Suara.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali mengguncang jalur energi dunia. Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi minyak global mendadak berada dalam sorotan setelah Iran membatasi akses pelayaran akibat konflik regional. Dampaknya langsung terasa, termasuk bagi Indonesia.
Dua kapal tanker milik Pertamina sempat tertahan dan memicu kekhawatiran publik soal keamanan pasokan energi nasional. Situasi yang dinamis itu pun memunculkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat. Lantas apakah saat ini kapal RI sudah boleh lewati Selat Hormuz? Simak penjelasan tentang fakta dan kabar terkininya berikut ini.
Fakta Kapal RI Sempat Tertahan, Ini Penyebabnya
![Iran memperingatkan bahwa harga minyak dunia akan mencapai 200 dolar AS per barel dalam waktu dekat akibat perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat dengan Israel. Foto: Selat Hormuz yang berada di antara Iran, Qatar dan Uni Emirat Arab. [Google Maps]](https://media.arkadia.me/v2/articles/triasrohmadoni/KzKmnItiQSaYpogjObe4iWJpH2Q03DVh.png)
Situasi bermula ketika Iran memberlakukan pembatasan akses di Selat Hormuz sebagai respons atas eskalasi konflik militer di kawasan, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Dampaknya, kapal-kapal yang dianggap berasal dari "negara musuh" langsung dilarang melintas. Sementara negara lain termasuk Indonesia, sempat berada dalam posisi tidak pasti.
Dua kapal tanker yang diketahui bernama Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan masih berada di kawasan Teluk Persia. Berdasarkan data pelacakan kapal, keduanya sempat tertahan di sekitar perairan Bahrain dan Kuwait.
Respons Iran Mulai Melunak
Kabar terbaru menunjukkan adanya perubahan kebijakan dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa akses mulai dibuka secara terbatas bagi negara-negara yang dianggap bersahabat.
Indonesia termasuk dalam daftar tersebut, bersama China, Rusia, dan India. Ini artinya kapal-kapal Indonesia kini diperbolehkan melintas meski dengan sejumlah syarat ketat.
Diplomasi RI Berbuah Hasil
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari langkah cepat pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama KBRI di Teheran melakukan komunikasi intensif sejak awal krisis.
Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela, menegaskan bahwa perkembangan ini merupakan hasil dari upaya diplomasi yang berkelanjutan.
"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran," ujarnya.
Meski demikian, ia belum memastikan kapan tepatnya kapal-kapal tersebut akan sepenuhnya keluar dari Selat Hormuz karena masih menunggu proses teknis.
Hal senada disampaikan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Ia menegaskan bahwa pemerintah terus menjalin komunikasi agar kapal Indonesia dapat berlayar dengan aman.
"Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz, tapi komunikasi terus kita bangun," kata Bahlil.
Syarat Ketat Kapal RI untuk Melintas

Meskipun izin sudah diberikan, Iran menetapkan sejumlah aturan yang harus dipatuhi: