- Josephine Bakhita diculik dan dijadikan budak sejak usia tujuh tahun.
- Ia mengalami penyiksaan hebat sebelum akhirnya mendapat kebebasan di Italia.
- Bakhita menjadi suster dan memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Ketika Legnani harus kembali ke Italia, Bakhita memohon agar boleh ikut. Ia takut ditinggalkan dan kembali jatuh ke tangan orang-orang kejam.
Perjalanan mereka berbahaya: ratusan kilometer melintasi padang pasir dengan unta. Namun akhirnya, mereka tiba di Italia, di sebuah pelabuhan bernama Genoa.
Di sana, Bakhita tinggal bersama keluarga baru, keluarga Michieli. Ia merawat seorang bayi kecil bernama Alice, yang akrab dipanggil Mimmina.
Selama beberapa tahun, hidupnya terasa lebih tenang. Namun ketika keluarga itu hendak kembali ke Sudan dan ingin membawanya lagi, Bakhita menolak. Hatinya mengatakan bahwa kali ini, ia tidak ingin dipaksa.
Ia tinggal sementara di sebuah biara milik para suster Kanossian di Venesia. Di tempat itulah, untuk pertama kalinya, Bakhita mengenal Yesus.
Para suster mengajarinya dengan sabar, penuh kelembutan. Bakhita merasa seolah akhirnya bertemu dengan Allah yang selama ini ia rasakan dalam hatinya, tetapi belum ia kenal nama-Nya.
Saat keluarganya yang lama menuntut agar ia kembali, perkara itu dibawa ke pengadilan. Pada tahun 1889, pengadilan Italia memutuskan bahwa perbudakan tidak pernah sah menurut hukum Italia.
Artinya, Bakhita tidak pernah menjadi budak secara hukum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar bebas.
Ia memilih tinggal bersama para suster.
![Santa Josephine Margaret Bakhita. [Sanctory]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/26/15142-santa-josephine-margaret-bakhita.jpg)
Pada awal tahun 1890, ia dibaptis dan menerima nama baru: Yosefina Margareta Fortunata. Beberapa tahun kemudian, ia mengikrarkan kaul sebagai suster Kanossian. Sejak saat itu, hidupnya diabdikan untuk melayani.
Ia tinggal di kota kecil Schio, di Italia utara, selama puluhan tahun. Ia bekerja sebagai juru masak, penjaga gereja, dan penyambut tamu.
Orang-orang mengenalnya karena senyumnya yang lembut dan suaranya yang menenangkan. Warga setempat memanggilnya dengan penuh sayang: Sor Moretta, suster berkulit cokelat.
Ketika perang melanda dan bom jatuh di sekitar kota, orang-orang merasa aman saat berada di dekatnya. Mereka percaya bahwa kehadirannya membawa damai.
Di masa tuanya, tubuhnya lemah dan penuh rasa sakit. Ia harus duduk di kursi roda. Namun senyumnya tidak pernah pergi. Jika ditanya bagaimana keadaannya, ia hanya menjawab dengan sederhana, “Seperti yang Tuhan kehendaki.”
Menjelang akhir hidupnya, kenangan masa kecilnya kembali muncul. Ia berbisik tentang rantai yang terlalu ketat, meminta agar dilonggarkan. Tak lama kemudian, ia kembali tenang.
Saat seseorang mengingatkannya bahwa hari itu adalah hari Sabtu, hari yang istimewa bagi Maria, wajahnya berseri. Dengan suara lirih namun penuh sukacita, ia berkata, “Bunda Maria… Bunda Maria…”
Itulah kata-kata terakhirnya.
Yosefina Bakhita wafat pada 8 Februari 1947. Ribuan orang datang untuk memberi penghormatan. Bertahun-tahun kemudian, Gereja mengakui kesucian hidupnya.
Ia dinyatakan sebagai santa pada tahun 2000. Seorang perempuan Afrika, yang pernah diperbudak, namun hatinya tetap merdeka.
Ketika suatu hari seorang murid bertanya apa yang akan ia lakukan jika bertemu orang-orang yang pernah menyiksanya, jawabannya sungguh mengejutkan.
Ia berkata bahwa ia akan berlutut dan mencium tangan mereka. Bukan karena melupakan luka, melainkan karena dari jalan yang gelap itulah ia akhirnya menemukan terang.
Oleh Sanctory