW dulu sangat rutin melakukannya sebagaimana terekam daam sebuah riwayat hadist yang berbunyi:
َامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Barang siapa melakukan ibadah di bulan Ramadan dengan beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau." (HR Bukhari, Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa, setiap ibadah yang dilakukan dengan keimanan dan keihklasan tinggi akan mendapatkan ampunan Allah SWT.
Nabi Muhammad pertama kali melaksanakan ibadah tarawih pada tahun kedua hijriah, dilakukan di secara berjamaah di masjid sebanyak 11 rakaat.
Namun pada perkembangannya, salat Tarawih bisa dilakukan sebanyak 8, 20, dan 36 rakaat. Hingga muncul pertanyaan penting di kalangan orang awam: Salat Tarawih minimal berapa rakaat?
Sebelum mengetahui berapa minimal rakaat salat Tarawih, lebih baik ketahui dulu sejarah tarawih serta hadis yang menyertainya. Berikut uraian singkatnya.
Sejarah Salat Tarawih
Muhammad SAW pertama kali melaksanakan tarawih pada tahun kedua hijriah, tepatnya tanggal 23 Ramadan.
Saat melakukan ibadah tersebut, Rasulullah SAW tidak selalu mengerjakan di masjid, namun juga melakukannya di rumah.
Hal tersebut pernah diceritakan Sayyidah Aisyah RA, tercantum dalam hadis riwayat Bukhari.
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي المَسْجِدh، فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ القَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: «قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Artinya: "Dari urwah bin zubair dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radliyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak sahabat shalat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, 'Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila shalat ini diwajibkan pada kalian'. Sayyidah ‘Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadan'." (HR Bukhari)
Ketika masa Nabi, istilah yang dipakai berupa qiyamul lail bukan disebut sebagai tarawih. Sedangkan kata tarawih sendiri mulai diperkenalkan pada masa khalifah Umar bin Khattab.