Suara.com - Menjalankan puasa Ramadan merupakan sebuah ibadah wajib yang harus dilakukan setiap umat Islam yang telah memenuhi syarat.
Namun pada konteks melakukan perjalanan, hal ini dapat dikecualikan. Lalu berapa jarak perjalanan boleh tidak puasa yang benar menurut Islam?
Tidak sedikit aktivitas harian yang bisa menambah tantangan dalam berpuasa.
Meski memang pada akhirnya setiap tantangan ini menjadi berkah tersendiri, namun ada beberapa hal yang perlu diketahui ketika pada kondisi tertentu.
Dalam ajaran agama Islam, terdapat pengecualian kewajiban berpuasa untuk Anda yang melakukan perjalanan.
Jarak perjalanan, atau biasa disebut dengan istilah safar, memiliki perkiraan jarak yang cukup jelas untuk diikuti.
Perjalanan Jauh saat Bulan Ramadan, Boleh Tidak Berpuasa
Melansir NU Online, dalam Al-Quran surat Al-Baqarah Ayat 184, hal ini disebut dengan rukhsah bagi musafir. Bunyinya sendiri adalah sebagai berikut:
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan orang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Selain itu ada cukup banyak referensi untuk jarak perjalanan boleh tidak berpuasa. Mayoritas ulama menetapkan batas minimal sekitar 80 hingga 90 kilometer atau dalam ukuran 4 farsakh.
Pada mazhab lain, seperti pada mazhab hanafi, menetapkan jarak yang lebih jauh, yakni setara dengan 132 kilometer.
Seorang bisa saja tidak berpuasa jika sudah meninggalkan kota tempat tinggal saat waktu subuh.
Jika Anda berangkat setelah subuh, wajib berniat puasa dan tidak boleh membatalkan, kecuali dalam kondisi sangat berat.
Opsi bagi Musafir yang Melakukan Perjalanan
Sebenarnya, keringanan ini diberikan dan dapat menjadi opsi bagi mereka yang melakukan perjalanan atau musafir.
Dalam syariat Islam, musafir dinyatakan diberi pilihan untuk tetap berpuasa atau tidak berpuasa selama perjalanan dilakukan.
Jika memang kondisi perjalanan tidak berat, maka kebanyakan orang memilih untuk tetap berpuasa. Namun jika perjalanan terasa berat dan dapat mengganggu kondisi fisik, maka seorang musafir diperbolehkan berbuka.
Di kondisi tertentu, tidak berpuasa lebih dianjurkan agar tidak menimbulkan kesulitan atau membahayakan diri.
Dalam konteks modern, hal ini bisa mengacu pada perjalanan mudik yang dilakukan dengan kendaraan sendiri.
Jika puasa dipaksakan, maka bisa jadi kondisi fisik menurun dan justru meningkatkan risiko kecelakaan dalam perjalanan.
Kondisi ini yang kemudian dapat memberikan keringanan atas kewajiban puasa yang dilakukan.
Hikmah Keringanan Puasa bagi Musafir
Sebenarnya keringanan bagi musafir ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang penuh dengan kemudahan.
Syariat yang ada diturunkan tidak untuk memberatkan manusia, namun untuk memberikan kemudahan dalam menjalankan kehidupan beragama.
Keringanan ini mengajarkan keseimbangan antara menjalankan ibadah dan menjaga kondisi fisik. Selama berpuasa, Anda tidak dianjurkan memaksakan diri jika kondisi perjalanan dapat menimbulkan kesulitan yang berat.
Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam surat Al-Baqarah Ayat 185 yang berbunyi, "Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu."
Itu tadi sedikit penjelasan tentang berapa jarak perjalanan boleh tidak puasa yang disarankan. Semoga bermanfaat!
Kontributor : I Made Rendika Ardian