- Opor ayam bukan sekadar hidangan Lebaran, tetapi simbol kehangatan dan tradisi silaturahmi keluarga Indonesia.
- Kini, memasaknya semakin praktis tanpa mengorbankan cita rasa berkat inovasi bahan yang memudahkan proses di dapur.
- Tradisi ini juga dirayakan secara lebih luas melalui festival yang menghadirkan ribuan porsi opor sebagai wujud kebersamaan di momen Ramadan.
Suara.com - Lebaran tanpa opor ayam ibarat sayur tanpa garam—ada kekosongan yang sulit dijelaskan. Bagi masyarakat Indonesia, aroma gurih santan yang berpadu dengan rempah kunyit dan ketumbar bukan sekadar penanda waktu makan, melainkan mesin waktu yang membawa kita kembali ke kenangan masa kecil di rumah nenek.
Momen membelah ketupat dan menyiramnya dengan kuah opor yang kental adalah ritual sakral saat silaturahmi. Namun, bagi para ibu di dapur, menyajikan opor untuk keluarga besar sering kali menjadi tantangan tersendiri. Menjaga konsistensi rasa dan tekstur santan agar tidak pecah saat dipanaskan berulang kali memerlukan teknik dan kesabaran ekstra.
Praktis Tanpa Kehilangan Esensi
Di tengah modernitas, tradisi memasak opor kini bertransformasi menjadi lebih praktis tanpa mengorbankan kelezatan. Inovasi produk seperti Sasa Santan hadir sebagai solusi agar para ibu bisa lebih percaya diri di dapur. Dengan karakter yang gurih, creamy, dan stabil, memasak hidangan bersantan kini tak lagi identik dengan kerepotan yang menyita waktu.
“Harapannya, para ibu bisa lebih percaya diri menghidangkan menu andalan ini, sehingga momen silaturahmi bersama keluarga dan tamu terasa semakin hangat,” ungkap Nanda Rahmanu, Marketing Manager PT. Sasa Inti.
Kehangatan tradisi ini baru saja dirayakan secara masif melalui gelaran Sasa OPORasi Lebaran Food Festival yang berlangsung di Q-Big BSD City, Tangerang Selatan, pada Minggu (8/3). Acara ini bukan sekadar festival kuliner biasa, melainkan sebuah pembuktian kualitas dalam skala besar.

Berikut adalah poin-poin menarik dari kemeriahan festival tersebut:
- Simbolisme 1.447 Hijriah: Sebanyak 1.447 porsi opor ayam disajikan untuk masyarakat. Angka unik ini dipilih sebagai simbol doa dan perayaan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
- Rekor MURI: Perhelatan ini berhasil mencatatkan sejarah dengan memecahkan Rekor MURI untuk penyajian porsi opor ayam terbanyak dalam satu rangkaian kegiatan di satu lokasi.
- Uji Kualitas Tanpa Pecah: Melalui sesi Dapur OPORasi Lebaran, pengunjung menyaksikan langsung keunggulan Sasa Santan yang tetap kental dan meresap sempurna meski dipanaskan dalam durasi lama—menjawab kekhawatiran klasik para ibu tentang santan yang menggumpal.
- Paduan Religi dan Hiburan: Suasana semakin hangat dengan kehadiran Ustadz Subki Al-Bughury yang memberikan kajian tentang keutamaan Idul Fitri, serta pasangan selebritas Inul Daratista dan Adam Suseno yang menambah keceriaan festival.
Merayakan Kebersamaan
Bagi Sasa, pencapaian ini bukan sekadar angka di atas kertas sertifikat. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap budaya kumpul-kumpul masyarakat Indonesia.
“Bagi kami, 1.447 porsi opor ini bukan sekadar angka pencapaian rekor, tetapi cara sederhana untuk merayakan kebersamaan. Kami ingin siapa pun yang hadir bisa merasakan hangatnya momen berbuka bersama,” tambah Nanda Rahmanu.