Dari situlah awal mula kebiasaan tarawih berjamaah dilakukan sampai sekarang. Sedangkan kata tarawih sendiri berasal dari adanya jeda istirahat (tarwihah) setiap dua kali salam saat pelaksanaannya.
Salat Tarawih Minimal Berapa Rakaat?
Ibadah tarawaih merupakan salat sunah yang dilaksanakan pada malam hari di bulan Ramadan, dengan jumlah rakaat 8, 20 dan 36 rakaat.
Jadi minimal jumlah rakaatnya adalah 8 sesuai hadis berikut:
أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً
Artinya: "Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan selain Ramadan dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat sekali salam, maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir tiga rakaat." (HR Muslim)
Pembagian rakaat Tarawih umumnya dilakukan kelipatan 2 rakaat salam. Namun, ada juga yang menggunakan sistem 4 rakaat satu salam.
Salat Tawarih 4 rakaat tetap sah dilakukan, sebagaimana Rasulullah SAW juga pernah mengerjakannya. Ketentuan tersebut terdapat dalam penjelasan hadis sebelumnya.
Rasulullah SAW juga pernah melaksanakan tarawih lebih dari 4 rakaat lalu salam, sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini.
كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ ف الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ
Artinya: ”Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah dia selalu bangun malam hari, juga tatkala dia bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian dia melakukan salat malam atau Tarawih 9 rakaat yang dia tidak duduk kecuali pada rakaat yang kemudian membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan melakukan dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan salat lagi dua rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu', mutawatir).
Kontributor : Damayanti Kahyangan