Suara.com - Setelah melewati 30 hari bulan Ramadan, orang-orang muslim menyambut dengan bahagia akan datangnya bulan Syawal.
Tepat pada 1 Syawal atau biasa dikenal dengan Hari Lebaran atau Idulfitri, semua Muslim merayakan kemenangannya karena telah melewati 30 hari bulan Ramadan.
Setelah satu bulan penuh melaksanakan puasa Ramadan, dalam adat Jawa ada istilah bakda dua, yaitu bakda lebaran dan bakda kupat.
Bakda dalam bahasa arab berasal dari kata بعد yaitu berarti setelah. Jadi Bakda Lebaran adalah Hari Raya Idulfitri ketika seluruh umat Islam diharamkan untuk Puasa. Bakda Kupat adalah hari raya orang yang melaksanakan puasa Syawal selama enam hari.
Makna Syawalan
Puasa 6 hari di bulan Syawal ini merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW karena keutamaannya yang sangat besar. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR Muslim).
Umumnya masyarakat Indonesia menyelenggarakan syawalan H+7 dari hari raya Idulfitri.
Tradisi ini juga akrab dikenal dengan istilah Lebaran Ketupat yang berarti bentuk menyucikan diri atau menghapus dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia.
Dalam momen ini masyarakat Indonesia akan saling berkunjung ke rumah sanak saudara atau teman untuk saling meminta dan memberi maaf.
Berbagai kelompok masyarakat mempunyai ciri dan caranya masing-masing dalam memaknai Lebaran Ketupat.
Di beberapa tempat di Jawa, khususnya di Jawa Timur, sering dinamai sebagai Kupatan, Bakda Ketupat (Lebaran Ketupat) atau 'Kecilan' (Lebaran Kecil/Lebaran 'Kedua' Setelah 1 Syawal).
Biasanya seminggu setelah 1 Syawal, hampir setiap rumah menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah masak, ketupat tersebut bakal diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.
Sejarah Kupatan
Ketupat sebenarnya sudah ada sejak zaman Hindu-Budha di Jawa. Pada tahun 1600-an, Islam mulai menyebar di Jawa, ketupat diperkenalkan dengan filosofi bermakna.