Mengapa Spesies Invasif Jadi Ancaman Serius bagi Alam Indonesia: Bagaimana Menanganinya?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 08 April 2026 | 16:35 WIB
Mengapa Spesies Invasif Jadi Ancaman Serius bagi Alam Indonesia: Bagaimana Menanganinya?
Ilustrasi Enceng Gondok Sebagai Salah Satu Spesies Invasif Asing (Pexels/Subhash )

Suara.com - Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Setiap provinsi memiliki berbagai spesies binatang dan tumbuhan yang khas.

Hingga saat ini, Indonesia memiliki sekitar 31.750 spesies flora dan sekitar 744.000 spesies fauna, sebagaimana disebutkan oleh Wakil Kepala BRIN, Prof. Amarullah Oktavian dalam sebuah artikel Universitas Gadjah Mada (6/4/2026). 

Namun, keanekaragaman hayati tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan, salah satunya adalah ancaman dari spesies invasif asing. Spesies invasif bisa berupa tumbuhan, hewan, maupun organisme lain yang secara sengaja ataupun tidak sengaja memasuki lingkungan yang bukan habitat aslinya. Kehadiran spesies ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan berpotensi menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati.

Dilansir dari World Wide Fund for Nature (WWF) (6/4/2026), spesies invasif biasanya masuk ke  sebuah lingkungan asing karena dibawa oleh manusia. S

elain itu, perubahan iklim juga menjadi salah satu penyebab perpindahan spesies ke wilayah yang tidak seharusnya mereka tempati. 

Dampak dari Spesies Invasif 

Spesies Invasif dapat diibaratkan seperti penjajahan terhadap suatu ekosistem karena dampaknya yang signifikan terhadap spesies lokal. Dampak yang ditimbulkan oleh spesies invasif cenderung besar, berbahaya, dan sulit dipulihkan. Dalam banyak kasus, mereka bisa menyebabkan kerusakan pada ekosistem yang baru mereka tempati. 

Dilansir dari Natural History Museum (6/4/2026), spesies pendatang ini menyebabkan perubahan habitat  dan mengurangi sumber daya serta makanan spesies lokal. Akibatnya, spesies lokal kesulitan bertahan hidup di habitatnya sendiri.

Selain itu, spesies invasif juga membawa parasit ataupun penyakit baru ke spesies setempat. Sama seperti manusia yang tidak memiliki antibodi terhadap virus atau penyakit baru, spesies lokal juga tidak memiliki pertahanan yang cukup terhadap penyakit atau virus baru. Sehingga spesies lokal rentan mengalami penurunan populasi. 

baca juga

Tidak hanya itu, terkadang para hewan setempat dijadikan mangsa oleh para spesies invasif asing yang membuat spesies lokal semakin langka.

Dampak lainnya tidak hanya dirasakan oleh keanekaragaman hayati, tetapi juga oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya hutan dapat terdampak secara ekonomi. Begitu pula, masyarakat adat yang tinggal di kawasan hutan dan sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem didalamnya. 

Upaya Menangani Spesies Invasif Asing 

Ancaman spesies invasif mendorong pemerintah untuk mengambil langkah dalam melindungi keanekaragaman hayati. Dilansir dari Food and Agriculture Organization of The United Nation (6/4/2026), Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Food and Agriculture Organization of The United Nation (FAO) meluncurkan proyek yang bernama Strengthening Capacities for Management of Invasive Alien Species (SMIAS) untuk memperkuat kapasitas negara dalam mengendalikan spesies invasif dengan dukungan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF).

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem hutan. 

“Dengan melindungi keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya, proyek ini bertujuan untuk juga memberi manfaat bagi banyak warga Indonesia yang mata pencaharian dan ketahanan pangannya bergantung pada hutan, termasuk Masyarakat Adat. FAO siap memberikan dukungan pengawasan, membantu Indonesia mewujudkan produksi yang lebih baik, gizi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang,” Ujar Rajendra Aryal. 

Nantinya, proyek ini akan difokuskan pada dua kawasan konservasi di Indonesia, yaitu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur. Kedua kawasan tersebut dipilih karena merupakan habitat dari spesies endemik penting.

Dengan adanya proyek ini, diharapkan permasalahan mengenai spesies invasif asing dapat segera terselesaikan, sehingga keanekaragaman hayati serta masyarakat yang bergantung pada ekosistem hutan dapat terus terjaga. 

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sisakan Sedikit untuk Kami: Seruan Anak-Anak di Ibadah Alam GKJ Baturetno

Sisakan Sedikit untuk Kami: Seruan Anak-Anak di Ibadah Alam GKJ Baturetno

Lifestyle | Rabu, 08 April 2026 | 11:57 WIB

Teja Paku Alam Merendah usai Berhasil Ukir 16 Clean Sheet

Teja Paku Alam Merendah usai Berhasil Ukir 16 Clean Sheet

Bola | Selasa, 07 April 2026 | 14:33 WIB

Bojan Hodak Puji Performa Teja Paku Alam, Lampaui Rekor Clean Sheet Andritany!

Bojan Hodak Puji Performa Teja Paku Alam, Lampaui Rekor Clean Sheet Andritany!

Bola | Selasa, 07 April 2026 | 16:05 WIB

Terkini

6 Shio Paling Beruntung 8 Juli 2026, Kelinci hingga Babi Diprediksi Bernasib Baik

6 Shio Paling Beruntung 8 Juli 2026, Kelinci hingga Babi Diprediksi Bernasib Baik

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 08:28 WIB

4 Posisi Duduk Terbaik Menurut Feng Shui agar Karier Meroket dan Bebas Stres

4 Posisi Duduk Terbaik Menurut Feng Shui agar Karier Meroket dan Bebas Stres

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 07:46 WIB

Zodiak Apa yang Akan Membawa Keberuntungan di Tahun 2026?

Zodiak Apa yang Akan Membawa Keberuntungan di Tahun 2026?

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 07:35 WIB

3 Parfum Lokal dengan SPL Kuat tapi Tidak Bikin Pusing, Rekomendasi Molita Lin

3 Parfum Lokal dengan SPL Kuat tapi Tidak Bikin Pusing, Rekomendasi Molita Lin

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 07:10 WIB

6 Shio yang Bernasib Baik Hari Ini 8 Juli 2026, Naga hingga Kuda Banjir Hoki

6 Shio yang Bernasib Baik Hari Ini 8 Juli 2026, Naga hingga Kuda Banjir Hoki

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 07:10 WIB

Hoki Besar! 3 Zodiak Ini Akhirnya Menemukan Kebahagiaan pada 8 Juli 2026

Hoki Besar! 3 Zodiak Ini Akhirnya Menemukan Kebahagiaan pada 8 Juli 2026

Lifestyle | Rabu, 08 Juli 2026 | 07:02 WIB

On Squad Race Debut di Jakarta, Lomba Estafet Urban Satukan Komunitas Pelari dalam Format Unik

On Squad Race Debut di Jakarta, Lomba Estafet Urban Satukan Komunitas Pelari dalam Format Unik

Lifestyle | Selasa, 07 Juli 2026 | 22:29 WIB

6 Shio Paling Beruntung pada 8 Juli 2026, Hoki Menghampiri Sepanjang Hari

6 Shio Paling Beruntung pada 8 Juli 2026, Hoki Menghampiri Sepanjang Hari

Lifestyle | Selasa, 07 Juli 2026 | 21:05 WIB

Apa Itu Teknik Baking dalam Makeup? Ini Caranya agar Riasan Tahan Lama

Apa Itu Teknik Baking dalam Makeup? Ini Caranya agar Riasan Tahan Lama

Lifestyle | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:45 WIB

Review Viva Velvet Cushion yang Cuma Rp70 Ribuan: Hasilnya Flawless dan Samarkan Pori-Pori

Review Viva Velvet Cushion yang Cuma Rp70 Ribuan: Hasilnya Flawless dan Samarkan Pori-Pori

Lifestyle | Selasa, 07 Juli 2026 | 20:35 WIB

×