- Pakar gastroenterologi menjelaskan bahwa puasa dapat menyembuhkan maag fungsional, bukan maag organik yang ada luka fisik.
- Puasa membuat pola makan teratur dan mengurangi konsumsi makanan pemicu iritan yang mengganggu regenerasi lambung.
- Pengendalian diri dan peningkatan ketenangan jiwa saat puasa berdampak mengurangi hormon stres pemicu asam lambung berlebih.
Suara.com - Bagi penderita gangguan lambung atau maag, datangnya bulan suci Ramadan sering kali memicu kekhawatiran.
Ketakutan akan asam lambung yang naik karena perut kosong selama belasan jam menjadi alasan utama banyak orang merasa ragu untuk berpuasa secara penuh.
Namun, dunia medis justru mengungkap fakta yang berbanding terbalik.
Menurut para ahli, ibadah puasa jika dilakukan dengan benar justru dapat menjadi "obat alami" untuk menyembuhkan penyakit maag. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Prof. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, yang juga merupakan pakar gastroenterologi, memberikan penjelasan ilmiah di balik fenomena ini.
Membedakan Maag Fungsional dan Organik
Sebelum memahami bagaimana puasa menyembuhkan maag, Dokter Gastroenterologi Prof. Ari Fahrial Syam menjelaskan bahwa kita harus membedakan dua jenis penyakit maag.
Pertama adalah maag organik, di mana terdapat kelainan fisik pada lambung seperti luka dalam (tukak lambung) atau tumor. Penderita maag organik memang memerlukan konsultasi dokter sebelum berpuasa.
Kedua, dan yang paling banyak dialami masyarakat, adalah maag fungsional. Pada jenis ini, pemeriksaan medis tidak menunjukkan kelainan fisik pada lambung, namun pasien merasakan perih, mual, dan kembung.
Maag jenis ini biasanya dipicu oleh gaya hidup, pola makan tidak teratur, stres, serta konsumsi rokok dan kopi berlebih.
Nah, kelompok penderita maag fungsional inilah yang justru akan sangat terbantu dengan berpuasa.
Mengapa Puasa Bisa Menyembuhkan Maag?
Berdasarkan penjelasan Prof. Ari Fahrial Syam melalui laman resmi Info Sehat FK UI, ada tiga alasan utama mengapa puasa menjadi terapi penyembuhan bagi lambung:
1. Pola Makan Menjadi Lebih Teratur
Salah satu pemicu utama maag adalah jadwal makan yang berantakan.
Saat tidak berpuasa, banyak orang melewatkan sarapan, telat makan siang, atau makan camilan secara terus-menerus.
Saat berpuasa, pola makan justru menjadi lebih teratur, yaitu saat sahur dan berbuka. Dengan jadwal yang pasti, lambung mendapatkan waktu istirahat yang konsisten dan sekresi asam lambung menjadi lebih terkontrol.
2. Berkurangnya Konsumsi Makanan Pemicu (Irritant)
Tanpa kita sadari, saat hari biasa kita sering mengonsumsi camilan yang tidak sehat sepanjang hari.
Makanan berlemak, cokelat, keju, serta minuman seperti kopi, soda, dan kebiasaan merokok adalah pemicu utama naiknya asam lambung.
Saat berpuasa selama kurang lebih 13-14 jam, otomatis kita berhenti mengonsumsi bahan-bahan iritan tersebut.
Hal ini memberikan kesempatan bagi dinding lambung untuk melakukan regenerasi dan memulihkan diri tanpa gangguan zat kimia atau makanan yang sulit dicerna.
3. Faktor Pengendalian Diri dan Manajemen Stres
Maag fungsional sangat erat kaitannya dengan kondisi psikologis atau stres Prof. Ari menekankan bahwa esensi puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga pengendalian diri.
“Dengan pengendalian diri selama berpuasa diharapkan faktor psikis yang bisa mengganggu tersebut tidak muncul," terangnya.
Ketika seseorang berpuasa dengan niat tulus, tingkat ketenangan jiwa biasanya meningkat. Hal ini berdampak pada menurunnya hormon kortisol dan adrenalin yang memicu produksi asam lambung berlebih.
Ibadah puasa adalah momen detoksifikasi yang luar biasa, baik bagi raga maupun jiwa. Tak heran bila penyakit maag fungsional yang selama ini mengganggu bisa sembuh secara perlahan.
Jadi, bagi Anda penderita maag, jangan ragu untuk berpuasa. Konsultasikan dengan dokter jika perlu, dan jalani ibadah ini sebagai jalan menuju kesembuhan yang total.