Suara.com - Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di awal 2026 memicu ketegangan besar di Timur Tengah dan menarik perhatian dunia.
Banyak pihak kemudian menyoroti sikap dua negara besar yang selama ini dianggap dekat dengan Iran, yaitu China dan Rusia.
Rusia dan China kerap berada di posisi yang sama dengan Iran dalam banyak isu global, terutama ketika berhadapan dengan pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama antara Teheran, Moskow, dan Beijing semakin intens, baik di bidang ekonomi, energi, maupun militer.
Meski keduanya mengecam serangan tersebut, hingga kini tidak ada tanda keterlibatan militer langsung. Lantas, kenapa China dan Rusia tidak bantu Iran? Berikut penjelasan lengkapnya, seperti dikutip dari Foreign Affairs dan sumber lainnya.
Tidak Ada Perjanjian Pertahanan yang Mengikat
Salah satu alasan utama Rusia tidak turun langsung membantu Iran adalah karena tidak ada perjanjian pertahanan bersama yang mewajibkan Moskow untuk ikut berperang.
Rusia dan Iran memang telah menandatangani kemitraan strategis yang memperkuat kerja sama di berbagai bidang, termasuk pertahanan dan intelijen. Namun, kesepakatan tersebut bukanlah aliansi militer formal seperti yang dimiliki beberapa negara lain.
Dalam perjanjian itu, kedua negara hanya sepakat untuk tidak melakukan tindakan bermusuhan jika salah satu pihak sedang terlibat konflik. Artinya, Rusia tidak memiliki kewajiban hukum untuk memberikan bantuan militer ketika Iran diserang.
Selain faktor perjanjian, kondisi geopolitik yang sedang dihadapi Rusia juga menjadi pertimbangan penting.
Saat ini Rusia masih terlibat konflik berkepanjangan dengan Ukraina yang menguras sumber daya militer, ekonomi, dan diplomatik negara tersebut.
Jika Rusia memutuskan membantu Iran secara militer, hal itu berpotensi memperluas konflik dan bahkan memicu konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat serta negara-negara Barat lainnya.
Risiko tersebut tentu sangat besar bagi Moskow. Terlibat dalam dua konflik besar sekaligus bukan hanya akan memperberat tekanan internasional, tetapi juga bisa memperburuk situasi domestik Rusia.
Oleh karena itu, banyak analis menilai Rusia lebih memilih mempertahankan dukungan politik dan diplomatik kepada Iran tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran.
China Mengutamakan Stabilitas dan Diplomasi
Sementara itu, alasan China tidak bantu Iran secara militer berkaitan dengan prinsip kebijakan luar negeri Beijing yang selama ini menekankan non-intervensi.
China memang memiliki hubungan ekonomi yang sangat kuat dengan Iran. Kedua negara bahkan menandatangani perjanjian kerja sama selama 25 tahun yang mencakup sektor energi, perdagangan, dan investasi besar-besaran.
Meski begitu, Beijing secara konsisten menjaga batas dalam kemitraannya dengan Teheran, terutama dalam urusan militer. Pemerintah China cenderung menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata di luar wilayahnya.
Dalam konflik Iran kali ini, China lebih memilih mendorong dialog dan de-eskalasi. Beijing bahkan aktif berkomunikasi dengan berbagai pihak di kawasan untuk mencegah konflik meluas.
Pendekatan ini sejalan dengan strategi China yang ingin dipandang sebagai kekuatan yang menjaga stabilitas kawasan, bukan sebagai pihak yang memperkeruh konflik.
Selain prinsip politik, kepentingan ekonomi juga menjadi alasan penting di balik sikap China terhadap perang Iran.
Meskipun China merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran, hubungan energi Beijing di Timur Tengah sebenarnya jauh lebih luas. China mengimpor minyak dalam jumlah besar dari berbagai negara Teluk seperti Arab Saudi dan negara Arab lainnya.
Bahkan sebagian besar kebutuhan energi China berasal dari negara-negara tersebut, bukan dari Iran. Jika Beijing secara terbuka membantu Iran dalam konflik, hubungan dengan negara-negara Teluk berisiko terganggu.
Bagi China, stabilitas kawasan Timur Tengah jauh lebih penting dibandingkan memihak satu negara secara militer. Konflik besar di kawasan tersebut justru dapat mengancam jalur pasokan energi yang sangat vital bagi ekonomi China.
Fokus Strategis China dan Rusia Ada di Tempat Lain
Selain berbagai faktor di atas, baik China maupun Rusia juga memiliki prioritas strategis lain yang lebih mendesak.
China saat ini lebih fokus pada dinamika keamanan di Asia Timur, terutama terkait Taiwan dan persaingan geopolitik dengan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Mengalihkan perhatian militer ke Timur Tengah dinilai tidak memberikan keuntungan strategis yang cukup besar.
Sementara itu, Rusia masih berkonsentrasi pada konflik di Eropa Timur serta menjaga keseimbangan kekuatan dengan NATO. Membuka konflik baru di Timur Tengah justru dapat memperumit posisi Moskow di panggung internasional.
Demikianlah penjelasan lengkap terkait kenapa China dan Rusia tidak bantu Iran saat diserang oleh AS-Israel.
Kontributor : Dini Sukmaningtyas