Diklaim Ramah Lingkungan, Ekowisata Justru Berisiko Gagal Redam Emisi Karbon Global: Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 02 April 2026 | 19:30 WIB
Diklaim Ramah Lingkungan, Ekowisata Justru Berisiko Gagal Redam Emisi Karbon Global: Mengapa?
Ekowisata (Pixabay/Alfonso Cerezo)

Suara.com - Ekowisata kerap dipromosikan sebagai bentuk wisata berkelanjutan berbasis alam, mengajak orang menikmati lanskap, keanekaragaman hayati, sekaligus mendukung konservasi dan kesejahteraan masyarakat lokal. Namun, di balik narasi tersebut, muncul pertanyaan: seberapa besar kontribusinya dalam menekan krisis iklim?

Sebuah tinjauan penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal npj Climate Action menyoroti keterbatasan ekowisata dalam menangani masalah emisi karbon di sektor pariwisata.

Studi ini membantah argumen sebelumnya dalam jurnal Nature Climate Change, yang menyatakan bahwa ekowisata dapat menjadi mekanisme utama untuk mengurangi emisi karbon di industri tersebut.

Ketimpangan Antara Konservasi dan Emisi Transportasi

Destinasi ekowisata Indonesia - Monkey Forest, Bali (Dok. Instagram)
Destinasi ekowisata Indonesia - Monkey Forest, Bali (Dok. Instagram)

Dikutip dari Phys.org, para penulis studi, yang terdiri dari Professor Emeritus Ralf Buckley dari Griffith University, Professor Linsheng Zhong dari Chinese Academy of Sciences, dan Professor Stefan Gössling dari Lund University Swedia menegaskan bahwa ekowisata memang memberikan kontribusi positif pada aspek konservasi dan pengelolaan pengunjung.

Namun, pada dasarnya, manfaat tersebut tidak cukup besar untuk menutupi jejak karbon yang dihasilkan oleh operasional pariwisata skala besar, khususnya penerbangan jarak jauh dan hotel-hotel besar.

Berdasarkan studi kasus di Cagar Hutan Jiuzhaigou, Tiongkok, para peneliti menemukan bahwa keuntungan bagi iklim yang dihasilkan dari ekowisata di lokasi tersebut tidak sebanding jika dibandingkan dengan emisi yang dikeluarkan oleh wisatawan selama perjalanan udara menuju destinasi tersebut.

Risiko dan Hambatan

Profesor Buckley menjelaskan bahwa klaim mengenai kemampuan ekowisata dalam mendorong dekarbonisasi berisiko disalahgunakan secara politik. Risiko ini bisa muncul di sektor pariwisata dan penerbangan. Menurutnya, narasi ini bisa dijadikan alasan untuk menunda tindakan regulasi yang lebih tegas.

"Klaim-klaim ini sebenarnya dapat berfungsi sebagai dalih untuk menunda tindakan regulasi yang sebenarnya, membenarkan pertumbuhan emisi yang berkelanjutan, dan memungkinkan perambahan komersial lebih lanjut, atau perebutan lahan di dalam kawasan lindung publik," kata Profesor Buckley. 

Selain itu, para peneliti menyoroti beberapa hambatan struktural yang membuat sektor pariwisata sulit keluar dari sistem emisi tinggi, di antaranya masa pakai armada pesawat yang panjang, keterbatasan teknologi mesin pesawat saat ini, resistensi reformasi kebijakan (seperti penghapusan subsidi bahan bakar penerbangan), hingga sulitnya mengurangi permintaan perjalanan udara global.

Hal ini juga disuarakan oleh Profesor Buckley, "Hambatan struktural memang benar adanya, seperti masa pakai pesawat terbang, jenis mesin, tetapi berargumen bahwa ekowisata dapat mengimbanginya hanyalah alasan politik lain untuk mendorong lebih banyak pariwisata ke taman-taman nasional."

Kebutuhan akan Perubahan Kelembagaan

Laporan ini menyimpulkan bahwa meskipun ekowisata berhasil menciptakan dampak positif secara lokal, tapi skalanya terlalu kecil untuk memengaruhi total emisi karbon di sektor pariwisata global.

Dekarbonisasi yang efektif di seluruh industri dinilai memerlukan perubahan pada level kelembagaan, termasuk untuk meninjau kembali pengecualian pajak bahan bakar dan kebijakan subsidi. Tanpa adanya perbaikan menyeluruh pada sistem transportasi dan kebijakan energi, ekowisata akan sulit mengubah wajah industri pariwisata menjadi lebih ramah lingkungan.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan, Dorong Investasi Karbon

Indonesia-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan, Dorong Investasi Karbon

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:55 WIB

Aprilia X 250TH Motor Edisi Terbatas yang Punya Teknologi Pengereman Setara Tunggangan Jorge Martin

Aprilia X 250TH Motor Edisi Terbatas yang Punya Teknologi Pengereman Setara Tunggangan Jorge Martin

Otomotif | Rabu, 01 April 2026 | 15:10 WIB

Teknologi Penangkap Gas di Peternakan Bisa Picu Emisi Besar Jika Bocor, Bagaimana Solusinya?

Teknologi Penangkap Gas di Peternakan Bisa Picu Emisi Besar Jika Bocor, Bagaimana Solusinya?

News | Rabu, 01 April 2026 | 15:30 WIB

Terkini

Ulang Tahun ke-85, Mien R. Uno Luncurkan Buku Cermin Diri: Berisi Pesan untuk Generasi Muda

Ulang Tahun ke-85, Mien R. Uno Luncurkan Buku Cermin Diri: Berisi Pesan untuk Generasi Muda

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 22:31 WIB

Belajar Bahasa Inggris Bukan Sekadar Hafal Kosa Kata, Ini Tantangan yang Harus Disadari Orang Tua

Belajar Bahasa Inggris Bukan Sekadar Hafal Kosa Kata, Ini Tantangan yang Harus Disadari Orang Tua

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:52 WIB

Jangan Asal Pakai Skincare, Kulit Berjerawat Butuh Formula yang Tetap Jaga Lapisan Pelindung Kulit

Jangan Asal Pakai Skincare, Kulit Berjerawat Butuh Formula yang Tetap Jaga Lapisan Pelindung Kulit

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 20:07 WIB

4 Sunscreen Paling Murah untuk Mencerahkan Wajah dan Hempaskan Flek Hitam

4 Sunscreen Paling Murah untuk Mencerahkan Wajah dan Hempaskan Flek Hitam

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:15 WIB

31 Mei dan 1 Juni 2026 Libur Apa? Ini Bedanya agar Tak Salah Momen

31 Mei dan 1 Juni 2026 Libur Apa? Ini Bedanya agar Tak Salah Momen

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:15 WIB

Terpopuler: Sepatu Tanpa Tali dari New Balance hingga Adidas Buat Jalan Kaki Anti Pegal

Terpopuler: Sepatu Tanpa Tali dari New Balance hingga Adidas Buat Jalan Kaki Anti Pegal

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:30 WIB

Apa Makna Hari Raya Waisak bagi Umat Buddha?

Apa Makna Hari Raya Waisak bagi Umat Buddha?

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 15:15 WIB

5 Matras Yoga Anti Slip yang Nyaman Dipakai Olahraga, Banyak Dipuji Tidak Gampang Geser

5 Matras Yoga Anti Slip yang Nyaman Dipakai Olahraga, Banyak Dipuji Tidak Gampang Geser

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 14:16 WIB

Jadwal dan Susunan Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Jakarta, Ini Dresscode-nya

Jadwal dan Susunan Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Jakarta, Ini Dresscode-nya

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:36 WIB

Kenapa Pancasila Lahir pada Tanggal 1 Juni 1945? Ini Sejarah Perjuangannya

Kenapa Pancasila Lahir pada Tanggal 1 Juni 1945? Ini Sejarah Perjuangannya

Lifestyle | Jum'at, 29 Mei 2026 | 13:35 WIB